Jumat, 11 Agustus 2017

Kami Harus Cari Makan Dimana?


Bulan Tertib Trotoar di Jakarta memang membawa berkah bagi para pejalan kaki. Sejak lama hak mereka atas trotoar diabaikan dan dikuasai oleh mereka yang tidak berhak, seperti pemotor dan pedagang kaki lima. Dengan diadakannya penertiban oleh Pemda DKI Jakarta, hak mereka untuk mendapatkan keamanan dan kenyamanan berjalan kaki dikembalikan.

Tetapi, sadar atau tidak disadari, pengembalian "hak" tersebut membuat runyam juga kehidupan beberapa pihak. Ada pihak yang merasa kesusahan akibat penertiban tersebut. Banyak yang mengatakan "Kami harus cari makan dimana?".

Pedagang kaki lima? Sudah pasti. Periuk nasi mereka yang mengandalkan pada berdagang di area yang tidak seharusnya terancam terguling dan tidak bisa terpenuhi. Disebut salah, ya salah karena peraturannya memang tidak diperkenankan berdagang di trotoar. Jadi, memang sudah resikonya.

Tetapi, bukan cuma para PKL yang mengeluarkan kalimat "Kami harus cari makan dimana?". Ada lagi kalangan yang mengeluarkannya, yaitu para karyawan.

Bukan karena mereka kehilangan mata pencaharian. Mereka tetap digaji oleh tempatnya bekerja dan Bulan Tertib Trotoar tidak berpengaruh terhadap penghasilannya. Jauh dari itu.

Mereka mengatakan begitu karena memang mereka mengalami kesulitan "mencari makan". Sudah merupakan hal biasa kalau para karyawan yang bekerja di gedung ber-AC sekalipun akan mencari makan siang di warteg-warteg (warung Tegal) yang banyak bertebaran di trotoar. Belum lagi warung rokok dan warung kopi.

Dengan menghilangnya warung-warung itu, otomatis ketersediaan penjual makanan pun berkurang. Pada akhirnya membuat para karyawan kebingungan karena harus memutar otak mencari penjual makanan. Tidak mudah mengingat di Jakarta kebanyakan penjual makanan beroperasi di area yang tidak semestinya seperti trotoar.

Kabar baik bagi pejalan kaki, kepusingan bagi karyawan, dan tambahan repot bagi para istri karyawan. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus bangun lebih pagi dan menyiapkan bekal makan siang bagi para suaminya.

Untungnya, hal itu sudah saya lakukan sejak pertama kali bekerja, membawa bekal dari rumah. Jadi, bulan tertib trotoar tidak menyebabkan saya harus mengatakan "Kami harus cari makan dimana?". Paling banter, saya hanya bilang "Waduh, susah nyari kopi nih kalo begini"

Tak apalah, demi ketertiban bersama memang harus ada pengorbanan. Enjoy saja.

Artikel Terkait