Kamis, 03 Agustus 2017

Ojeg Online Sama Saja Dengan Ojeg Pangkalan, Kata Siapa Berbeda?


Saat pertama kali Ojeg Online diperkenalkan di bumi Jakarta, sempat terpikir bahwa perubahan itu akan datang. Salah satu point of interest atau daya tarik yang dipromosikan oleh pengelola taxi beroda dua via aplikasi ini adalah para pengendara mereka sudah mendapatkan pelatihan tentang tata tertib berlalu lintas.

Dengan begitu dikesankan kalau para anggota ojeg online, selain lebih rapih karena berseragam, juga lebih tahu aturan di jalan raya dan mengutamakan keselamatan para penumpangnya.

Setelah beberapa waktu kesan tersebut sirna. Tidak ada bekas sama sekali.

Selain seragamnya yang berwarna-warni cerah, tidak ada yang berbeda antara ojeg online dengan ojeg pangkalan. Mereka sama terutama dalam tingkah laku berkendara.

Melanggar lampu merah, menerobos trotoar, ngebut, parkir sembarangan dan masih banyak lagi tingkah laku buruk yang dilakukan para pengendara ojeg online. Hal itu tidak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para ojeg pangkalan dan para pemotor.

Persis. Tidak berbeda sama sekali.

Jadi, berapapun biaya promosi yang dilkeluarkan oleh Grab, Go, atau jenis-jenis transportasi berbasis aplikasi lainnya, hal itu tidak menjamin apa yang ditemukan di lapangan sesuai. Biaya tersebut hanya untuk menghasilkan citra saja dan bukan menyediakan apa yang dipromosikan di lapangan.

Foto di atas adalah contohnya. Terlihat sekali jaket-jaket berwarna hijau yang biasa dipergunakan pengendara ojeg online sedang menunggu di luar batas yang ditentukan pada saat lampu merah sedang menyala.

Tidak perlulah dijelaskan seharusnya dimana mereka menunggu karena sejak SD hingga dewasa pun sudah diketahui apa gunanya lampu merah.

Ini hanya satu foto saja dari ribuan kejadian yang terlihat hanya di kawasan Jalan Wahid Hasyim di depan Hotel Grand Cemara. Bayangkan berapa banyak kejadian yang terjadi di seluruh Jakarta.

Tidak akan terhitung.

Artikel Terkait