Senin, 31 Juli 2017

Mengapa Tukang Sayur Keliling Bisa Bertahan dan Tetap Diminati Ibu-Ibu


Pernahkah kita menyadari kalau kaum ibu sering misuh-misuh dan gelisah saat orang ini tidak datang? Mereka bisa menggerutu tak kunjung henti dan terkadang membuat telinga terasa gatal. Padahal yang ditunggunya bukan pria ganteng dan wangi ala bintang film. Justru yang ditunggunya biasanya berkeringat dan bau matahari karena terlalu banyak berjalan.

Tahukah siapa yang dinantinya? Tukang sayur keliling.

Bisa dikata mereka adalah idola para ibu rumah tangga. Ketidakhadirannya bisa membuat banyak wanita senewen.

Tentu saja para ibu senewen. Kalau para tukang sayur keliling absen, bisa jadi suami dan anak-anak mereka hanya disuguhi telur dadar atau lebih buruk lagi Indomie, yang mereka tahu kalau keseringan bisa berbahaya. Keluarganya bisa kekurangan gizi dan protein.

Sesuatu yang sangat tidak diinginkan kaum ibu karena berarti mereka tidak bisa menjalankan tugas dengan benar.

Padahal, mereka bisa saja dengan mudah menyalakan sepeda motor atau naik angkutan umum untuk ke mall atau supermarket terdekat, tetapi masih banyak sekali kaum ibu yang lebih suka berbelanja di tukang sayur keliling daripada di mall yang nyaman.

Mengapa bisa demikian?

Bagaimanapun, manusia akan ada rasa malas dan capek untuk terus pergi keluar rumah. Rumah adalah sebuah zona nyaman bagi ibu rumahtangga. Disanalah sentra kehidupan mereka.

Bukan berarti mereka tidak mau keluar rumah, tetapi rumah menawarkan banyak hal yang tidak bisa ditawarkan oleh sebuah mall, seperti kebebasan melakukan apa saja. Para ibu bisa memasak sambil menonton sinetron kesayangannya, memasak sambil terkadang chatting dengan tetangga, dan masih banyak hal lainnya yang bisa dilakukan selama berada di rumah. Mereka juga bisa menjadi lebih efisien.

Mall atau supermarket memang nyaman dan menyenangkan, tetapi mereka tidak bebas. Meninggalkan rumah untuk pergi ke mall atau supermarket berarti mereka meninggalkan banyak cucian baju yang belum dijemur atau tumpukan bahu yang belum disetrika.

Sesuatu yang mereka tidak inginkan karena hal itu berarti tidak akan tersedia baju rapih untuk suami atau seragam sekolah anak mereka.

Itulah yang menjadi alasan mengapa tukang sayur keliling selalu menjadi salah seorang yang paling ditunggu oleh kaum ibu. Tidak hadirnya para penjaja sayuran keliling ini bisa berakibat banyak bagi kehidupan sebuah keluarga, meski terkadan para suami dan anak tidak menyadari hal itu.

Para tukang sayur keliling menawarkan efisiensi waktu dan membuat para ibu bisa melakukan tugasnya dengan efisien, dan tetap bisa merasa nyaman.

Sesuatu yang banyak ditiru oleh banyak supermarket atau minimarket modern yang menawarkan jasa delivery service atau jasa pengantaran bagi belanjaan para ibu.

Tetatpi, bisnis retail modern masih belum bisa menggantikan peran para tukang sayur keliling karena kebiasaan kaum ibu sendiri. Kaum ibu terkenal suka "memilih", tentunya agar bisa memberikan yang terbaik bagi keluarganya, sesuatu yang tidak dimungkinkan kalau belanja via telpon atau online. Dan satu lagi, para membeli sayuran dari pedagang keliling juga menyalurkan naluri kaum wanita untuk "menawar" dan lagi-lagi tidak bisa disediakan oleh pusat perbelanjaan modern yang menawarkan jasa delivery service.

Dan, kaum ibu sangat banyak sekali.

Itulah yang membuat para tukang sayur keliling masih bisa bertahan di zaman modern seperti sekarang ini. Mereka memiliki sesuatu yang belum bisa digantikan dengan cara belanja modern.

Mungkin suatu waktu, tetapi tidak untuk saat ini.



Kamis, 27 Juli 2017

Jalanan di Jakarta Menunjukkan Orang Kaya Tidak Selamanya Tahu Aturan


Masih banyak orang beranggapan bahwa seorang yang memiliki mobil berarti adalah orang kaya. Biasanya orang kaya berarti berpendidikan. Dan, orang berpendidikan biasanya paham dan tahu aturan.

Benar juga sih kalau dipikir. Harga mobil murah merek tidak terkenal seperti Wuling saja sudah mencapai 130 juta rupiah dan itu tipe paling standar. Tidak salah juga karena seseorang yang memiliki uanh sebanyak itu biasanya punya posisi di pekerjaannya yang biasanya dicapai karena ia memiliki kepandaian atau kepintaran, bahkan mungkin gelar berderet.

Susah dibantah juga kalau orang-orang seperti itu dianggap tahu aturan. Bagaimana tidak, mereka berarti bersekolah lebih lama dan pandai berteori. Mereka pasti banyak membaca tentang banyak hal, termasuk betapa pentingnya aturan bagi sebuah masyarakat beradab.

Sayangnya, hal itu hanya sebatas omongan saja.

Kenyataannya, jalanan di Jakarta, ibukota Indonesia, kota termodern, justru menunjukkan fakta yang lain. Banyak orang kaya tidak tahu aturan, bahkan dalam hal-hal yang paling sederhana dan kecil saja.

Contohnya, Tanda Dilarang Parkir. Maksudnya sudah jelas sekali, simbol huruf "P" yang dicoret berarti kendaraan apapun tidak boleh disimpan atau berdiam di area itu.

Semudah dan sesederhana itu. Rasanya tidak sulit untuk dimengerti.

Fofo di atas diambil di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, dekat stasiun Gondangdia di depan Gedung MNC. Sebuah contoh kecil bahwa jalanan di Jakarta menyodorkan fakta kalau orang kaya tidak selamanya tahu aturan, mereka bahkan seringkali leboh tidak tahu aturan dibandingkan yang tidak memiliki mobil.


Rabu, 26 Juli 2017

Bolehkah Membawa Sepeda Ke Atas Commuter Line ? YA dan TIDAK

Bingung? Jangan lah. Sederhana saja. Memang PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek) atau si KRL (Kereta Rel Listrik) membuat batasan tentang membawa sepeda ke atas Commuter Line.

Mereka paham betul bahwa, meski masih sedikit, sudah ada orang-orang yang begitu peduli lingkungan dan ingin menerapkan gaya hidup ramah ingkungan dalam kehidupan mereka. Termasuk dalam urusan transportasi. Biasanya para komuter pengguna jasa si CL akan melanjutkan perjalanan ke kantor entah dengan ojeg, bajaj, bus, tetapi orang-orang idealis ini ingin mereka tetap berpartisipasi dalam mengurangi polusi udara dimanapun berada.

Orang-orang seperti ini ingin tetap bisa melakukan konsep "Bike to Work" atau "bersepeda ke kantor".

Jadi tentu saja, PT KCJ pun ingin ikut menunjang pemikiran sehat dan baik seperu itu.

Di sisi lain, tentunya membawa sepeda ke atas kereta komuter juga bisa menimbulkan masalah kenyamanan dan keamanan bagi penumpang lain. Sepeda akan memakan tempat dan belajar dari pengalaman semasa masih disebut KRL, penumpang akan merasa tidak nyaman sekali.

Sebagai kompromi, mereka membuat peraturan yang bisa diterjemahkan sebagai BOLEH, tetapi di saat lain berarti TIDAK BOLEH bagi penumpang membawa sepeda ke atas Commuter Line.

Tanda ini menjelaskan yang mana yang boleh dan yang mana yang tidak.



1. TIDAK BOLEH : kalau yang dibawa adalah sepeda biasa , ukuran panjangnya akan menyulitkan banyak penumpang lain

2. BOLEH : kalau sepeda itu bisa dilipat. Sepeda dianggap sebagai barang bagasi dimana ukuran maksimumnya adalah 100 cm X 40 cm X 30 cm

Apakah ada yang memanfaatkan fasilitas ini? Ada. Sangat sedikit tetapi ada. Seorang pria yang berasal dari Jakarta (entah Jakarta sebelah mana), rutin turun di stasiun Cilebut sambil menenteng sepeda lipat yang bisa dirakit dengan cepat.

Dengan berpakaian ala pesepeda, setiap hari ia akan merakit sepedanya kemudian menggowesnya ke kantor.

Sebuah hal yang membuat saya terkagum-kagum.Semoga saja semakin banyak orang yang akan mengikuti langkahnya suatu hari nanti.

Jumat, 21 Juli 2017

Bisakah LIKE di Facebook Menyembuhkan Penyakit? Ataukah Sekedar Pamer Kesedihan Saja?

Boleh bertanya sejenak? Hal kecil saja dan semakin hari semakin banyak ditemui di media sosial terkemuka, Facebook.

Pertanyaannya " Apakah LIKE di Facebook bisa menyembuhkan penyakit seseorang?"


Setahu saya, yang bisa menyembuhkan penyakit, secara duniawi adalah obat dan penanganan dokter. Ini tanpa mengulik secara religius karena bagaimanapun keyakinan seseorang tidak boleh dipermasalahkan.

Apakah memang ada metode baru yang dikeluarkan oleh Marc Zuckerberg sehingga pengobatan penyakit bisa dilakukan via medsos ciptaannya itu? Sudah coba untuk mencari pengumuman tentang hal itu di dunia maya, tetapi tetap saja tidak ketemu.

Lalu, mengapa banyak orang Indonesia sepertinya gemar sekali memajang status memelas ketika anak, suami, teman, istri, temannya teman, kakek, nenek, dan sebagainya saat mereka sedang menderita karena sakit?

Mungkinkah kalau LIKE atau emoticon yang terkumpul semakin banyak bisa mengurangi rasa sakit yang dialami? Mungkinkah ketika ribuan orang memencet ikon Like, atau sad, atau sejenisnya, penyakit akan takut dan segera kabur?

Terus terang, sepertinya harus dilakukan penelitian yang lebih mendalam lagi. Kalau bisa begitu, tentunya akan banyak penyakit yang bisa disembuhkan dengan mudah dan murah.

Semua orang akan senang. Keluarga yang sakit akan lega jarena orang yang disayanginya sehat kembali. Pemerintah akan senang karena dana BPJS bisa dialihkan untuk pembangunan jembatan dan infrastruktur lainnya. Paling yang manyun para dokter dan Rumah Sakit karena jasa mereka tidak diperlukan lagi.

Tetapi, benarkah bisa seperti itu?

Ataukah, yang memasang status begitu, apalagi menyebarkannya ke berbagai komunitas memiliki niat lain?

Niat yang kerap hadir karena keinginan manusia untuk dikenal dan eksis di zaman sekarang semakin tak terkontrol. Niat untuk pamer dan mengemis simpati dengan menjual kesusahan yang dialaminya.

Siapa sih yang tidak akan bersimpati pada orang yang sakit? Bahkan yang bermusuhan sekalipun sebisa mungkin akan ikut bersimpati.

Kalau itu niatnya, rasanya sudah kebangetan saja. Demi sekedar dikenal orang, eksis, dan dapat LIKE di FB mereka sampai harus memelas di hadapan orang-orang tak dikenal demi sekedar tabda jempol dan ucapan "Semoga lekas sembuh".

Padahal orang sakit butuh perhatian full dari orang-orang di sekitarnya. Butuh doa dari orang-orang yang menyayanginya dan perhatian. Bukan untuk dipamerkan kepada khalayak yang mungkin sama sekali tidak pernah ditemuinya.

Daripada memajang foto anggota keluarga yang sakit dan kemudian menghitung LIKE, bukankah sebaiknya berdoa dan menjaga yang sakit atau mencari obat.

Itu setahu saya yang sama sekali belum pernah mendengar, bahkan gosip sekalipun kalau memasang status keluarga yang sakit bisa menyembuhkan penyakit mereka.

Mungkin ada yang sudah menemukan hal tersebut? Silakan sharing agar saya tidak menganggap mereka sebagai orang narsis yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan Like dari Facebook.

Penguin Setia Ini Menempuh 8000 KM Setiap Tahun Untuk Mengunjungi Orang Yang Menyelamatkannya

Penguin tidak berbeda dengan merpati dan sangat setia kepada pasangannya. Penguin yang satu ini menjadi spesial karena kesetiaannya bukan kepada sesama penguin, tetapi kepada seorang manusia.

Namanya Dindim. Ia ditemukan oleh seorang nelayan bernama Joao Pereira de Souza di sebuah pantai Rio de Janeiro, Brasil, pada tahun 2011 terjebak di pantai yang tertutup tumpahan minyak. Kasihan kepada nasib sang satwa, Joao membawanya ke rumah dan merawatnya.

Butuh beberapa bulan untuk si penguin, yang kemudian diberi nama Dindim menjadi sehat sedia kala. Joao kemudian melepaskannya ke alam liar dan tidak berharap untuk berjumpa kembali.



Tidak diduga beberapa bulan kemudian, penguin yang sama, Dindim kembali ke pantai dimana ia diselamatkan nyawanya dan mengikuti Joao pulang ke rumah.

Padahal habitatnya berada di pantai sekitar Argentina atau Chili yang berjarak 8000 kilometer dari Rio de Janeiro.

Setiap tahunnya, Dindim menghabiskan waktu setidaknya 8 bulan bersama Joao. Ia akan tinggal di rumah sang nelayan, tidur di pangkuannya, minta dimandikan, persis seperti anak kecil. Ia akan datang pada bulan Juni dan kemudian pulang ke habitatnya setiap February untuk berkembang biak,

Sudah lebih dari 5 tahun hal ini dilakukan oleh sang penguin untuk bertemu dengan orang yang menyelamatkannya.

(Sumber : www.mirror.co.uk)

Menghindari Membuat Foto Yang Sepi dan Kosong


Foto sepi dan kosong, itu istilah yang saya pergunakan untuk jenis foto seperti di atas. Foto tipe seperti ini banyak dibuat oleh mereka-mereka yang sedang berwisata.

Terkagum pada keindahan alam yang ada di hadapannya, biasanya orang akan cenderung menekan tombol shutter release secara refleks. Mereka ingin mengabadikan apa yang idrasa dan dilihat serta ingin orang ikut merasakan apa yang dirasakannya saat melihat pemandangan seperti ini.

Sayangnya, kebanyakan setelah kembali ke "alam nyata" dan lepas dari biusan keindahan yang dilihatnya, barulah mereka kecewa dan menyadari bahwa hasil fotonya tidak mencerminkan apa yang dilihat dan dirasanya.

Mereka lupa satu hal.

Perasaan keindahan itu lahir karena manusia punya rasa, sedangkan kamera tidak. Kamera tidak bisa menampilkan rasa.

Itulah kenapa seorang fotografer biasanya akan berdiam diri saat melihat hal seperti ini. Jari telunjuk mereka akan lepaskan dari tombol shutter dan kemudian menikmati saja pemandangan indah yang disajikan alam di hadapannya.

Barulah setelah perasaan itu mereda, mereka akan mengangkat kembali kameranya, dan kemudian melakukan satu hal.

BERPIKIR.

Yap. Fotografi juga perlu berpikir. Tidak bisa dilakukan tanpa memutar otak karena disana ada ide, fokus, obyek, dan banyak hal lainnya.

Salah satu yang dipikirkannya adalah apakah pemandangan indah yang dilihatnya harus dijadikan subyek utama atau latar belakang saja. Seorang landscaper akan menjadikannya subye, tetapi fotografer jalanan, seperti saya akan menjadikannya latar belakang. Keduanya akan memerlukan teknik yang berbeda.

Nah, foto sepi dan kosong seperti di atas, tidak menyenangkan untuk dilihat, bahkan bagi saya sendiri. Tidak ada jiwa. Saya merasa bahwa pemandangan itu bagus, kalau ada sedikit tambahan pelengkap sehingga memberikan sedikit "jiwa" di dalam fotonya.

Untuk itulah, saya memanfaatkan beberapa orang pekerja yang akan menuju lokasi tempat kerjanya sebagai tambahan dalam foto. Hasilnya :


Tidak lagi kosong. Ada jiwa dalam siluet sosok manusia di dalamnya.

Yang perlu dilakukan hanya menunggu pada satu titik dimana latar belakang dianggap yang terbaik dan kemudian membiarkan obyek pelengkapnya lewat dengan sendirinya. Menunda beberapa detik hingga sang pekerja berada pada tempat sesuai teori rule of thirds.

Menunggu, bersabar, dan jeli melihat situasi. Hal itu akan membantu menghindari foto yang sepi dan kosong.

Kamis, 20 Juli 2017

Entah Kenapa Lantai Dasar Stasiun Gondangdia Belum Juga Dimanfaatkan



Agak bingung juga. Sudah lumayan lama, setidaknya 2-3 tahun, sejak lantai dasar Stasiun Gondangdia, Jakarta dibersihkan dari kios para pedagang.

Banyak rumor saat itu beredar, selain karena demi meningkatkan pelayanan dan kenyamanan para penumpang, juga di lokasi tersebut akan dirapikan dan dibuat menjadi perkantoran.

Kabar yang menyenangkan tentunya karena kalau ada perkantoran suasana di lantai dasar tidak akan sekumuh saat kios-kios pedagang mendominasi. Lebih nyaman pastinya.

Sayangnya, hingga saat ini, ternyata tidak ada perkembangan pasti tentang kelanjutan dari "pembersihan" itu.



Lantai dasar stasiun Gondangdia masih saja kosong. Lahan bekas kios masih sama seperti sehabis pembersihan pedagang selesai. Terlihat sisa tiang-tiang bekas kios. Hanya saja, agak tertutup karena di sekitar lokasi ditutupi papan dan terlihat lebih rapi.

Sayangnya, ada satu yang tetap sama.

GELAP.

Karena aliran listrik yang dulu mengalir ke kios-kios dicabut, maka di area tersebut tidak ada penerangan. Alhasil, suasananya menjadi gelap.

Soal keamanan bukan masalah karena petugas rutin melakukan patroli dan pengawasan agar area tersebut tidak digunakan untuk sesuatu yang "tidak benar".


Sayang saja. Lahan di Jakarta sudah semakin sulit didapat dan harga sewa perkantoran per meter persegi juga terus melambung.

Bayangkan saja, jika area yang luasnya melebihi 5000 meter persegi itu disewakan, pastilah pendapatan PT KAI makin bertambah. Ujungnya kalau pemasukan bertambah, modal untuk membangun perkereta apian juga makin banyak. Penumpang juga beruntung karena tentunya pelayanan akan semakin baik.

Tetapi, yang pasti satu hal. Jika area di lantai dasar stasiun Gondangdia sudah dimanfaatkan, suasana disana tidak gelap dan muram lagi. Bagaimanapun tidak enak melihat suasana tersebut meski tidak pernah nongkrong disana.

Pasti lebih enak kalau terang dan ada aktifitas manusia.

Belilah Makanan Sebelum Masuk Stasiun


Para komuter Jabodetabek pengguna jasa Commuter Line yang dulunya bernama KRL (Kereta Rel Listrik) tentunya sudah mafhum tentang dua hal.

Yang pertama pulang kerja adalah waktu dimana perut akan terasa keroncongan. Bekerja menguras tenaga dan pikiran di tempat kerja adalah sesuatu yang menghabiskan persediaan energi dari makan siang. Apalagi, bagi yang lupa mengisi perut di jam istirahat karena terlalu fokus pada pekerjaan, perut akan  mulai mengeluarkan sinyal minta diisi.

Yang kedua dan mulai bisa diterima oleh para pengguna jasa si ulat besi adalah kenyataan bahwa di dalam stasiun tidak lagi ada yang namanya warung dan di atas kereta tidak ada lagi pedagang makanan dan minuman yang bersliweran. Sejak diambil alih oleh PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek), semua stasiun di bawah pengelolaannya diharuskan bebas dari semua itu dan khusus hanya penumpang (serta petugas tentunya).

Hak untuk berdagang di dalam stasiun hanya disediakan bagi beberapa kafe dan gerai seperti Roti-O, Starbuck, atau mereka yang mampu membayar sewa, yang tentunya tidak murah.

Bagaimana memecahkan masalah perut lapar saat di dalam stasiun? Bukan tidak ada, tetapi melihat yang tersedia biasanya menyajikan pun adalah penganan orang bule, roti dan sejenisnya. Tidak semua lidah bisa menerima. Lagi juga, pasti bosan rasanya makan yang itu itu saja setiap hari.

Pemecahannya mudah saja.

Belilah makanan sebelum masuk stasiun.

Banyak pedagang makanan menyadari kebutuhan para pengguna kereta. Meskipun mereka dilrang untuk masuk ke area stasiun, banyak wilayah stasiun yang berhimpitan dengan jalan dan area publik. Mereka sering menyandarkan gerobak atau sepeda merea ke pagar stasiun.

Dengan begitu mereka terhindar dari patroli petugas dan pada saat bersamaan tetap bisa melakukan transaksi dengan pembeli di area stasiun.


Jangan tanya soal melanggar aturan atau tidak. Kenyataannya berdagang di area publik pun melanggar perda, apalagi di jalan.

Ini hanya sebuah gambaran dari apa yang biasa lakukan oleh para pengguna CL setiap harinya di kala perut sudah tidak bisa kompromi minta diisi. Sebuah kebiasaan baru yang terbentuk setelah penertiban pedagang di stasiun gencar dilakukan.

Nah, kalau sudah beli, pastikan makan sebelum naik ke atas kereta karena di dalam kereta penumpang tidak diperkenankan makan atau minum.

Lagipula, tidak enak makan sambil berdesak-desakan. Bumbu siomay bisa saja masuk ke dalam hidung dalam situasi demikian.


Rabu, 19 Juli 2017

Dua Video Ini Menggambarkan Dengan Baik Perubahan Yang Terjadi pada KRL Indonesia

Banyak orang yang mengatakan bahwa pelayanan Commuter Line, atau si kereta komuter Jabodetabek asuhan PT KCJ (KAO Commuter Jabodetabek) kurang manusiawi. Biasanya, veteran pengguna KRL seperti saya langsung menduga bahwa yang berkata demikian adalah "orang baru" yang belum lama naik KRL.

Alasannya?

Dua buah video yang ditemukan di Youtube ini menggambarkan dengan jelas kenapa para pengguna CL, kode untuk Commuter Line berpendapat begitu.

KRL Versi 2011



 

Commuter Line versi 2017




Bisa lihat bedanya?

Mulai dari tidak ada pintu hingga kereta yang tidak akan berangkat sebelum pintu tertutup. Kedisiplinan penumpang dan suasana di dalam kereta, semua menunjukkan bahwa Commuter Line sudah lebih manusiawi dibandingkan 11 tahun yang lalu.

Memang, masih banyak ruang untuk perbaikan, dan hal itu terlihat sedang dilakukan oleh pengelola KRL Jabodetabek ini.

Tentunya, sebagai penumpang dan warga negara yang baik, kita harus selalu memberikan kesempatan untuk berubah pada orang lain. Apalagi perubahan itu sedang berlangsung.

Hanya orang manja saja yang mengatakan Commuter Line tidak manusiawi karena dimanapun kereta komuter akan tetap padat dan sesak. Hanya mereka yang tidak pernah mengalami lika liku kehidupan KRL di masa lalu saja yang berani sombong mengatakan Commuter Line tidak manusiawi.

Selasa, 18 Juli 2017

Benarkah Anda Peduli Lingkungan? Maukah Anda Memungut dan Membuang Sampah Yang Dbuang Sembarangan?


Banyak sekali orang yang mengatakan kalau dirinya peduli lingkungan. Mereka berteriak dan menulis status-status di media sosial yang mencerminkan bahwa mereka adalah kaum pembela lingkungan. Tidak sedikit dari mereka yang bergabung dalam organisasi-organisasi penggiat kepedulian terhadap alam dan lingkungan.

Sebuah hal yang menggembirakan tentunya, mengingat masih begitu rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia tentang hal ini.

Tetapi, ada sebuah lirik lagu yang membuat saya masih ragu tentang hal itu. Liriknya seperti ini

" Tak perlu kau katakan semua itu, cukup tingkah laku. Sekarang apalah artinya sayang kalau hanya di bibir saja. Cinta itu bukanlah main-mainan tapi pengorbanan"
Sebuah lagu lama tentang cinta terhadap seseorang, dan bukan lagu khusus tentang masalah pelestarian lingkungan.

Lagu ini mengingatkan bahwa disaat kita mencintai, menyayangi, atau peduli terhadap sesuatu, bukan kata-kata yang penting, tetapi tindakan dan tingkah laku yang dilakukan adalah segalanya. Bukan hanya apa yang lidah katakan.

Nah, pertanyaannya, sederhana saja, dalam kaitannya dengan lingkungan, kalau.. andaikan, perumpamaan saja, Anda melihat tiga gelas plastik seperti foto di atas di jalanan, apa yang akan Anda lakukan?

  1. Mendiamkan
  2. Memungut dan kemudian membuangnya ke tempat sampah
Kenyataannya ratusan orang yang melihat tiga gelas plastik ini, ternyata melakukan yang nomor 1. Ratusan dan bukan cuma satu dua orang saja. Bahkan sebelum saya memungut dan membuangnya ke tempat sampah, tiga gelas itu tergeletak selama beberapa lama.

Lain di mulut, lain di hati, lain pula di tingkah laku.

Ketiga gelas plastik murah ini, memang hal kecil bagi banyak orang, tetapi sebenarnya menguji sampai dimana kita sebagai manusia, yang katanya peduli lingkungan mau berkorban demi sebuah idealisme tentang merawat dan menjaga lingkungan.

Cinta selalu butuh pengorbanan. Bukan hanya materi, tetapi juga waktu, dan tenaga. Maukah Anda mengorbankannya sedikit saja? Hanya butuh beberapa detik saja untuk mengambil dan berjalan ke tempat sampah.

Sayangnya, tidak banyak orang yang mau mengerjakannya.

Memang, kita bukanlah petugas kebersihan dan tidak digaji untuk melakukannya, tetapi kalau memang rasa cinta dan sayang itu ada, seharusnya tidak dibayar pun kita akan melakukannya. Tentu, tidak diharapkan Anda mengorbankan segalanya hanya demi memunguti hasil kebodohan orang lain, sama sekali tidak. Tetapi, jika kita melakukannya paling tidak ada satu dua sampah yang akan berada di tempatnya.

Hal kecil, tetapi tetap membantu.

Sedihnya, ternyata rupanya cinta banyak orang Indonesia terhadap lingkungan, masih sebatas retorika atau kata-kata saja. Belum sampai masuk ke dalam hati dan tindakan mereka.

Rupanya bangsa ini masih perlu belajar banyak dalam berbagai hal, termasuk cara mengutarakan rasa sayang kepada lingkungan yang sebenarnya.

Menjadi Lebih Efisien Dengan Menggunakan KMT atau Kartu Multi Trip


PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek) sepertinya sedang gencar mempromosikan kepada pengguna KRL (Kereta Rel Listrik) Jabodetabek untuk mengunakan KMT atau Kartu Multi Trip dibandingkan THB atau Tiket Harian Berjaminan.

Hal itu terlihat pada banyaknya spanduk atau papan iklan, baik di stasiun atau kabin kereta yang menyarankan agar pengguna jasa Commuter Line segera beralih ke KMT.

Mungkin PT KCJ sudah merasa kewalahan dengan animo masyarakat untuk menggunakan si CL yang begitu besar. Antrian mengular di depan loket atau Automatic Ticket Vending Machine terjadi setiap hari untuk membeli THB, tiket eceran untuk sekali perjalanan.

Mungkin perusahaan itu juga sudah mulai gerah karena banyak keluhan atau komplain disampaikan pengguna jasa yang harus mengantri lama untuk mendapatkan tiket.

Kepopuleran memang terkadang menimbulkan masalah juga.

Oleh karena itu mereka semakin gencar menyarankan penggunaan KMT.

Masalah utamanya adalah KMT harus dibeli seharga Rp. 50,000.- pada awalnya. Kartu ini saat pertama kali dibeli akan berisi saldo 30 ribu rupiah. Jadi harga kartunya sendiri 20 ribu.

Mahal? Tidak sebenarnya, tetapi, masyarakat Indonesia terkenal sangat pelit dalam hal-hal seperti ini dan terkadang berpikir pendek. Contohnya kasus kantung plastik berbayar, yang hanya 200 perak saja membuat banyak orang seperti kebakaran jenggot karena merasa dirugikan, dan tidak bisa melihat hal itu dilakukan untuk membangun kebiasaan menjaga lingkungan karena plastik adalah musuh lingkungan karena susah terurai secara alami.

Begitu juga dalam kasus KMT ini. Angka 50 ribu membuat banyak orang berpikir ulang untuk memilikinya, padahal kartu ini akan memberikan keluwesan dan membuat penggunanya menjadi efektif dan lebih efisien dalam memanfaatkan waktu.

Coba saja perhatikan hal-hal di bawah ini.


  • Hanya perlu mengantri 1 atau 2 kali sebulan untuk melakukan top up atau isi ulang
  • Tidak perlu ikut antrian panjang setiap hari kalau mau naik
  • Tidak perlu bolak-balik ke loket hanya untuk refund atau mendapatkan kembali uang jaminan
  • Tidak perlu terburu-buru karena bisa langsung menuju gate stasiun setiap hari
  • Sekarang bisa diisi ulang di Alfamart dan ATM bersama
  • Tidak ada masa berlaku alias kalai tidak rusak bisa dipergunakan seumur hidup
Sesuatu yang jelas lebih murah untuj sebuah kartu yang hanya 20 ribu saja.

Yang ditakutkan banyak orang bahwa KMT itu akan sia-sia karena mereka jarang naik kereta. Padahal kalau melihat kebiasaan , paling tidak orang di Bogor, bisa menggunakan jasa si CL ini 1 atau 2 kali setiap bulannya. Bahkan ibu-ibu pun sering menggunakannya untuk pergi berbelanja ke Tanah Abang.

KMT juga tanpa nama, alias bisa dipergunakan oleh orang yang berbeda. Jika memang tidak dipergunakan oleh yang membeli bisa digunakan oleh anak, menantu, cucu, bahkan tetangga tanpa masalah, selama saldonya masih ada.

Jadi, memang perlu keluar modal pada awalnya. Tidak besar dan sebenarnya selain untuk membeli kartunya sendiri, yang tentu perlu dicetak, sebenarnya untuk membeli "sesuatu" di mada depan.

Sesuatu itu adalah "waktu" yang dihasilkan dari penghematan karena tidak perlu mengantri. Jumlahnya lebih banyak dibandingkan 20 ribu kalau dihitung secara nominal. Pengguna jasa menjadi orang yang lebih efisien dalam menggunakan waktu.

Senin, 17 Juli 2017

[Ngenes] Melihat Nasib Ondel-Ondel di Jakarta


Bagaimana tidak ngenes, ondel-ondel adalah kesenian yang digadang-gadang sebagai ciri khas Jakarta, kota dimana dulu masyarakat Betawi merupakan intinya. Boneka besar setinggi 2 meteran ini juga kerap tertulis pada berbagai buku pelajaran dan teks pidato para pejabat saat berpidato tentang seni budaya di ibukota.

Semua bangga dan membanggakannya.

Cuma, melihat keseharian di lapangan, sepertinya antara kenyataan dan teori bak bumi dan langit.

Teorinya, kalau sesuatu dianggap khas, istimewa, tentunya harus diberikan perhatian khusus dan diperlakukan secara khusus pula. Tujuannya jelas agar kesenian ini tidak punah dan menghilang dari bumi Indonesia. Logikanya seperti itu.

Prakteknya berbeda sekali.

Sosok ondel-ondel sering melintas di Jalan Wahid Hasyim Jakarta hampir setiap hari. Kelihatannya ada dua rombongan berbeda karena jenis ondel-ondelnya berbeda.

Yang sama hanya satu, mereka mengais recehan dari orang-orang di sepanjang jalan itu. Biasanya mereka akan berjoged sementara satu dua orang dengan kaleng bekas cat akan berkeliling mengharapkan orang yang lewat untuk memasukkan uang ke dalamnya.

Sering sama sekali tidak ada yang memberi.

Kesenian yang katanya khas Betawi dan peninggalan budaya lokal yang adiluhung seperti turun derajat menjadi tidak berbeda dengan pengemis untuk bisa bertahan hidup. Seni yang katanya istimewa untuk tetap bertahan hidup saja sulit sekali.

Sudah selayaknya seharusnya para seniman ondel-ondel diperhatikan dan dibina. Bagaimanapun mereka perlu makan untuk hidup dan untuk itu berarti butuh uang, bukan sekedar disebut dalam pidato atau buku pelajaran. Yang seperti itu tidak akan membuat perut orang di dalam ondel-ondel kenyang.

Jika mereka bisa mendapatkan nafkah yang layak tentunya mereka bisa tetap berjuang melestarikan ondel-ondel itu sendiri. Sebaliknya, jika hidup sebagai pemain ondel-ondel dirasa tidak bisa, setidaknya, memberi kehidupan yang layak, sudah pasti mereka akan berpaling dan mencari yang lebih menjanjikan.

Itu hukum alam dan kodrat manusia.

Bila itu terjadi, maka tidak akan ada yang memainkan ondel-ondel lagi. Bonekanya hanya akan terpajang, entah dimana, dan tidak bergerak-gerak lagi untuk , menolak bala seperti saat lahirnya. Ia hanya menjadi boneka kaku yang akan lapuk dimakan rayap dan tidak bermakna apa-apa.

Ondel-ondel bukan hanya bonekanya. Ondel-ondel adalah kesatuan antara pemain dan bonekanya. Ondel-ondel harus bergerak gerak menakuti hantu. Kalau tidak bergerak bukan ondel-ondel namanya.

Dan, kalau tidak ada pemainnya karena mereka memilih jadi tukang parkir atau pekerja bangunan, maka tidak akan ada ondel-ondel.

Pada saat itu terjadi, Indonesia akan kehilangan satu lagi budaya lokal yang memiliki nilai historis tinggi bagi masyarakat Betawi dan Indonesia.

Ataukah memang punahnya sebuah seni budaya asli Indonesia dianggap sebagai sebuah hal yang memang harus terjadi?

Kalau memang para pemangku kepentingan melihat seperti itu, makin ngenes saja melihat nasib ondel-ondel di Jakarta. Mereka jadi seperti orang sakit dan sekarat, tetapi dokternya tidak mau menolong.

Hampir pasti akan mati.

Siapa coba, yang tidak akan merasa sedih, dan tersayat melihat hal seperti itu.

Jangan Lupa Memakai Kain Saat Berkunjung ke Pura Uluwatu, dan Jangan Lupa Mengembalikannya Juga

Tags

Saat sedang berlibur, sudah biasa kalau orang akan menggunakan pakaian sesantai mungkin. Yang penting nyaman dipakai dan tidak mereportkan. Celana pendek, celana ketat yang menonjolkan lekuk tubuh, atau terbuka sering menjadi pilihan.

Terutama celana pendek dan pakaian terbuka merupakan pilihan favorit untuk menghindarkan rasa gerah, apalagi saat berkunjung ke Bali, Pulau Dewata yang penuh dengan pantai. Hawa udaranya lumayan panas dan menimbulkan rasa gerah yang amat sangat. Pakaian seperti ini sangat membantu.

Sayangnya, banyak tempat wisata di pulau ini berbentuk tempat ibadah, pura. Memang tidak heran karena bangunan ibadah warga Hindu ini banyak terdapat disana dan memiliki kandungan nilai historis yang tinggi. Tentunya, pakaian seperti itu tidak sesuai dan dianggap tidak pantas untuk dikenakan saat berada di dalamnya.

Tentunya akan menjadi masalah tersendiri bagi para wisatawan yang sudah pasti tidak akan membawa perlengkapan seperti itu saat melancong.

Lalu bagaimana?

Tidak perlu khawatir. Masyarakat Bali menyadari sepenuhnya bahwa wisatawan adalah sumber penghidupan bagi banyak orang. Mereka juga mendatangkan biaya yang bisa menutupi pemeliharaan pura-pura disana.

Oleh karena itu, tidak heran, di setiap pintu masuk pura di Bali tersedia sebuah konter khusus yang menyediakan kain atau sarung bagi para wisatawan. Mereka yang hendak masuk tetapi memakai pakaian yang "tidak pantas" menurut adat dan tatacara pura bisa meminjamnya agar mereka menjadi "pantas" berada di dalamnya

Gratis.

Tidak dikenakan biaya sama sekali.

Salah satu pura di Bali yang menyediakan adalah Pura Agung Uluwatu. Sebuah konter di dekat pintu masuk menyediakan kain-kain atau sarung yang bisa dipinjam.

Sebuah usaha dan solusi yang baik sekali. Dengan begitu, wisatawan tetap bisa terpuaskan karena bisa melihat bagian dalam bangunan ibadah bersejarah itu. Kepantasan sesuai tata cara dan adat Bali pun tetap terjaga. Yang pasti, uang pun akan mengalir dari para wisatwan.

Semua hepi, semua gembira, semua untung.

Hanya yang terpikir, semoga tidak ada yang lupa mengembalikannya karena tidak ada yang mengawasi dan tidak ada yang menghitung kain-kain yang disediakan.

Tetapi, kalau melihat kebiasaan yang berkunjung kesana, rupanya kejujuran masih dimiliki banyak orang, buktinya kain-kain itu seperti tidak berkurang. Rupanya para wisatawan pun menyadari bahwa mengambil kain tersebut akan merugikan orang lain, terutama wisatawan yang membutuhkannya.

Ada Yang Salah Dengan Negeri Ini : Pemotor Marah-Marah Karena Dilarang Berkendara di Trotoar

Tidak terhindarkan kesan itu. Ada yang salah dengan negara ini. Masyarakatnya seperti tidak bisa membedakan mana yang salah dan benar. Banyak orang tidak merasa malu dan bersalah saat melanggar hukum dan bahkan lebih galak ketika diperingatkan oleh sesama warga.

Video yang menjadi viral ini adalah salah satu bukti hal tersebut. Satu dari sekian ratus ribu yang biasa terjadi setiap hari di berbagai jalan di Indonesia.


Pemotor berkendara di atas trotoar jelas sebuah kesalahan dan pelanggaran hukum. Trotoar adalah untuk pejalan kaki dan bukan kendaraan bermotor. Jelas sekali kesalahan dan pelanggaran yang terjadi.

Herannya, bukanya merasa malu, mereka lebih galak daripada orang yang mengingatkan bahwa apa yang dilakukan itu adalah kesalahan.

Sebuah sikap yang bukan hal yang tidak umum. Berkendara di atas trotoar dianggap biasa oleh banyak orang di negara ini. Mereka tahu "salah" tetapi karena banyak orang melakukannya membuat mereka yakin dan percaya bahwa hal itu tidak salah.

Penegakkan hukum yang lemah dalam hal ini pun mendukung hidupnya arogansi dari pengguna kendaraan bermotor terhadap pengguna jalan yang lebih "lemah", pejalan kaki.

Sebuah kebodohan yang akan terus terjadi kalau tidak ada usaha dari yang berwenang untuk menindak hal-hal seperti ini.

Menyebalkan menontonnya.


Sebaiknya Jangan Makan Permen Karet di Dalam Kereta (Apalagi Yang Penuh Sesak Dengan Mulut Berbunyi Terus Menerus)


Makan permen karet atau tepatnya mengunyah permen karet memang tidak dilarang di Indonesia, belum seperti di Singapura dimana permen karet adalah sesuatu yang "haram" dan dilarang, kecuali untuk kesehatan dan atas dasar resep dokter. Sepertinya memang tidak akan dilarang.

Tetapi, sebaiknya hal itu, makan / mengunyah permen karet, tidak dilakukan dalam sebuah kereta komuter seperti Commuter Line, dan yang penuh sesak dengan penumpang. Apalagi jika Anda terbiasa makan berdecap atau mulut berbunyi saat mengunyah.

Alasannya :

1. Makan dan minum adalah sesuatu yang dilarang di dalam Commuter Line atau si KRL Jabodetabek. Tidak percaya? Silakan saja lihat tanda dilarang makan yang terpampang di dinding kereta

2. Makan sambil berdecap, mulut berbunyi saat mengunyah dianggap tidak sopan dalam berbagai budaya di Indonesia. Bayangkan terus menerus mengunyah permen karet yang tidak akan pernah ditelan selama perjalanan yang bisa 1.5 jam. Bunyinya seperti apa. Anda rentan dipandang sinis oleh banyak orang sebagai orang yang tidak tahu sopan santun.

3 Mengunyah permen karet rasanya tidak afdol kalau tidak digelembungkan. Padahal dalam kereta yang penuh sesak, rentan sekali permen karet mengenai rambut orang yang berdiri di depan kita. Tahu kan susahnya melepaskan permen karet dari rambut?

Silakan saja mau makan permen karet. Tidak dilarang kok, tetapi ingat tetap ada aturan dan juga tata krama dan sopan santun yang berlaku dimanapun.Tidak berarti hal itu bisa dilakukan di setiap tempat ada tempat-tempat yang tidak memperkenankan.

Juga, harus tetap memperhatikan sopan santun. Menyiksa orang lain dengan decapan tanpa henti hanya akan membuat Anda rentan dicap sebagai orang tak beradab dan tidak tahu norma.

(Tulisan efek "penyiksaan" oleh penumpang tak tahu sopan santun, yang berdiri tepat dibelakang, yang mengunyah permen karet dengan mulut berbunyi berdecap selama 1,5 jam terus menerus)

Sabtu, 15 Juli 2017

[Kebiasaan Buruk] Saat Memarkir Kendaraan, Jangan Keluar Garis Yang Sudah Disediakan


Kebiasaan buruk yang mencerminkan arogansi dan ketidakpedulian terhadap orang lain. Sayangnya, hal seperti ini masih banyak dilakukan orang  yaitu memarkir kendaraan di luar garis yang sudah disediakan.

Padahal, garis-garis itu dibuat tentunya dengan perhitungan. Berapa ukuran kendaraan, berapa ruang yang ada, apakah ada ruang untuk bergerak maju mundur, sudah pasti masuk dalam kalkulasi sebelum membuat petak-petak parkir.

Tujuannya tentu saja untuk memaksimalkan ruang yang ada supaya bisa menampung sebanyak mungkin kendaran. Bukan hanya untuk memaksimalkan pemasukan, tetapi juga untuk memastikan kenyamanan pengunjung agar mereka bisa menemukan tempat parkir semudah mungkin.

Dalam kenyataannya, banyak pengemudi kendaraan yang tidak mempedulikan hal ini. Mereka memarkir kendaraan di luar garis yang sudah disediakan. Alhasil, terkadang badan mobil atau motor memakai sebagian dari petak yang lain. Dua petak parkir menjadi terpakai untuk satu kendaran saja.

Sebagai akibatnya, kendaraan lain yang ingin parkir tidak bisa menggunakannya karena ruang parkir yang tersedia tidak mencukupi.

Merugikan, tindakan seperti ini merugikan. Bagi pengelola, berarti pemasukan berkurang dan bagi pengunjung lain, mereka tidak bisa menggunakan petak tersebut dan harus berkeliling mencari lagi yang berarti menghabiskan waktu, tenaga, dan tentunya bahan bakar.

Entah apa alasan banyak orang tidak mau berusaha memarkirkan kendaraan mereka mengikuti garis yang sudah disediakan. Kebodohan, arogansi, atau memang tidak menyadari. Apapun alasannya, tindakan ini sudah seharusnya dihindari.

Perhatikan garis dan petak yang tersedia. Parkirlah mengikuti garis yang sudah ditetapkan. Jangan sampai keluar garis karena hal itu berarti merugikan orang lain dan mencerminkan ketidakpedulian kita terhadap orang lain.

Jumat, 14 Juli 2017

Patung Tangan Tuhan di Pekarangan Belakang Istana Bogor

Sering tidak disadari ketika orang berkunjung ke sebuah tempat wisata, mereka sebenarnya melihat sesuatu yang sangat bernilai. Mereka hanya menganggap "sesuatu" itu sebagai biasa dan tidak memiliki makna apa-apa.

Contohnya, di Kebun Raya Bogor. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa di dekat Danau Gunting yang menghadap ke arah pekarangan belakang Istana Bogor, terdapat sebuah patung yang bernilai sejarah cukup tinggi. Namanya Patung Tangan Tuhan atau dalam bahasa Inggris disebut dengan The Hand of God.

Bentuknya seperti foto di bawah ini.


Bentuknya seperti orang menengadah dan sedang menerikkan sesuatu ke arah langit.

Patung ini tidak sembarangan karena hanya ada beberapa replika Patung Tangan Tuhan di dunia dan salah satunya di Istana Bogor.

Patung ini adalah karya dari pematung terkenal dunia, Carl Milles (1875-1955), yang merupakan "murid" dari August Rodin (1840-1917). Patung asli karyanya dipajang di Milles Garden, Swedia.


Patung ini merupakan hadiah tanda persahabatan dari Kerajaan Swedia kepada Indonesia di tahun 1950-an. Meskipun demikian, si Tangan Tuhan ini baru dipasang setelah Trikora di tahun 1960-an.

Mengingat usianya dan sejarahnya, patung ini memiliki nilai yang tidak sembarangan.

Sayangnya, banyak pengunjung Kebun Raya Bogor tidak pernah menyadarinya. Mungkin bisa jadi karena mereka belum pernah membaca dan mengetahuinya. Maklum lah sumber informasi di negara ini masih kurang sekali, terutama dalam hal yang berkaitan dengan seni budaya.

Pernah Anda melihat patung ini?

Kamis, 13 Juli 2017

[Jujur Saja] Blog Umum Sekali Terinspirasi Linda Ikeji dan Juragan Cipir

Tags

Harus diakui, dan saya tidak malu mengatakannya karena memang begitulah adanya, bahwa Blog Umum Sekali memang dibuat karena si empunya terinspirasi oleh dua orang blogger wanita.

Yang satu dari Nigeria dan satu lagi dari negara sendiri, Indonesia. Yang dari Nigeria bernama Linda Ikeji, pemilik blog Linda Ikeji  dan yang orang Indonesia, Indri Lidiawati, pemilik Juragan Cipir.

Keduanya memiliki semangat pantang menyerah dalam perjalanan ngeblog mereka. Keduanya bertahun-tahun membangun blognya dan jatuh bangun sebelum bisa merasakan hasil dari perjuangan mereka.

Bukan angkanya karena rezeki setiap orang tidak sama, tetapi kerja keras dan semangatnya lah yang begitu terasa.

Dan satu lagi, mereka tidak terlalu terfokus pada "menjual" ala internet marketer. Mereka berdua berbagi informasi dengan cara yang hampir mirip, dengan gaya bahasa seadanya, dan tanpa terikat pada banyak teori blogging. Apalagi yang berasal dari Nigeria, dimana tulisannya terkadang hanya berupa 2-3 kalimat saja.

Blog Umum Sekali menggunakan pola yang sama. Tidak mengandalkan optimasi SEO. Tidak terikat pada berbagai aturan dan bahkan tidak melakukan pencarian backlink. Yang dilakukan hanyalah sekedar menambah konten atau artikel di dalamnya sebanyak mungkin. Oleh karena itu, maka bisa terlihat kalau dalam sehari terkadang ada 5,7, 10, bahkan 15 artikel yang diterbitkan.

Mayoritas pun bukan hasil saduran dari yang sudah ada di dunia maya, melainkan apa yang dilihat, didengar oleh pemilik blog. Kata banyak orang, begitulah seharusnya konten unik dan original, meskipun tetap ada sebagian yang berasal dari penulisan ulang dari apa yang sudah ada di dunia maya.

Hasilnya?

Entahlah.

Sejauh ini, kalau memang tidak tahan mental, pastilah saya sudah seperti para blogger pemula yang mewek-mewek karena pengunjungnya hanya beberapa gelintir saja. Sangat sedikit sekali. Maklum, tidak ada tindakan apapun yang dilakukan untuk memperkenalkan, atau mempromosikan blog Umum Sekali.

Semuanya hanya menunggu kedatangan pengunjung dari mesin pencari, baik Google, Yahoo atau apapun.

Tetapi, meski masih sedikit, saya memandangnya sebagai sebuah sinyal bahwa tanpa melakukan tindakan apapun yang disarankan banyak blogger tutorial tentang ngeblog, blog ini tetap merasakan kehadiran pembaca.

Grafiknya pun sedikit demi sedikit bertambah seiring dengan pertambahan jumlah artikel yang di-publish.

Sebuah hal yang menunjukkan bahwa tanpa segala macam tetek bengek tips dan trik, sebuah blog bisa tetap hidup dan kedatangan pengunjung. Dan, kalau dikombinasikan dengan terus memperbanyak artikel di dalamnya, jumlah pengunjung akan terus bertambah.

Itulah yang menyebabkan, saya memutuskan untuk tetap konsisten menambah artikel. Bahkan, dalam keadaan tidak enak badan sekalipun, harus tetap ada blog-post yang hadir. Walaupun belum bisa menyamai kemampuan Linda Ikeji, yang ketika masih sendiri mampu memproduksi 25 artikel perhari, tetapi setidaknya saya sudah cukup konsisten dengan 1-5 artikel perhari.

Entah kapan bisa menyamai kesuksesan mereka. Mungkin juga tidak akan pernah, tetapi setidaknya saya sudah menikmati merasakan menjadi blogger yang bisa menulis seenaknya sendiri dan tidak terikat oleh berbagai teori.

Itulah satu alasan lagi mengapa blog Umum Sekali akan terus seperti ini. Karena, saya menyukai gaya ngeblog seperti ini, bebas, lepas, tidak terikat kepada orang lain, dan bisa hanya terfokus pada menuangkan ide dan pemikiran saja.

Kalau ada hasil, syukur, kalaupun tidak, ya tidak apa-apa.

Jangan ditiru kalau Anda bertujuan untuk mencari uang. Tirulah kalau tujuan Anda untuk bersenang-senang dan merasakan kebebasan.

Taman Kecil Di Stasiun Cilebut Bogor


Stasiun biasanya adalah bangunan yang kaku, penuh beton dan semen. Jangan pernah harapkan adanya warna hijau, selain kalau dindingnya dicat hijau. Jarang ditemukan ada tanaman, apalagi sebuah taman.

Tetapi, tidak demikian di stasiun Cilebut, Bogor. Rupanya, entah merupakan instruksi atasan, kepala stasiunnya sadar akan perlunya keindahan, meski sedikit untuk membuat suasana lebih ramah dan segar. Ada sebuah taman kecil di stasiun tersebut.

Tidak besar. Hanya berukuran 1 X 3 meter saja dan ditanami dengan tanaman sederhana dan tidak mewah. Ditambah dengan sebuah pot berisi Anthurium Gelombang Cinta, yang sudah tidak lagi mahal harganya.

Tidak mewah. Tidak fenomenal. Tetapi, memberikan sedikit nuansa berbeda, hijau. Sesuatu yang terkesan kontras dengan warna abu-abu yang mendominasi di stasiun itu.

Sebuah usaha kecil yang patut diapresiasi karena terlihat adanya usaha untuk memberikan "kenyamanan" dan suasana ramah kepada penumpang. Sesuatu yang kerap diabaikan oleh banyak orang.

Dahulukan Penumpang Yang Turun


Ada alasan mengapa PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek), pengelola Commuter Line/KRL Indonesia, dan banyak operator transportasi umum lainnya, memasang sebuah papan pengumuman kecil bertuliskan "Dahulukan Penumpang Yang Turun".

Sudah pasti ada alasannya. Pemberitahuan itu bukanlah hiasan karena Commuer Line (CL) tidak memerlukan hiasan untuk beroperasi. Jadi, sudah seharusnya jangan dianggap sebagai penghias belaka.

Tujuannya hanyalah agar penumpang yang hendak turun dan naik tidak bertabrakan di depan pintu. Hal itu bisa berbahaya karena antara pintu kereta dan peron selalu ada celah. Tubrukan antar penumpang bisa menyebabkan seseorang terjatuh dan terperosok ke dalam celah tersebut dan kemudian terjepit antara peron dan kereta.

Sesuatu yang sangat berbahaya.

Hal ini bukan omong kosong karena sudah terjadi beberapa kejadian yang merenggut jiwa karena perebutan antar penumpang. Yang satu ingin masuk ke dalam dan yang lain ingin keluar. Sebagai hasilnya, jiwa melayang. (Sedihnya, jiwa yang melayang itu salah satunya adalah orangtua dari anak saya sendiri, dimana ia terjepit di antara celah tersebut).

Dengan bergantian, maka benturan antar penumpang tidak akan terjadi dan kemungkinan kecelakaan bisa dihindari.

Itu alasannya.

Peraturan yang sama juga ada di banyak negara maju, dimana penumpang hendak turun akan mendapat prioritas terlebih dahulu dibandingkan penumpang yang hendak naik. Keteraturan seperti ini mengurangi resiko terjadinya kecelakaan.

Lagipula, kendaraan umum, apalagi Commuter Line tidak akan berangkat sebelum pintu tertutup sempurna dan petugas akan memperhatikan apakah semua penumpang sudah naik dengan aman. Tidak perlu terlalu terburu-buru.

Jadi, jika Anda hendak naik kendaraan umum, yang manapun, biasakanlah untuk memberikan jalan bagi yang hendak turun terlebih dahulu.

Jadilah masyarakat yang beradab.

Senin, 10 Juli 2017

[Jangan Ditiru] Seorang Wanita Colorado Selamat Setelah Terjun Dengan Perut Menghadap Ke Bawah Dari Tebing Setinggi 27 Meter

Perburuan LIKE dan Follower di media sosial rupanya semakin lama semakin mendorong orang melakukan hal-hal nekad dan beresiko tinggi. Mau tidak mau, menjadi berbeda adalah tujuan utamanya.

No pain, no gain, prinsipnya.

Semakin berbeda, semakin baik dan unik, dan ujungnya semakin banyak orang akan memfollow akun medsos.

Sayangnya, tidak semua berjalan mulus. Seorang wanita di Colorado, Amerika Serikat mengalami hal tersebut. Ia terjun dari sebuah tebing di sebuah kawasan wisata dan di tengah penerjunan terjadi kesalahan yang membuat perutnya menghadap ke bawah.

Kesalahan tersebut bisa mengakibatkan kematian mengingat perut dan dada akan terhantam dengan keras saat mencapai permukaan air. Apalagi ketinggian tebing dimana ia terjuan mencapai 83 feet atau 27.5 meter.

Untungnya, ia selamat. Hanya hidungnya yang berdarah dan ia mengalami pusing yang parang serta disorientasi.

Video lompatannya sempat terekam kamera oleh Rachel Dukich (ayeeyoodukay) yang diunggah di akun Instagram miliknya.


Sebuah helikopter segera membawanya ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.

Kabar terakhir menyebutkan bahwa si wanita selamat dan akan kembali sehat sedia kala.

Jangan pernah ditiru. Apa yang terjadi ini adalah sesuatu yang langka dan si wanita sedang mujur. Hempasan keras di permukaan air bisa mengakibatkan organ tubuh bagian dalam dan luar. Jangan hanya karena ingin tampil unik dan berbeda, kita melakukan hal-hal yang berbahaya.

Tidak sebanding.

[Video] Daredevil Bergantungan di Kaca Spion Bus Yang Sedang Melaju


Ada yang menyebutnya pemberani. Ada yang menyebutkan nekat dan bodoh. Tetapi, yang pasti polisi menganggapnya sebagai pelanggaran hukum. Dua orang ditangkap oleh polisi dalam kasus Daredevil bergelantungan di kaca spion (dilansir dari Mirror.co.ck)

Tidak diketahui secara pasti apa yang menyebabkan pria yang berpakaian ala superhero buta, Daredevil harus bergelantungan di spion sebuah bus yang sedang melaju dalam kecepatan hampir 50 Km perjam (30 Mph).

Aksinya, yang terekam oleh kamera smartphone salah satu penumpang bisa dilihat di bawah ini (via Youtube).


Banyak yang menduga bahwa pria tersebut adalah pencuri/pencopet yang tertangkap basah dan dikeluarkan oleh pengemudi sebelum kendaraan berangkat. Ada juga yang berteori bahwa pria itu adalah penumpang yang menolak untuk membayar karcis dan memilih mengambil resiko untuk pergie ke tujuan secara gratis.

Yang manapun, polisi tidak mentolerir tindakan tersebut.

(Catatan : kalau cuma segini sih kecil di Indonesia, karena banyak penumpang yang terkadang harus bergelantungan di bus atau angkot pada jam sibuk. Bukan karena tidak mau membayar tetapi karena keterbatasan angkutan. Kalau ditangkap, bisa-bisa penjara penuh).

Pengemudi Ojeg Online Ini Melakukan Hal Yang Benar


Salah satu hal yang mengkhawatirkan dengan merebaknya transportasi berbasis "sharing", seperti oejg online adalah kebiasaan buruk pengemudi Indonesia akan semakin menjadi-jadi.

Contohnya, menggunakan smartphone saat berkendara. Jangankan urusan mencari nafkah, tidak ada kebutuhan apapun, pengendara motor Indonesia kerap menggunakan gadgetnya saat mengendarai motornya, apalagi kalau hal itu dikaitkan dengan yang namanya uang dan mencari nafkah. Bisa dipastikan bahwa hukum yang sudah jarang dipatuhi, akan semakin diabaikan.

Kenyataan di lapangan memang seperti itu. Semakin banyak orang berkeliaran di jalan di atas sepeda motornya dengan mata tertuju pada perangkat smartphone mereka dibandingkan situasi jalan. Tidak jarang yang sambil celingukan mencari alamat tanpa mengindahkan jalanan di hadapannya.

Karena itulah, terasa tidak biasa ketika melihat seorang pengemudi ojeg online menepikan kendaraannya. Kemudian ia mengeluarkan smartphonenya dan kemudian mengetikkan beberapa kata di layar sentuhnya.

Mungkin, ia mendapat orderan, mungkin juga pesan dari istrinya supaya berhati-hati di jalan.

Entahlah. Yang pasti ia sudah melakukan hal yang benar. Ia tidak menggunakan smartphone saat berkendara. Dengan begitu, ia tidak membahayakan dirinya dan juga orang lain di jalanan.

Mungkin, pesan dari istri dan anaknya lah yang membuatnya demikian karena tentunya mereka akan selalu mengharapkan kepulangan sang ayah seusai mencari nafkah.

Tetap hati-hati di jalan ya, Pak! Semoga banyak orderan hari ini.

Ada Paul Pogba di Commuter Line

Tidak bohong. Memang kehadiran Paul Pogba, si pesepakbola termahal di dunia ini, bisa terlihat di Commuter Line. Banyak pengguna moda transportasi yang dulunya bernama KRL (Kereta Rel Listrik) ini akan mengakui pernah melihatnya.

Cuma, tentunya bukan dalam bentuk sosok asli, tetapi dalam bentuk iklan dari salah satu perusahaan alat-alat olahraga terkemuka, Adidas. Bersama dengan beberapa pemain Manchester United yang lain, seperti Zatan Ibrahimovic, sosok pemain yang ditransfer MU dari Juventus seharga 87 Poundsterling atau sekitarRp. 1,5 trilyun ini, akan wara-wiri dan terlihat di berbagai stasiun Jabodetabek.


Kehadirannya juga memberikan indikasi tentang beberapa hal

1. Indonesia adalah pasar yang dianggap penting bagi Manchester United dan memang tidak salah juga mengingat jutaan orang adalah penggemar klub sepakbola Inggris berjuluk "the Red Devils" alias "Setan Merah" ini.

2. Commuter Line sudah semakin dianggap kredibel sebagai sebuah sarana promosi dari berbagai jenis produk ternama. Adidas bukanlah brand sembarangan dan mereka sangat hati-hati memilih media yang dipergunakan untuk promosi

3. PT KCJ  (KAI Commuter Jabodetabek), anak perusahaan PT KAI (Kereta Api Indonesia) semakin pandai melihat peluang mencari uang dengan menawarkan ruang promosi. Buktinya, iklan sekelas Adidas, BRI, BCA pun sudah tidak sungkan mampir di dinding kereta mereka.

Mudah-mudahan saja, ketika semua itu memberi keuntungan bagi semua pihak, mereka bisa benar-benar mendatangkan Paul Pogba untuk beraksi di Indonesia, dengan Manchester United tentunya. Pasti tidak murah dan bisa sangat mahal, tetapi kalau semua mendapatkan untung besar, tentunya hal itu tidak akan jadi masalah.

Meskipun saya bukan penggemar the Red Devils, saya Liverpudlian (pendukung Liverpool), tetap saja senang melihat kehadiran para pesepakbola terkenal di negeri ini, yang sepakbolanya lebih mirip sinetron atau ajang tinju dan muathai.

Minggu, 09 Juli 2017

Mengapa sebaiknya kita tidak berdiri melewati garis pembatas berwarna kuning saat menunggu kereta di stasiun


Sesuatu biasanya dibuat untuk melakukan sebuah fungsi, terutama di area publik. Seperti di stasiun, contohnya, disana ada sebuah garis pembatas berwarna kuning. Lebarnya sekitar 30 Cm dan panjangnya sepanjang peron. Biasanya garis ini ditempatkan kurang lebih 50 - 75 cm dari bibir peron.

Tentunya, garis pembatas tersebut tidak dibuat hanya untuk mempermanis stasiun saja.

Juga, bukan tanpa alasan, announcer di berbagai stasiun tidak henti mengingatkan kepada para penumpang agar mereka berdiri di belakang atau tidak melewati garis pembatas berwarna kuning tersebut. Lagi-lagi, bukan karena si announcer sedang tidak punya pekerjaan dan iseng memakai mikrofon di ruang kerjanya.

Pasti ada alasannya.

Pasti.

Bahkan, sebenarnya tanpa melihat pada juklak (petunjuk pelaksanaan) dan juknis (petunjuk teknis) perkeretaapian, hal tersebut sudah bisa dibayangkan dan diketahui. Mudah saja.

Garis pembatas berwarna kuning di stasiun itu diadakan agar calon penumpang kereta tahu dimana mereka harus berdiri. Dengan berdiri di belakang garis tersebut, secara teknis mereka aman dari kemungkinan kecelakaan yang bisa membahayakan jiwa mereka.

1)

Sebuah kereta beratnya jelas puluhan ton dan ketika melintas di stasiun akan menimbulkan hempasan angin yang cukup kencang. Angin tersebut bisa membuat penumpang terjengkang jika berada terlalu dekat dengan bibir peron.

Kalau terjungkalnya ke arah belakang, mungkin hanya berakibat lecet sedikit dan banyak rasa malu (karena banyak mata pasti memperhatikan), tetapi kalau terjungkal ke arah depan, jelas bisa membahayakan jiwa.

2)

Bagian luar kereta tidak rata. Terkadang ada beberapa tonjolan besi, seperti pegangan di dekat pintu kereta. Penumpang pun biasanya akan membawa barang, paling tidak tas.

Jika penumpang berdiri terlalu dekat dengan kereta, ada kemungkinan tonjolan kereta tersangkut secara tidak sengaja ke tas yang dibawa. Hasilnya, penumpang bisa terseret kereta. Lagi-lagi bisa berakibat fatal.

Garis pembatas kuning adalah untuk memastikan bahwa kesemua itu tidak terjadi. Diadakan sebagai fungsi menghindari sesuatu yang tidak disengaja.

Jadi, sebaiknya ikuti saran announcer untuk selalu berdiri di belakang garis pembatas berwarna kuning seperti ini. Semua untuk kita, penumpang sendiri.

Darimana Ya Asalnya Nama Bunga Kamboja, Yang Jelas Bukan Dari Kamboja


Bingung dan bikin penasaran. Ingin tahu asal muasal disematkannya nama bunga Kamboja, bunga yang fotonya ada di paling atas tulisan ini. Kenapa nama negeri Pangeran Norodom Sihanouk bisa ditempelkan pada bunga ini?

Padahal menurut cerita asal muasalnya, bunga ini dikenal sebagai Plumeria. Habitat aslinya bukan berada di Asia, melainkan di kawasan Amerika Tengah, seperti Mexico, Karibia, dan bahkan sampai Brazil. Pastinya bukan berasal dari kawasan ASEAN.

Lalu, mengapa dikaitkan dengan negara tersebut? Apakah karena di Indonesia, pohon Kamboja biasa ditanam di kawasan pemakaman, lalu disangkutpautkan dengan pembantaian massal yang pernah dilakukan oleh Khmer Merah di Kamboja?

Memang sih ada yang menyebutnya dengan nama lain, walau bunyinya berdekatan, yaitu Semboja. Tetapi, kebanyakan orang Indonesia lebih suka menyebutnya dengan Kamboja.

Apakah karena bunganya, yang kebanyakan berwarna putih atau pink? Rasanya tidak juga karena sama sekali tidak ada kaitannya dengan kata Kamboja, walaupun kalau mengikuti rumus "cocokologi" alias dicocok-cocokan, warna merah seperti warna darah dan kemudian lagi-lagi dikaitkan dengan negara Kamboja yang pernah berdarah-darah karena perebutan kekuasaan itu.

Rasanya tetap janggal dan kurang pas.

Entahlah. Saya juga bingung kenapa penasaran seperti ini. Mungkin karena saya menyukai keindahan kelopak dan warna bunganya yang cantik itu maka saya bertanya kepada siapapun yang tahu?

Mungkin Anda bisa bantu?

Sabtu, 08 Juli 2017

Kalau Anda Mengatakan Commuter Line Tidak Manusiawi, Berarti Anda Pengguna KRL Pemula


Jujur saja. Kalau Anda mengatakan bahwa sekarang Commuter Line tidak manusiawi, berarti Anda pengguna KRL pemula.

Bukan berarti saya membela PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek). Tidak juga ada niatan ke arah sana. Bagaimanapun, sebagai seorang pengguna KRL (Kereta Rel Listrik) veteran, saya sudah menyaksikan banyak dalam hal kereta komuter Jabodetabek ini.

Dan, justru saya beranggapan bahwa kereta komuter Indonesia semakin manusiawi dan membaik dari hari ke hari. Sudah banyak sekali perubahan yang terjadi dalam pengelolaannya dan sekarang sarana dan prasarananya semakin user friendly alias ramah pengguna.

Alasan mengapa saya katakan hal ini bisa dilihat di hal-hal di bawah ini yang disarikan dari pengalaman selama lebih dari 28 tahun menggunakan moda transportasi kereta ini.

Memiliki jendela dan pintu

Jika yang terbayang di benak Anda bahwa semua kereta memiliki pintu dan jendela, Anda salah besar.

KRL, pendahulu CL (Commuter Line) sebelum dikelola PT KCJ, tidak memiliki pintu dan jendela. Memang secara teknis disebut pintu, tetapi kalau pintu bisa dibuka dan ditutup, KRL sebelum CL pintunya tidak bisa ditutup. Pintu dan jendela akan selalu terbuka karena tidak bisa lagi dioperasikan.

Hal ini berbahaya bagi penumpang karena bisa saja menyebabkan penumpang terjatuh dan celaka karena terkena lemparan batu. Bandingkan dengan CL yang semua pintu dan jendelanya bisa beroperasi dengan baik (bahkan CL tidak akan berangkat sebelum pintu tertutup)

Yang naik semua manusia

Heran? Pernah naik kereta ditemani kodok, belut, ikan, ayam, bangku bambu, mangga, jambu, lemari? Tidak?

Saya pernah.

KRL di masa lalu bukan cuma untuk manusia. Secara aturan memang untuk penumpang manusia, tetapi pada kenyataannya kerap tersingkirkan oleh barang-barang yang dibawa.

Dan, sudah bukan hal yang aneh kalau Anda didesak atau disuruh minggir oleh abang-abang di Citayam karena mereka hendak memakai tempatnya untuk keranjang buah atau kursi bambu. Tidak heran juga kalau ada sesuatu yang menggeliat di bawah kaki Anda setelah Bojonggede karena banyak penumpang yang membawa karung berisi kodok, atau ayam, atau belut.

Tidak semua penumpang KRL di masa lalu adalah manusia. Hewan dan barang kerap menyebabkan manusia tersingkir.

Bukan pasar berjalan

Tidak ada pedagang di CL sekarang kan? Kalau di KRL masa lalu, jangan heran dan ngomel kalau kaki terlintas gerobak dagangan para pedagang kaki lima.

Mereka mondar-mandir berkeliling dari gerbong ke gerbong bahkan dalam kondisi sepadat apapun. Para pedagang lebih menjadi penguasa di dalam kereta dibandingkan penumpang.

KRL mirip seperti pasar berjalan dan bukan untuk penumpang.


Memiliki fasilitas kesehatan yang baik

Terluka selama perjalanan, bukan hal baru bagi penumpang KRL di masa lalu. Transportasi ini kerap menjadi "penengah" sekaligus sasaran tangan orang iseng yang melemparkan batu ke arah kereta tanpa sebab.

Hasilnya, bukan sekali dua penumpang terluka karena hal itu. Banyak yang terluka lumayan parah karena batu yang ditimpukkan berukuran besar dan ditambah kecepatan, hasilnya adalah luka yang lumayan parah.

Istri saya pun pernah mengalami hal itu hingga hidungnya robek dan matanya tidak bisa membuka karena lemparan batu mengenainya.

Lalu, apa yang dilakukan petugas saat itu? Tidak ada. Bahkan peralatan untuk mengobatinya tidak tersedia.

Berbeda dengan CL sekarang. Ada ruang kesehatan di setiap stasiun dengan Petugas Keamanan Dalam yang cukup banyak untuk membantu penumpang yang membutuhkan bantuan.

Masih banyak lagi yang bisa dikatakan tentang betapa berbedanya KRL di masa lalu dan Commuter Line sekarang, seperti charger HP gratis, kebersihan toilet, pembangunan terowongan penyeberangan penumpang, dan banyak hal lainnya.

Semua tidak ada di sekitar 5-6 tahun lalu, tetapi sekarang tersedia.

Terasa sekali betapa semakin manusiawinya sarana transportasi publik ini dibandingkan masa lalu. Jelas lebih manusiawi yang sekarang.

Jadi, kalau memang Anda merasa Commuter Line tidak manusiawi, saya hanya akan nyengir. Biasalah kalau pemula dan kurang pengalaman mengatakan sesuatu yang sepertinya keren, tetapi sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa. Jelas, mereka tidak mengalami saat dimana manusia kalah dibandingkan kursi, kodok, ayam, jambu, dan mangga. Saat dimana manusia tidak diperlakukan secara manusiawi oleh pengguna kereta.

Juga, yang mengatakan demikian hanya karena kursi di stasiun dirasa kurang, berarti tidak tahu bahwa di banyak negara maju, stasiun kereta komuter pun banyak yang tidak menyediakan kursi atau bangku di stasiun.

Nah, sebelum Anda mengatakan CL tidak manusiawi, lebih baik tanyakan kepada orangtua, atau tetangga yang lebih tua, mungkin mereka bisa bercerita betapa buruknya pelayanan KRL di masa lalu. Dengan begitu Anda akan bisa menilai sendiri situasi dan kondisi saat ini.

Pertamini Yang Bukan Anak Pertamina : Dunia Bensin Eceran Pun SemakiN kekinian

Pertamini Yang Bukan Anak Pertamina : Dunia Bensin Eceran Pun SemakiN kekinian

PERTAMINI, begitu nama yang tertera. Kalau tidak pernah membaca berita, pastilah akan terpikirkan kalau Perusahaan Minyak dan Gas Negara (PERTAMINA)menghadirkan sebuah layanan baru bagi para pengguna bahan bakar buatan mereka. Tidak sedikit yang menduga bahwa Pertamini adalah anak usaha dari perusahaan tersebut yang terfokus pada penjualan bensin eceran.

Ternyata, SALAH. Dugaan itu jelas salah. Pertamini bukan anak Pertamina. Silakan lihat bantahan perusahaan itu di berita ini .

Meski hanya berbeda "i" dan "a" di akhir kata, Pertamini bukanlah hasil pemikiran para teknokrat dan birokrat di perusahaan besar tersebut. Pertamini lahir dari orang-orang yang merasa semua harus mengikuti perkembangan zaman.

Mereka menganggap bahwa menjual bensin dalam botol bekas air mineral atau soda tidak lagi keren dan mengundang minat. Tidak juga dengan menciduk bensin dari ember besar ke ember kecil sebelum pindah ke tangki motor atau mobil. Kurang akurat juga tentunya.

Di tangan mereka lah lahir sebuah bentuk konter sederhana penjualan bensin eceran. Idenya sederhana ember atau tong yang dilengkapi dengan pompa, baik manual maupun digital. Kemudian, untuk penampilan dibuatkan rangka yang terbuat dari kayu atau plastik sehingga tidak terlihat lagi penampakan penampung bensinnya. Untuk pengukuran, versi manual akan memiliki tabung ukur di bagian atas sedang versi digital lebih keren lagi menyerupai pompa bensin di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) resmi.

Kemudian ditambah dengan nama yang menggelitik PERTAMINI, Tidak heran kalau banyak yang salah menduga karena bisa diterjemahkan sebagai Pertamina Mini.

Pertamini di Jalan Wahid Hasyim Jakarta
Dan, yang pasti mobile alias tidak statis. Banyak Pertamini yang diperlengkapi roda sehingga mudah berpindah tempat (kalau-kalau Tramtib melakukan pembersihan).

Mengundang dan memang kekinian.

Selebihnya tetap sama, karena harga bahan bakar yang dijual disini lebih mahal dibandingkan SPBU resmi. Namanya juga penjual bensin eceran, kalau dijual sama dengan SPBU darimana mereka mendapatkan untung.

Ternyata lumayan murah juga untuk mendapatkan sebuah Pertamini. Versi manual ditawarkan via online seharga Rp. 4 juta rupiah, sedangkan versi digital Rp 9-12 juta.

Memang, di tangan orang kreatif segala sesuatu bisa berubah.

"Charging Booth" di Stasiun Gondangdia Makin Bergaya


Belum lama ini namanya masih "free charger", tetapi sekarang sudah menjadi "charging booth". Rupanya kepala Stasium Gondangdia, atau siapapin yang mengurusnya, sudah menyadari ada sedikit kesalahan pada nama yang lama karena "charger" merujuk pada "peralatan untuk mencharge" smartphone dan bukan colokan listriknya.

Cuma memang harus diakui, PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek) memang semakin sigap dan memang berniat memberikan layanan terbaik bagi para penumpangnya. Masih teringat beberapa waktu lalu, charging booth ini masih sekedar sebuah meja atau rak kayu dengan "colokan" sederhana , tidak keren tapi efektif. Sekarang, bentuknya pun sudah lebih kekinian dan sedikit lebih artistik, warnanya pun sudah lebih mentereng, dan tetap efektif.

Bagus.

Patutlah diacungi jempol untuk usaha-usaha kecil memperbaiki penampilan. (Mungkin juga sudah ada sponsor yang mendanainya yah?)

Mungkin yang "kurang" tinggal masalah "kabel" yang masih nongol dan perlu dirapikan. Tentunya akan lebih baik lagi kalau istilah yang dipergunakan bukan dalam bahasa Inggris, tetapi itu bukan tugas PT KCJ. Tugas itu seharusnya para pakar bahasa Indonesia yang bisa menemukan istilah charging booth dalam bahasa Indonesia yang tidak perlu panjang, ringkas, dan tidak aneh. Maklum, kebanyakan istilah baru untuk menterjemahkan istilah asing terdengar aneh di telinga.

Jumat, 07 Juli 2017

Kalau Pak PKD (Petugas Keamanan Dalam) Sudah Membunyikan Peluitnya, Hentikan Langkah Anda ..

Itulah saran saya, seorang veteran pengguna KRL, nama kuno Commuter Line atau kereta komuter Jabodetabek. Mungkin sederhana, tetapi hal itu sangat penting. Kalaupak PKD (Petugas Keamanan Dalam) sudah membunyikan peluitnya, hentikan langkah Anda. Abaikan smartphone sejenak. Tengok ke kanan dan ke kiri.

Hal itu bisa memastikan Anda tiba dengan selamat sampai ke kantor.

Kok bisa demikian?

Sebagai orang yang sudah menjalani kehidupan sebagai komuter selama 28 tahun, saya sadar bahwa  para komuter adalah orang sibuk. Mau tidak mau, mayoritas dari mereka adalah karyawan yang memakai transportasi umum, seperti Commuter Line untuk pulang pergi menuju kantor.

Saking sibuknya, banyak dari mereka terkadang pikirannya sudah berada di kantor bahkan sebelum naik kereta. Tidak sedikit yang sudah membayangkan harus segera menyetor laporan kepada boss, atau berpikir makan siang apa nanti.

Hasilnya, sering mereka tidak awas dan waspada karena terburu-buru ingin cepat sampai ke meja kerja di ruang ber-AC. Mereka sering tidak menyadari kalau bahaya selalu mengintai.

Banyak stasiun Commuter Line yang dioperasikan oleh PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek) yang belum memiliki terowongan untuk menuju ke peron. Karena itu, untuk menuju peron untuk naik kereta, penumpang harus melintasi jalur kereta. Masalahnya, dengan semakin banyaknya frekuensi kedatangan dan keberangkatan kereta, sewaktu-waktu sang kuda besi bisa melintas dan membahayakan nyawa.

Untungnya, sejak dioperasikan oleh PT KCJ, anak perusahaan PT KAI (Kereta Api indonesia), pelayanannya semakin bagus. Keselamatan penumpang menjadi prioritas utama dari pengelola.

Untuk mengatasi masalah seperti ini, sambil menunggu pembangunan terowongan penyeberangan orang menuju peron selesai, PT KCJ banyak menempatkan PKD atau Petugas Keamanan Dalam di seluruh stasiun.

Salah satu tugasnya adalah mencegah penumpang melintas jalur yang akan dilewati kereta yang datang. Caranya sederhana, dengan membunyikan peluit terus menerus dan dilakukan oleh para petugas yang dekat dengan jalur kereta. Mereka biasanya juga akan merentangkan tangan untuk mencegah penumpang melintas jika kereta sudah terlalu dekat.

Mereka harus memastikan bahwa penumpang berada di belakang garis aman berwarna kuning. Jangan terlalu dekat agar tidak tersambar kereta.

Cara sederhana tetapi efektif karena kebanyakan orang akan berhenti karena mendengar bunyi tersebut atau karena suara tegas para petugas tersebut.

Jadi, kawan pembaca. Jika Anda pengguna pemula jasa Commuter Line, perhatikan lah suara sederhana dari peluit saat hendak menuju peron. Ketika pak PKD membunyikannya, berarti Anda harus segera menghentikan langkah dan meluangkan waktu sejenak untuk mengamati situasi.

Jangan sampai usaha para PKD menjadi sia-sia hanya karena kita terlalu terfokus pada smartphone atau pekerjaan di kantor.



Pejalan Kaki Menyeberang di Zebra Cross, Bagaimana Bisa Kalau Begini ...?

Memang, semua orang sepertinya tahu kalau pejalan kaki menyeberang di zebra cross. Harus itu, semua yang ingin hidup tertib dan patuh kepada hukum akan melakukannya.

Bukan sebuah hal yang sulit... seharusnya.

Tetapi, bagaimana bisa menyeberang di zebra cross kalau situasinya seperti foto di bawah ini.


Bagaimana caranya? Ketika zebra crossnya sendiri tertutup oleh para pemotor.

Foto ini diambil di pertigaan Wahid Hasyim yang mengarah ke stasiun Gondangdia sore ini, sebelum artikel ini dibuat. Pemandangan seperti ini adalah sesuatu yang terjadi setiap hari di kawasan tersebut.

Ada atau tidak ada petugas yang mengatur, sama saja. Meski tidak terlihat, sebenarnya ada 2-3 orang petugas dari DLLAJR yang sedang mengatur lalu lintas disana, tetapi tetap saja para pemotor tidak memberikan ruang sama sekali.

Sebenarnya, bukan hanya pemotor yang melakukannya. Kebetulan saja saat foto diambil oleh Samsung Galaxy A6, yang selalu saya bawa, hanya pengguna sepeda motor yang melakukannya. Padahal sering juga pengendara mobil menutupi zebra cross-nya.

Hal yang bisa dilakukan pejalan kaki hanyalah meliak liuk di antara celah sepeda motor, sambil berusaha tetap berada di area bergaris-garis. Meski, tidak jarang juga, terpaksa pejalan kaki harus memutar keluar dari zebra cross karena tidak ada celah sama sekali.

Padahal, sebagai warga yang tahu aturan, banyak pehalan kaki yang sudah mencoba menyesuaikan diri, mengikuti lampu merah, dan menyeberang di zebra cross. Sayangnya, ketidakdisiplinan dan ketidakpedulian para pemotor menghambat usaha kaum pejalan kaki melakukan haknya sesuai dengan aturan.

Nah, mungkin Anda bisa menyarankan pemecahan agar pejalan kaki tetap bisa menyeberang di zebta cross dan sesuai aturan? Jangan katakan bahwa pemotor harus mematuhi aturan karena sudah terbukti kalau anjuran, himbauan sama sekali tidak mempan mengatasi kebebalan mereka.

Silakan saran jika mau.

GRAB Pick Up & Drop Off Point : Akankah GRAB Merambah Dunia Nyata


Mungkinkah suatu waktu nanti ada taxi bernama GRAB? Bisa jadi. Bukan sesuatu yang tidak mungkin melihat bagaimana sebuah perusahaan yang bergerak di bidang transportasi online tiba-tiba menghadirkan sebuah layanan baru berbentuk GRAB Pick Up & Drop Off Point di "daratan" alias bukan sekedar dalam bentuk aplikasi di smartphone saja.

Kehadiran GRAB Pick Up & Drop Off Point di beberapa stasiun Commuter Line seperti mengindikasikan adanya perubahan strategi. Bila sebelumnya kehadiran mereka hanya terasa bagi pemilik smartphone, belakangan ini bahkan mereka yang tidak memiliki gadget pun sepertinya bisa memanfaatkan layanan via beberapa titik.

Bentuk titik-titik itu sekarang sudah berupa selain sebuah papan "penanda"  setinggi lebih dri satu meter, dan tentunya berwarna hijau ala GRAB, juga terdapat sebuah alat kecil yang bisa dipergunakan untuk memesan layanan GRAB. Lebih jauh lagi, sekarang ada peugas wanita GRAB berseragam hijau yang sepertinya bertugas memandu calon pengguna.

Masih lebih jauh lagi, biasanya sang petugas wanita ditemani oleh 2 orang berseragam safari ala "supir" taxi Silerbird berwarna biru tua. Foto di atas diambil di stasiun Cilebut, dan hal yang sama terlihat di Stasiun Bojonggede. Di stasiun Gondangdia sudah terlihat papan "penanda", tetapi belum ada petugas yang menjaganya.

Dugaan saya, mereka lah yang akan mengantarkan penumpang ke tujuan setelah melakukan pemesanan via alat yang ada.

Entahlah, perubahan strategi apa yang sedang dilakukan GRAB, tetapi yang terlihat, mereka sudah melangkah keluar dari sistem yang selama ini berjalan. Tentunya, bila benar dugaan saya bahwa kedua orang berseragam ini adalah pengemudi "taxi", maka mereka tidak lagi mengandalkan pada kendaraan pribadi milik peseorangan untuk mengantarkan penumpang ke tujuan.

Apakah mereka berniat untuk memiliki armada sendiri? Entahlah, hal itu perlu ditanyakan pada manajemen GRAB. Tetapi, tentunya tidak menutup kemungkinan.