Jumat, 05 Januari 2018

Memanfaatkan Orang Tak Dikenal Sebagai Obyek Foto

Memanfaatkan Orang Tak Dikenal Sebagai Obyek Foto

Mungkin hanya selera, tetapi memotret sekedar pemandangan yang indah saja terkadang tidak membuat kepuasan hadir di dalam hati. Rasanya ada yang kurang.

Bagi saya sebuah foto kalau bisa harus selalu ada unsur manusianya. Sekecil apapun, kehadiran sosok manusia penting, setidaknya itu kata otak saya, si penggemar genre human interest dan fotografi jalanan.

Bak sayur tanpa garam sebuah foto kalau tidak ada unsur manusia.

Itulah mengapa, setiap berburu momen di jalanan, mata sering jelalatan kesana kemari. Selain mencari background yang bagus, juga sekaligus mencari "obyek" penyempurna foto yang saya mau, manusia.

Ternyata tidak mudah karena yang lalu lalang bukan orang yang kita kenal.

Ada ketakutan, dulu sih pada awalnya, bahwa mereka akan marah kalau kita secara sembunyi-sembunyi memotret mereka. Tetapi, tidak lagi sekarang, setelah beberapa tahun menekuni fotografi jalanan, saya menemukan bahwa orang Indonesia termasuk ramah dalam urusan ini.

Mereka tidak terlalu masalah kalau dirinya dijadikan obyek foto. Bahkan, tidak jarang ketika mereka tahu bahwa lensa kamera mengarah kepadanya, mereka tidak segan bergaya. Ada juga yang bahkan minta dipotret lagi.

Yah, saya senang saja kalau begitu.

Salah satu hasil memanfaatkan orang tak dikenal sebagai obyek foto ada di atas. Foto ini diambil di Kebun Raya Bogor dekat Kolam Gunting.

Pemandangan belakangnya memang indah dan kerap dijadikan latar belakang berfoto. Yang kurang, hanya sosok manusianya. Walau kolam itu sendiri terkenal angker dan ada penunggunya (noni Belanda), saya tidak berharap ia yang menjadi "pelengkap".

Untungnya, hadir seorang wanita. Ia sibuk berpose kesana kemari dengan seorang pria, yang saya pikir suaminya. Berbagai gaya dicobanya dan sang pria terus memotret dengan smartphonenya. Pria yang baik.

Mencoba memanfaatkan situasi, dengan lensa zoom yang ada, saya memanfaatkan sang wanita sebagai obyek. Lumayan juga hasilnya. Posenya pas sekali dengan latar belakangnya. Keren nda?

Cuma, rupanya saya "tertangkap basah" dan sang wanita memergoki kamera sedang terarah kepadanya.

Hasilnya? Dimarahi?

Tidak.

Ini salah satu hasilnya.

Memanfaatkan Orang Tak Dikenal Sebagai Obyek Foto

Ia meminta saya memotret dirinya dengan smartphonenya. Pria yang saya pikir suaminya ternyata tidak beda dengan saya, yaitu pengunjung KRB saja. Tidak ada hubungan apa-apa dan ia pergi setelah sesi pemotretan selesai.

Sang wanita kemudian meminta saya memotretnya beberapa kali dari beberapa posisi dan yang terakhir ia melompat pada saat saya sedang membidik.

Jangan tanya namanya, karena terus terang saya tidak tahu, sampai sekarang.

Cuma ingin memberikan bukti saja, bahwa manusia Indonesia zaman now lebih ramah dan akrab, terutama kalau dalam urusan yang terkait dengan kamera.

Mempersilakan Orang Lain Duduk Ketika Ada Kursi Kosong Di Commuter Line

Mempersilakan Orang Lain Duduk Ketika Ada Kursi Kosong Di Commuter Line

Kemajuan. Biarlah orang lain mungkin memandang judul di atas lebay, tetapi bagi seorang veteran KRL (Kereta Rel Listrik) seperti saya hal sekecil itu sebenarnya sudah menunjukkan sebuah perubahan yang sangat berarti. Setidaknya masyarakat pengguna Commuter Line, nama keren KRL sekarang, sudah menunjukkan sebuah langkah kemajuan.

Bagi yang belum pernah naik kereta komuter Jabodetabek itu, mungkin tidak memahami apa yang tersirat dari sebuah kebiasaan baru, yaitu mempersilakan orang lain duduk ketika ada kursi kosong. Hal itu bisa dimaklumi karena, kemungkinan besar, mereka tidak mengerti betapa "ganas"nya para penumpang KRL kalau dalam urusan kursi atau tempat duduk.

Sudah terlalu banyak cerita dan berita bagaimana perebutan tempat duduk kerap menyebabkan para penumpangnnya kehilangan kemanusiaan. Bukan cerita baru pula, seorang anak mahasiswa sampai tega mengecam para ibu hamil hanya karena ia diminta berdiri untuk memberikan kursi yang didudukinya kepada wanita hamil.

Jangan hitung juga, orang yang kadang harus tersungkur hanya karena ingin bisa duduk selama perjalanan si CL. Tidak akan cukup memory card 16 GigaByte untuk merekam perseteruan dan perdebatan karena berebut tempat duduk.

Bisa dikata Commuter Line atau KRL, sejak masa dahulu kala adalah sebuah medan perang, yang ganasnya tidak kalah dari ganasnya gedung Dewan Perwakilan Rakyat, dalam urusan yang sama, perebutan kursi.

Kursi telah menyebabkan banyak manusia kehilangan kemanusiaannya, sekedar untuk duduk paling lama 2 jam saja.

Commuter Line jadi mirip hutan rimba. Tidak ada aturan dan tata tertib. Tidak ada norma dan sopan santun. Tidak ada toleransi dan empati. Egoisme terlihat hampir dimana-mana.

Itulah mengapa beberapa kejadian belakangan ini sedikit memberi angin segar, terutama bagi saya yang hingga saat ini masih menggunakan jasa sang kuda besi itu. Sudah beberapa orang yang menawarkan kepada saya, dan juga penumpang lainnya untuk menempati kursi yang kosong karena penumpangnya turun.

Tidak seperti biasanya, dimana ada tempat duduk kosong, langsung diduduki. Tetapi, sekarang kebanyakan orang, bahkan wanita akan mengedarkan pandangan berkeliling dan menanyakan apakah ada yang mau memanfaatkan bangku kosong itu. Padahal, kursi itu tepat di hadapannya.

Hal sederhana seperti itu menunjukkan hal besar, yaitu rasa toleransi, empati, serta kepedulian kepada orang lain. Sesuatu yang sering sirna karena keterdesakan (dan kaki yang pegal adalah sebuah keterdesakan juga).

Mungkin, belum banyak. Mungkin juga, kebetulan saya bertemu dengan orang-orang baik dan peduli. Tetapi, setidaknya hal kecil seperti itu sudah menjadi angin segar di dunia dimana keegoisan semakin bertahta.

Sebuah hal yang harus dianggap juga kemajuan bagi masyarakat pengguna jasa KRL dimana bibit-bibit norma, aturan, dan tata krama mulai tumbuh.

Semoga saja bibit-bibit itu terus berkembang subur dan menjadikan masyarakat pengguna Commuter Line sebagai masyarakat transportasi yang beradab dan penuh toleransi.

Semoga.

Pemilihan RT Bisa Dibuat Unik Dan Menarik

Pemilihan RT Bisa Dibuat Unik Dan Menarik

Sudah biasa, yang namanya segala sesuatu dengan kata depan "Pemilihan", baik itu pemilihan presiden, Kepala Desa, sampai ke pemilihan Miss Universe diadakan dalam bentuk yang formal dan resmi. Kaku dan formal.

Itulah mengapa seringkali masyarakat malas untuk, jangankan hadir, menonton saja kalau tidak dipaksa.

Sebenarnya tidak seharusnya begitu. Ok-lah kalau pemilihan presiden atau tingkat kepala daerah, seperti walikota atau bupati, acaranya dibuat resmi. Maklum juga kadang terikat aturan protokoler.

Tetapi, kalau pemilihan RT/RW? Kenapa juga harus dibuat sedemikian resmi dan penuh hal-hal formal. Kenapa tidak langsung saja disesuaikan dengan tujuan dari keberadaan RT (Rukun Tetangga) dan RW Rukun Warga), yaitu menciptakan kerukunan antar manusia-manusia yang tinggal dalam lingkungan yang sama.

Acara formal hanya akan menghasilkan sesuatu yang bersifat basa-basi dan tidak menciptakan kerukunan sebenarnya. Lalu, mengapa harus tetap dijalankan?

Mengapa Pemilihan RT atau RW tidak bisa dibuat menjadi unik dan bisa memancing ketertarikan warga untuk hadir dan terlibat di dalamnya? Bukankah itu, acara itu adalah saat yang tepat untuk memulai dan mengakhiri sebuah periode kepemimpinan di lingkungan RT/RW?

Pemikiran itulah yang membuat tim kecil panitia Pemilihan RT di RT 08 RW 09, Bukit Cimanggu City, Kel. Mekar Wangi, Kec. Tanah Sareal, Kota Bogor memutuskan untuk setidaknya membuat acara yang berbeda.

Bedanya pun sederhana saja. Tidak memanggil organ tunggal atau acara lainnya, tetapi dalam pakaian dan tim pelaksananya saja.

Para calon, terutama yang pria harus memakai sarung. Kemudian, kesemua calon harus memakai kacamata hitam, cengdem (seceng adem). Bukan supaya terlihat keren, justru supaya terlihat seperti tukang pijat keliling.

Tujuannya hanya sekedar agar tidak terlihat resmi.

Pelaksananya pun dilakukan bukan oleh orang tua. Tanggung jawab itu diserahkan kepada para pemuda, yang kebanyakan masih duduk di SMA dan SMP. Tentu, tetap dengan pengawasan tim dewasa.

Hasilnya, acara yang biasanya formal dan penuh basa basi sudah dipenuhi dengan gelak tawa sejak awalnya melihat tingkah laku para calon Ketua RT-nya. Lebih lucu lagi, ketika para pemuda yang masih demam panggung harus menjalankan acaranya.

Banyak kelakuan yang mengundang gelak tawa hadir tanpa disengaja dilakukan oleh anak-anak tersebut. Maklum saja, mereka belum pernah merasakan berbicara dan tampil di hadapan orang-orang dewasa dan tentunya belum tahu betul caranya. Jadi, tidak heran kalau terkadang mereka agak gentar untuk maju.

Justru semua itulah yang mengundang ketertarikan warga untuk hadir dan ikut serta. Mereka juga bisa merasakan suasana akrab dan ceria.

Jadi, kenapa pemilihan RT dan RW harus mengikuti gaya resmi di Istana atau Balai Kota? Mengapa tidak buat gaya sendiri yang lebih kekeluargaan. Tidak ada aturan yang mengharuskan harus seperti apa acaranya. Lalu, mengapa harus sekedar menjiplak atau mengkopi?

Buatlah versi pemilihan RT atau RW versi lingkunganmu sendiri. Jalani dan nikmati. Pada akhirnya, yang seperti itu akan membantu terbentuknya lingkungan bersuasana kekeluargaan.

Kamis, 04 Januari 2018

Haruskah Ibu Hamil Melewati Underpass Penumpang di Stasiun?

Haruskah Ibu Hamil Melewati Underpass Penumpang di Stasiun?

Sejak beberapa tahun belakangan ini PT KCJ (Kereta Commuter Jabodetabek), alias KRL, gencar melakukan perbaikan pada berbagai prasarana yang berada di dalam lingkungannya. Tentunya, semua ditujukan untuk memberikan pelayanan lebih baik dan meningkatkan keselamatan para pengguna jasanya.

Salah satu bentuk perbaikan itu adalah pembangunan underpass penumpang di berbagai stasiun. Diharapkan dengan adanya fasilitas ini, para penumpang yang hendak berpindah peron tidak perlu lagi harus menyeberangi rel kereta yang sebenarnya merupakan tindakan berbahaya.

Sekarang, berbagai stasiun, besar dan kecil, kebanyakan sudah memiliki terowongan bawah tanah untuk penumpang menyeberang. Jadi, untuk berpindah peron, penumpang hanya perlu melalui terowongan ini.

Sayangnya, karena keterbatasan tempat, ada beberapa underpass yang terkesan kurang ramah terhadap manula, orang cacat, dan ibu hamil. Postur tangganya cukup terjal dan banyak sehingga agak menyulitkan bagi mereka yang tidak dalam kondisi normal untuk melaluinya.

Tentunya akan menyulitkan sekali kalau harus melalui tangga-tangga seperti ini dan justru bisa berbahaya bagi kesehatan mereka.

Tetapi, sebenarnya itu bukanlah sebuah harga mati. Pengalaman menunjukkan bahwa PT KCJ dan para petugasnya tidak kaku dalam menerapkan aturan. Dalam banyak kasus, dimana ada manula, penyandang cacat, dan ibu hamil yang hendak menyeberang, mereka tidak dipaksa untuk harus melalui terowongan penumpang.

Mereka akan dipersilakan untuk melewati jalur lama, yaitu melewati jalan yang melintas rel, dengan bimbingan sang petugas. Para PKD, begitu sebutannya, akan memastikan jalur yang dilewati aman dan akan mengantarkan para ibu hamil atau penyandang cacat hingga ke peron yang dituju.

Jadi, kalau memang tidak bisa melalui underpass penumpang karena satu dan lain hal, terutama karena keterbatasan fisik, jangan ragu untuk bicara dengan pak PKD. Mereka akan membantu Anda untuk bisa sampai ke peron tempat menunggu.

Selasa, 02 Januari 2018

Voli Pantai - Kegiatan Wisata di Nusa Lembongan Bali

Voli Pantai - Kegiatan Wisata di Nusa Lembongan Bali

Berwisata itu banyak ragamnya. Kegiatan yang paling umum adalah berkeliling menikmati pemandangan yang indah, selfie, atau bermain.

Sayangnya, hal-hal seperti itu cocok untuk individu atau setidaknya kelompok orang dalam jumlah kecil saja. Bagaimana kalau yang berwisata adalah kelompok besar. Banyak perusahaan yang mengadakan wisata untuk karyawannya.

Selain tentunya untuk memberikan refreshing kepada para karyawan, mereka juga berharap bahwa timbul kekompakan antara mereka.

Tujuan seperti itu tentunya sulit dilakukan kalau semuanya hanya sibuk bermain sendiri-sendiri. Kekompakan tidak akan bisa terajut dan terjalin.

Rupanya hal itu mendapat perhatian juga dari pengelola wisata di Nusa Lembongan Bali. Mereka menyadari bahwa berwisata itu kadang memerlukan tempat dimana pesertanya bisa membangun kebersamaan diantara mereka.

Salah satu pulau di kep. Nusa Lembongan Bali ternyata menyediakan fasilitas voli pantai. Sebuah permainan umum yang bisa dipakai siapapun yang berminat. Biasanya dipergunakan oleh wisatawan yang datang dalam rombongan.

Disana mereka bisa bertanding, bersaing, tertawa, dan bersenang-senang dalam kelompok.

Tentunya hal ini membawa manfaat karena walaupun sedang bersenang-senang, berwisata, kekompakan antara karyawan bisa terjalin dan terajut.

Cara Menikmati Sushi atau Sashimi Supaya Tidak Mual [Eneg]

Cara Menikmati Sushi atau Sashimi Supaya Tidak Mual [Eneg]

Sushi atau Sashimi adalah jenis kuliner yang berasal dari negeri Sakura, Jepang. Kuliner ini merupakan ciri khas dan kebanggaan dari negeri para Samurai tersebut.

Belakangan ini, keduanya mulai merambah ke Indonesia dan banyak sekali gerai yang mencantumkan sushi atau sashimi ke dalam daftar menu mereka.

Sebenarnya merupakan kesempatan yang bagus untuk bisa mengenal budaya dan kehidupan bangsa lain, tanpa harus pergi ke negara asalnya.

Sayangnya, sushi dan sashimi adalah dua jenis makanan yang mengandalkan pada ikan atau produk laut yang "mentah" alias tidak dimasak. Hal ini sangat berlawanan dengan lidah orang Indonesia yang segala sesuatunya harus matang.

Tidak jarang, orang merasakan mual atau eneg saat mulai memasukkan potongan sushi ke dalam mulutnya. Kondisi ini sering menyebabkan mereka tidak bisa menikmati lagi potongan-potongan berikutnya.

Cobalah lakukan beberapa hal sederhana ini supaya Anda bisa menikmati sushi atau sashimi tanpa harus merasa mual atau eneg.

1. Jangan Bayangkan Mentahnya

Penolakan tubuh dan lidah acapkali karena bayangan yang ada di benak kita sendiri. Begitu juga dalam hal makan sushi.

Membayangkan ikan mentah yang sedang meronta-ronta hendak dipotong dan juga darah berceceran tidak akan membantu sama sekali untuk menikmati makanan.

Bahan-bahan mentah sushi dan sashimi sudah dibersihkan sedemikian rupa sehingga potongan-potongannya bersih dan terjaga. Bahkan, kalau menurut penjelasan, ikan yang akan dipotong-potong menjadi sushi atau sashimi sudah dilap dengan memakai handuk khusus dan dipotong secara higienis.

Jadi, jangan pernah bayangkan kuliner khas Jepang ini diolah sembarangan. Kebersihannya sangat terjaga dan berasal dari bahan yang terpilih. Jangan bayangkan seperti lele karena keduanya kebanyakan berasal dari tuna atau salmon, dua jenis ikan yang harganya lumayan mahal dan harus ditangkap di laut luas.

2. Sushi dan Sashimi

Kalau Anda belum bisa makan sashimi, coba nikmati sushi saja dulu.

Berbeda lo.

Sushi adalah gulungan nasi kecil dan terkadang dicampur potongan sayuran sedangkan sashimi hanyalah potongan ikan mentahnya saja.

Keduanya sama-sama enak dan gurih sebenarnya, tetapi bagi yang belum biasa, tentunya sulit menikmati. Cobalah mulai dengan sushi saja karena masih ada nasi dan hal itu bisa membantu memberikan rasa yang lidah kita kenal, yaitu nasi (dan potongan sayuran).

Barulah setelah terbiasa dengan sushi, Anda bisa melangkah dengan sashimi.

3. Manfaatkan Shoyu dan Wasabi

Shoyu adalah kecap Jepang karena merupakan ciri khas kuliner negeri Sakura itu. Rasanya asin.

Jika belum terbiasa dan takut rasa amis di lidah, shoyu bisa menjadi pemecah masalah tersebut. Rasa asin kecap ini akan menutupi rasa asli sushi atau sashimi. Dengan begitu, lidah tidak akan langsung kaget menerima cita rasa yang berbeda dengan yang biasa kita nikmati.

Apalagi kalau di dalam shoyu ditambahkan wasabi, sambalnya orang Jepang. Rasa pedas wasabi yang dicampurkan ke dalam shoyu dijamin akan lebih menambah kepercayaan diri untuk menikmati sushi dan sashimi.

Meskipun bahkan tanpa keduanya, sushi dan sashimi itu sama sekali tidak amis, tentunya dengan tambahan shoyu dan wasabi, akan semakin tidak terasa amis selain asin dan pedas.

4. Minum Setelah Makan Sepotong

Kalau masih merasa ragu, siapkan saja minuman di sebelah piring. Pilihan yang pas adalah Lemon Tea, atau kalau benar-benar khawatir merasa mual, bisa pesan Cola. Ada juga Ocha atau teh Jepang yang sebenarnya lebih pas lagi untuk makan sushi atau sashimi.

Suapkan sepotong sushi atau sashimi dan kemudian coba nikmati, entah dengan shoyu/wasabi atau polos saja. Rasakan lembut dan gurihnya daging ikan di lidah. Kalau ternyata tetap ada penolakan, minumlah seteguk untuk menghilangkan kekagetan lidah terhadap cita rasa "aneh".

Jangan berhenti, lanjutkan dan ulangi sepotong demi sepotong. Pada akhirnya, maka Anda akan terbiasa dengan cita rasa tersebut.

Inti dasar menikmati sushi atau sashimi supaya tidak mual adalah pembiasaan. Bagaimanapun, sesuatu yang berbeda dan tidak kita kenal cenderung ditolak pada awalnya.

Oleh karena itu, perlu ada usaha untuk membiasakan lidah kita terhadap cita rasa yang tidak biasa itu. Semakin sering dilakukan, maka lidah pun akan semakin terbiasa dan lama kelamaan akan menerima.

Jangan bayangkan yang tidak-tidak sebelum makan karena hal itu akan meningkatkan resistensi dan sudah menimbulkan ketakutan bahkan sebelum mencoba.

Pengalaman ini sudah saya terapkan pada anak saya, si kribo yang ternyata hingga sekarang malah menjadi pecinta sushi dan sashimi. Ia bahkan biasa makan keduanya tanpa bantuan apapun karena katanya rasanya lebih enak dibandingkan dengan kalau dicampur dengan shoyu.

Kalau masih tidak bisa juga, yah bisa pesan saja makanan yang dimasak. Banyak kok jenis makanan khas Jepang lainnya yang sudah dimasak hingga matang. Walau sayang saja kalau sampai kehilangan kesempatan mencoba dan mengenal makanan kebanggaan negeri para Bushido ini.

Penumpang Wanita Lebih Diprioritaskan di Kereta (Gerbong) Umum

Penumpang Wanita Lebih Diprioritaskan di Kereta (Gerbong) Umum

Banyak wanita penumpang Commuter Line berpandangan kalau berada di kereta/gerbong umum lebih enak karena toleransi antar penumpangnya lebih kuat dibandingkan kereta/gerbong wanita. Lebih susah mendapatkan tempat duduk di kereta khusus wanita, begitu katanya.

Benar atau tidaknya, sulit saya buktikan karena saya laki-laki dan belum pernah naik di Kereta Khusus Wanita.

Meskipun demikian, pengalaman berada di gerbong campuran (umum) selama ini memang begitu adanya. Para penumpang, terutama kaum pria lebih toleran dalam hal tempat duduk. Mereka acapkali memilih untuk tetap berdiri dan mempersilakan penumpang wanita untuk duduk ketika ada kursi yang kosong.

Hal itu sudah berulangkali terjadi.

Bahkan, ketika posisi penumpang wanita berada jauh dari tempat duduk yang kosong tadi, penumpang pria yang lain akan berusaha memanggilnya dan mempersilakannya untuk duduk.

Barulah ketika tidak ada lagi penumpang wanita yang butuh, maka tempat itu dipergunakan oleh para pria. Itupun dengan sebelumnya menanyakan penumpang pria yang lain apakah mereka butuh duduk.

Sore ini pun saya kembali menemukan hal yang serupa. Tempat duduk di hadapan saya kosong karena yang menempatinya sudah turun. Tidak satupun dari 5 pria yang berdiri di depannya berebut, mereka memilih untuk menawarkan kepada seorang penumpang wanita yang berdiri di dekat pintu.

Tetapi, karena rupanya, sang penumpang perempuan juga segera turun, tempat duduk itu pun tetap kosong. Barulah setelah itu terjadi saling menawarkan antara penumpang pria siapa yang mau mendudukinya.

Sebuah kebiasaan yang bagus dan mencerminkan bahwa dalam sebuah kereta pun, ada tata krama, sopan santun, basa basi, dan saling pengertian antara pengguna jasanya.

Sebuah tempat duduk di Commuter Line memang bisa menghilangkan penat di kaki, tetapi tidak memberikan kepada yang berhak atau lebih memerlukan bisa menghilangkan harga diri dan keberadaban seorang manusia.

Lakukan 7 Hal Ini Supaya Anda Menjadi Pengendara Yang Membantu Menghindarkan Kemacetan

Lakukan 7 Hal Ini Supaya Anda Menjadi Pengendara Yang Patuh

Macet. Macet. Macet dimana-mana. Semua mengeluh dan saling menudingkan jari kepada orang lain sebagai biang dari kemacetan. Masyarakat menunjuk aparat berwenang, polisi sebagai penyebab. Tidak luput juga pemerintah yang dianggap tidak menyediakan jalanan yang cukup lebar dan transportasi umum.

Pemerintah sendiri juga menuding masyarakat pengguna jalan sebagai ikut berkontribusi pada kemacetan karena banyaknya pengendara yang tidak mau patuh pada aturan berlalu lintas.

Padahal, kalau mau tertib, semua pihak harus mau ikut serta untuk membantu dan berkontribusi. Saling tuding dan tuduh tidak akan pernah menjadi pemecah masalah. Yang ada malah kekisruhan dan polemik berkepanjangan.

Dan semuanya itu bisa dimulai dengan langkah sederhana saja. Jika kita sudah melakukan 7 hal ini, maka berarti kita sebagai pengguna jalan sudah berpartisipasi dan berkontribusi dalam mengurangi terjadinya kemacetan di jalan.


1. Bawa Surat-Surat Kendaraan dan SIM

Ini yang paling pertama harus dilakukan. Pastikan sebelum berkendara, semua surat-surat kendaraan dan Surat Izin Mengemudi dibawa.

Hal ini akan mengurangi beban rasa ketakutan kalau ada razia polisi. Seringkali kemacetan terjadi karena banyak pengendara yang tidak membawa surat kendaraannya atau tidak memiliki SIM memaksa berputar balik dan melawan arah agar tidak terjaring razia.

2. Jangan Melawan Arus

Banyak jalan dibuat satu arah dengan tujuan agar arus lalu lintasnya mengalir ke arah yang sama. Hal itu tentunya akan membantu memperlancar arus lalu lintas. Kecepatan kendaraan meningkat karena tidak perlu menghindar dari kendaraan yang datang dari arah berlawanan.

Kalau ada yang melawan arus, otomatis kendaraan yang seharusnya bisa melaju dengan cepat akan terhambat dan terbentur dengan si pelawan arus.

Hal ini juga meningkatkan resiko kecelakaan karena pengendara yang lain menganggap tidak akan ada kendaraan dari arah yang berlawanan. Mereka memiliki waktu reaksi yang akan lebih singkat kalau tiba-tiba harus berhadapan dengan kendaraan lain.

3. Patuhi Lampu Lalu Lintas

Beri giliran pada pengguna jalan yang lain. Itulah inti dari lampu merah, hijau, dan kuning yang sering ada di persimpangan jalan.

Lampu ini bertugas memberi keteraturan agar setiap orang bisa mendapatkan gilirannya menggunakan jalan. Semua memiliki hak yang sama.

Kalau Anda tidak mematuhi lampu lalu lintas, maka berarti Anda memakan hak orang lain.

Kemacetan tidak akan terhindarkan kalau Anda tetap memaksa menerobos lampu merah karena berarti Anda menghalangi kendaraan lain yang sebenarnya memiliki giliran untuk menggunakan jalan.

4. Berhenti di Belakang Garis Putih

Setiap lampu lalu lintas akan dilengkapi juga dengan sebuah garis putih penanda dimana kendaraan harus berhenti saat lampu merah menyala.

Jangan pernah lewati garis ini karena meskipun mungkin hanya moncong mobil atau motor Anda yang nongol, hal itu akan menghalangi kendaraan dari arah lain atau pejalan kaki yang akan melintas di trotoar.

Hal itu berpotensi menyebabkan terhalangnya kendaraan lain yang memiliki giliran untuk melintas.

5. Jangan Parkir Sembarangan

Tanda dilarang parkir dipasang bukan tanpa alasan. Pemakaian bahu jalan untuk menyimpan kendaraan akan menghambat arus kendaraan yang sedang melaju. Pengendara lain harus membuang waktu untuk menghindari mobil yang diparkir di bahu jalan.

Memang hanya beberapa detik, tetapi jika dikalikan dengan ribuan atau puluhan ribu kendaraan yang melintas, hal itu bisa berarti banyak, berjam-jam.

Parkir sembarangan menyebabkan inefisiensi penggunaan jalan. Itulah alasan mengapa banyak jalan yang ramai dan sibuk memasang rambu dilarang parkir.

6. Jangan Berbelok Seenaknya

Bukan tanpa alasan kendaraan diberikan lampu sein. Lampu kuning yang bisa berkelip-kelip ini bertugas memberikan sinyal kepada pengendara di belakang atau di depan Anda arah kemana kendaraan Anda akan digerakkan.

Berbelok tanpa menyalakan lampu ini, selain berpotensi menyebabkan kecelakaan, juga bisa menyebabkan kemacetan. Pengendara di belakang Anda sering harus terpaksa menghentikan kendaraan secara mendadak untuk menghindari benturan.

Hal ini akan menghambat arus kendaraan di belakangnya dan bisa berujung pada kemacetan.

7. Jangan Berhenti Seenaknya

Banyak pengguna jalan seperti tidak peduli kepada pengguna jalan lain. Mereka kerap menurunkan penumpang sembarangan. Tidak peduli bahwa badan kendaraan mereka masih berada agak di tengah, tetapi mereka tetap menurunkan penumpang.

Hal seperti itu lagi-lagi adalah sebuah hal yang tidak seharusnya dilakukan karena jelas membuat arus kendaraan yang akan melintas terhambat dan kemacetan bisa terjadi.

Memang hanya beberapa saat, tetapi berhenti seenaknya seperti ini tidaklah boleh dilakukan dan harus dihindari.

Jika Anda bisa melakukan 7 hal ini setiap harinya, rasanya Anda sudah sangat berkontribusi pada usaha pengurangan kemacetan.

Kalau mau lebih lagi berkontribusi, ya naik kendaraan umum saja. Memang butuh pengorbanan, berupa kenyamanan, dan mungkin waktu, tetapi hal ini akan membantu mengurangi kendaraan yang berlalu lalang di jalan. Semakin banyak yang menyimpan kendaraannya di rumah, maka semakin berkurang kemacetan di jalan.

Iya nggak?

 


Senin, 01 Januari 2018

Ketertiban Umum Adalah Perpaduan Antara Penegakkan Hukum dan Kesadaran Masyarakat

Ketertiban Umum Adalah Perpaduan Antara Penegakkan Hukum dan Kesadaran Masyarakat

Ada yang mengatakan bahwa penegakkan hukum haruslah didahulukan karena dengan begitu masyarakat akan terbiasa untuk mematuhi peraturan dan hukum. Yang lainnya berargumen bahwa tugas para polisi dan aparat penegak hukum banyak sekali sehingga tidak akan bisa hadir ketertiban umum kalau masyarakatnya tidak mau sadar.

Keduanya betul.

Masalah ketertiban umum dan siapa yang bertanggungjawab mirip sekali dengan pertanyaan klasik "Mana yang lebih dulu lahir di dunia, ayam atau telur?" Pertanyaan yang kerap mengundang perdebatan panjang tanpa hasil.

Sebenarnya ada pilihan lain yang lebih masuk akal. Keduanya harus berjalan bersamaan dan berdampingan. Kalau hanya menekankan salah satunya, maka yang namanya ketertiban umum tidak akan pernah terwujud.

1) Wajib seorang penegak hukum untuk memberikan sanksi kepada mereka yang melanggar. Polisi atau aparat yang berwenang sudah diberikan gaji dan juga wewenang untuk melakukan itu. Jika tidak dilaksanakan berarti ia hanya makan gaji buta dan efek buruknya, masyarakat jadi menganggap enteng berbagai peraturan.

Peraturan tidak akan pernah tegak dan kalau itu terjadi, tidak ada yang namanya kepatuhan terhadap hukum.

Hal ini tentu akan menggoyahkan sendi kemasyarakatan dan mereka akan jadi terbiasa tidak tertib.

2) Sama wajibnya seorang anggota masyarakat untuk mengikuti aturan hukum yang ada. Ia sejak lahir sudah terikat dengan berbagai tata krama, aturan, dan harus diikutinya sebagai seorang anggota masyarakat.

Hak itu baru terlepas ketika ia meninggal dunia.

Ia juga pastinya sudah mendapatkan pendidikan dan penjelasan tentang apa itu aturan dan hukum serta maknanya dalam kehidupan bermasyarakat. Ia memang memiliki hak tetapi hak itu tidak bisa digunakan tanpa batas karena bisa melanggar hak orang lain.

Hal itu akan rentan menghasilkan kekacauan dan ketidaktertiban. Ketidaktertiban akan membawa dampak buruk bagi dirinya sendiri di masa yang akan datang. Seperti contoh, ia mungkin suatu waktu akan mengeluh tentang kemacetan yang banyak membuang waktu, tetapi kalau ia tetap parkir mobil sembarangan atau menyetop kendaraan umum seenaknya, sebenarnya ia adalah bagian dari masalah itu sendiri.

Jadi, tidak ada alasan seorang anggota masyarakat untuk tidak mau patuh pada aturan.

Sayangnya, seringkali kedua hal ini diperdebatkan, padahal sebenarnya tidak bisa dipandang demikian. Keduanya harus dilakukan bersamaan untuk menghasilkan ketertiban umum dalam masyarakat.

Tidak bisa dilakukan hanya dari salah satu sisinya.

Kedua pihak, aparat penegak hukum dan anggota masyarakat non penegak hukum harus saling berkontribusi dan mendukung demi tercapainya tujuan bersama. Kalau itu tidak terlaksana, maka akan ada ketimpangan, dan ketimpangan tidak akan menghasilkan sesuatu yang sempurna. Begitu juga dalam hal yang namanya ketertiban umum.

Apa Itu Viewfinder dan LCD Monitor Pada Kamera ?

Apa Itu Viewfinder dan LCD Monitor Pada Kamera ?

Istilah Viewfinder dan LCD Monitor adalah dua istilah yang kerap digunakan dalam dunia fotografi. Keduanya merujuk pada dua bagian penting dalam kamera yang berguna untuk para fotografer melihat sesuatu dalam sebuah bidang/frame sesuatu yang hendak dipotret.

Kedua bagian kamera ini juga sangat berguna bagi seseorang yang hendak memotret untuk membuat komposisi foto sebelum menekan tombol shutter release dan memotret. Di kedua bagian ini, pemotret bisa mengatur dimana obyek harus ditempatkan, paduan warna apa saja yang dimasukkan, kemudian latar belakang, dan segala sesuatunya.

Oleh karena itu, kedua bagian ini sangat penting bagi seorang fotografer.

Apa itu viewfinder?


Viewfinder adalah kata dalam bahasa Inggris dan bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, namanya menjadi "Jendela Bidik". Bentukanya adalah sebuah kotak kaca kecil darimana seorang fotografer bisa mengintip.

Viewfinder akan menampilkan apa yang dilihat oleh lensa kepada sang pemotret sehingga bisa memutuskan harus meneruskan dengan menekan tombol atau tidak. Ada dua jenis viewfinder atau jendela bidik.

Yang pertama : optical viewfinder dimana apa yang terlihat oleh lensa akan disampaikan secara mekanis via beberapa cermin/pentamirror hingga sampai ke mata sang pemotret

Yang kedua : digital viewfinder dimana apa yang dilihat oleh lensa akan disampaikan melalui data digital untuk sampai ke mata pemotret

Apa itu LCD Monitor?

Fungsinya tidak berbeda dengan viewfinder. Letaknya di belakang kamera dalam bentuk layar LCD kecil. Mirip dengan LCD monitor komputer atau notebook dan hanya berukuran lebih kecil saja, tergantung jenis kameranya.

Dari sini seorang fotografer bisa melihat apa yang akan dipotret via layar yang lebih lebar daripada jendela bidik. Disana juga akan ditampilkan berbagai data, seperti ISO, Aperture, Shutter Speed, dan berbagai informasi lainnya yang bisa membantu sang fotografer.

Mayoritas kamera produksi masa kini akan selalu diperlengkapi dengan LCD monitor dari berbagai jenis. Ada yang bersifat "fixed" alias tetap dan tidak bisa berputar arah, tetapi ada juga vari-angle LCD yang bisa diputar 360 derajat yang memungkinkan seseorang bahkan melakukan selfie atau memotret diri sendiri.

Yang Mana Yang Lebih Enak Dipakai Untuk Memotret?

Jawabannya tergantung masing-masing individu. Tidak ada yang bisa memastikan karena lebih tergantung pada selera dan kebiasaan.

Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Ada yang gemar memakai LCD karena lebih luas bidang pandangnya dan memudahkan untuk melihat obyek dalam frame sebelum memotret. Tetapi, ada juga yang merasa nyaman melakukannya via viewfinder karena membuatnya merasa lebih seperti fotografer.

Saya sendiri memakai keduanya, tergantung situasi dan kondisi di lapangan. Pada saat ingin memakai teknik Long Exposure yang membutuhkan shutter speed lama, mau tidak mau LCD yang dipergunakan. Tetapi, kalau sekedar memotret biasa atau benda yang statis, saya akan pilih memakai jendela bidik saja. Lebih cepat dan enak.

Yang manapun yang dipilih, tidak perlu diperdebatkan karena selama hasil fotonya bagus, maka yang melihat tidak akan peduli Anda melakukannya dengan memakai Viewfinder atau LCD Monitor.

Mengukir Nama di Pohon Akan Membuat Nama Anda Abadi ... Sebagai Perusak Lingkungan

Mengukir Nama di Pohon Akan Membuat Nama Anda Abadi ... Sebagai Perusak Lingkungan

Entah apa yang ada di benak mereka-mereka yang gemar mengukir nama di pohon. Mungkinkah ingin diingat oleh si pohon dan orang yang lewat bahwa ia pernah sampai di tempat itu? Mungkinkah yang mengukir ingin dikenang sebagai orang jagoan dan hebat karena sudah bisa menorehkan namanya di tempat itu? Mungkinkah mereka berharap bahwa nama mereka abadi dan akan terus dikenang?

Entah yang mana.

Tindakan seperti ini adalah bentuk dari perusakan lingkungan dan tidak seharusnya dilakukan. Banyak tanaman akan menjadi rusak ketika pisau atau benda tajam lainnya, mereka terluka dan banyak sel-sel mereka rusak.

Pertumbuhannya terganggu.

Padahal, fungsi dari mengukir nama pada pohon itu sama sekali tidak jelas tujuannya. Paling banter adalah sekedar ingin eksis dan pamer kejagoan dan keberanian mereka. Tidak lebih dari itu.  Walau sebenarnya termasuk tindakan pengecut juga , karena mereka tidak akan pernah berani tampil di depan umum untuk mengatakan merekalah pelakunya.

Sesuatu yang sia-sia dan tidak berfaedah sama sekali.

Bahkan, lebih tepatnya disebut sebagai kebodohan.

Foto ukiran nama pada pohon kaktus di atas, diambil di Taman Meksiko, Kebun Raya Bogor oleh beberapa orang yang tidak bertanggungjawab. Mereka tidak menyadari bahwa pohon-pohon kaktus itu adalah bagian dari penelitian karena nama resmi KRB adalah Pusat Konservasi Tanaman dan bukan sekedar tempat wisata.

Dengan merusak tanaman yang ada berarti mereka merusak saranan yang dipergunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan di masa datang.

Kebodohan. Ya kebodohan.

Itulah yang akan membuat nama si pengukir nama di pohon akan abadi. Orang akan terus mengingatnya, tetapi bukan karena kebaikannya. Siapapun yang melakukan itu akan dikenang, walau tidak tahu wajahnya, sebagai orang bodoh dan perusak lingkungan.


Ondel-Ondel di Bogor - Mengais Rejeki di Kota Orang

Ondel-Ondel di Bogor - Mengais Rejeki di Kota Orang

Melihat kehadiran ondel-ondel di Jakarta, bukanlah sebuah hal yang aneh. Boneka besar setinggi 2.5 meter dan digerakkan oleh manusia ini adalah ciri khas dan ikon dari masyarakat Betawi yang menghuni Jakarta. Bahkan, ondel-ondel sudah ditetapkan sebagai ciri khas ibukota Indonesia itu.

Tetapi, melihatnya berkeliaran secara rutin di acara Car Free Day Bogor mengherankan juga. Memang menarik perhatian banyak orang karena kenapa boneka "Jakarta" kok bisa ada di kota hujan. Ngapain mereka datang kesini.

Mungkin jawabannya sederhana saja, urusan perut.

Ondel-ondel itu hadir dengan harapan mereka bisa menangguk recehan dari pengunjung acara mingguan di Bogor itu. Bagaimanapun mereka butuh mencari nafkah untuk menunjang keluarga mereka.

Sementara di Jakarta sendiri, orderan untuk tampil di acara hajatan, seperti sunatan, pernikahan, semakin lama semakin sedikit. Perkembangan ibukota Jakarta, baik dari segi selera dan kehidupan, menekan hambis-habisan kebutuhan akan penampil tradisional seperti ondel-ondel.

Tentunya, mayoritas warga Jakarta lebih suka mengundang organ tunggal dengan penyanyi wanita berrok mini daripada boneka yang hanya bisa bergerak berputar.

Hal itu bisa terlihat dimana derajat ondel-ondel di Jakarta sendiri sudah menurun drastis. Jika dulunya adalah bagian penting dari sebuah ritual untuk mengusir setan, kemudian menjadi penghibur dan penampil, sekarang lebih sering terlihat berkeliling di jalan raya untuk mengamen.

Tidak lagi prestisius dan bergengsi.

Oleh karena itulah, para ondel-ondel pun merasakan tekanan dalam mendapatkan penghasilan. Situasinya sudah berubah dan tidak seperti dulu lagi. Tidak lagi bisa mendapatkan panggilan dengan bayaran yang besar dan mungkin hanya bisa menangguk kepingan recehan saja.

Itupun masih harus ditambah dengan persaingan ketat di jalanan. Sudah banyak sekali pengamen di Jakarta dan tentunya dalam berbagai bentuk yang lebih menyesuaikan selera pasar.

Ujungnya, ondel-ondel pun merasakan beratnya bersaing di jalanan.

Itulah mengapa mulai banyak ondel-ondel yang masuk ke Bogor dan hadir secara rutin. Di Jakarta, mereka sudah kalah bersaing dan sulit bagi mereka untuk terus bertahan. Langkah pemecahannya sudah ditemukan, yaitu mengais rejeki di kota orang.

Bagaimanapun, masyarakat Bogor belum banyak yang melihat ondel-ondel secara langsung. Biasanya mereka sekedar melihat via televisi saja. Tidak secara langsung.

Hal itu tentunya mmeberikan peluang bagus karena ondel-ondel menjadi sesuatu yang spesial di mata mereka dan pada akhirnya memberikan kesempatan bagi ondel-ondel untuk meraup rejeki di sana.

Tidak heran mulai ada beberapa kelompok ondel-ondel yang secara rutin hadir di kota hujan.

Mereka tidak mampu bersaing di kota sendiri dan terpaksa melirik kota lain untuk sekedar mendapatkan nafkah.

Lagipula, Bogor tidak begitu jauh dari Jakarta dan bahkan sebagian besar penampil ondel-ondel tinggal di lokasi perbatasan kedua kota. Jadi, klop-lah semuanya.

Bangku di Selokan, Bukti Kucing-Kucingan PKL dan Satpol PP

Bangku di Selokan, Bukti Kucing-Kucingan PKL dan Satpol PP

Kucing-kucingan antara PKL dan Satpol PP (Pamong Praja) sering terjadi dimanapun. Bukan hanya di kota besar seperti Jakarta, tetapi di banyak kota lain.

Terkadang berakhir mengenaskan, tetapi tidak jarang ada rasa lucu saat melihatnya. Masing-masing sedang menjalankan fungsinya. Yang satu sedang berjuang mencari nafkah bagi keluarganya, yang lainnya sedang melaksanakan tugas menertibkan dan sekaligus juga mencari penghidupan bagi anak dan istri di rumah.

Lucu, karena terkadang menghadirkan momen tak terduga.

Seperti bangku kayu yang terpaksa nongkrong di selokan.

Pedagang makanan kaki lima di kawasan Pasar Anyar Bogor ini terburu-buru menyembunyikan peralatan dagangannya karena ada patroli satpol PP lewat.

Berbagai barang yang berukuran kecil bisa dikemas dalam tas dan kantong plastik sehingga mirip dengan orang sedang berbelanja. Tetapi, bangku kayu panjang menjadi masalah karena tidak mungkin dibungkus kantung plastik, padahal benda ini akan mudah terlihat dan petugas bisa mengidentifikasi pemiliknya sebagai PKL. Tentunya hal yang tidak diinginkan.

Ditambah dengan waktu yang mendesak karena petugas patroli yang semakin mendekat.

Tidak kurang akal, dan mungkin karena sudah tahu situasi dan kondisi, sang pedagang langsung memasukkan bangku kayu itu ke dalam selokan yang setengah berair dan penuh sampah.

Tidak terlihat dan akhirnya lolos dari pantauan petugas.

Tertawa juga melihatnya. Walau tetap tahu bahwa sang pedagang kaki lima sebenarnya melanggar aturan ketertiban, tetapi tetap saja terbersit melihat adegan seperti itu. Mirip dengan Tom & Jerry yang tidak pernah akur.