Rabu, 30 Agustus 2017

Banyak Orang Indonesia Yang Kalah Oleh Kucing Ini

Kata orang, manusia lebih beradab dibandingkan dengan binatang. Kata orang juga hal itu disebabkan karena manusia diberi akal dan pikiran untuk membedakan mana yang salah dan benar.

Sayangnya, entah kenapa setelah melihat video pendek di bawah ini, saya merasa bahwa ribuan, puluhan ribu, atau bahkan jutaan orang Indonesia kalah oleh binatang, seekor kucing.

Coba saja lihat videonya.

 

Coba bandingkan dengan kelakuan orang Indonesia yang seperti foto di bawah ini.


Kucing dalam video tahu kalau warna merah berarti ia dilarang menyeberang dan ia menunggu hingga lampu berwarna hijau. Sesuatu yang diajarkan kepada manusia sejak kecil.

Foto di bawah hanya sebuah cermin bahwa banyak orang Indonesia yang pengetahuannya tentang lalu lintas jauh di bawah kucing dalam video.

Betul kan?

Jumat, 18 Agustus 2017

Jangan Berdiri di Depan Pintu Commuter Line Saat Tiba di Stasiun


Sebuah kebiasaan buruk yang masih dilakukan banyak penumpang Commuter Line adalah berdiri di depan pintu saat kereta memasuki sebuah stasiun padahal mereka tidak berniat turun di stasiun tersebut.

Padahal, tentunya sudah diketahui bersama bahwa fungsi sebuah pintu adalah untuk keluar masuk orang. Dalam hal ini, pintu tersebut akan dipergunakan oleh para penumpang yang hendak naik atau turun di stasiun tersebut.

Dengan berdiri di depan pintu tersebut maka berarti mereka yang hendak naik atau turun akan terhalang. Gerak mereka terhambat.

Memang bisa dimengerti alasan utama banyak yang gemar berdiri di dekat atau bahkan di depan pintu, yaitu agar mudah keluar. Tetapi, hal itu tidak berarti harus membuat susah orang lain.

Bergeserlah ke dalam agar mereka yang naik menjadi lebih leluasa dan yang mau turun juga bisa bergegas menginjak lantai peron.

Kalau tidak, ya resikonya tanggung sendiri. Banyak orang akan menjadikan Anda sebagai target kekesalan mereka yang merasa terhalang. Lebih buruk lagi, Anda bisa terjungkir keluar atau jatuh karena terdesak orang banyak yang sedang terburu-buru, apalagi di saat jam sibuk.

Kebiasaan kecil nan buruk ini haruslah ditiadakan demi kenyamanan bersama dalam menggunakan transportasi umum.

Jangan terlalu khawatir tidak bisa turun dari kereta. Petugas di stasiun tidak akan memberikan tanda berangkat apabila aktifitas di sekitar pintu belum selesai dan pintu belum menutup dengan sempurna.

Beri ruang untuk penumpang yang lain untuk naik atau turun. Dengan begitu pula kita bisa sedikit ebih maju menjadi masyarakat yang lebih beradab.

Iklan Anti Rokok di Bis TransJakarta


Wajar saja kalau banyak pihak di Indonesia khawatir terhadap masalah rokok. Menurut informasi ada sekitar 90 juta orang perokok di negara ini. Sebuah angka yang luar biasa karena disinyalir Indonesia sudah menempati ranking pertama dalam urusan yang satu ini.

Oleh karena itu, wajar juga kalau pemerintah melakukan berbagai daya upaya agar jumlah tersebut tidak terus bertambah. Bagaimanapun, pada akhirnya hal tersebut bisa memberatkan kerja pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang sehat.

Usaha itu nampak karena semakin gencar dilakukan untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya merokok di berbagai tempat. Juga mulai dilakukan aturan yang lebih ketat dalam urusan menghisap asap tembakau ini.

Salah satu upaya yang cukup unik adalah dengan memajang iklan anti rokok pada kaca bis TransJakarta yang bersliweran di ibukota, Jakarta. Kata-kata yang dipilih pun cukup menyentil dan setidaknya bisa mengingatkan orang-orang yang berada di jalan raya.

Unik dan tidak terasa menggurui. Bahkan yang membacanya pun akan tersenyum apalagi diimbangi dengan image atau gambar yang lucu.

Sepertinya Jakarta harus punya lebih banyak iklan seperti ini terpasang di berbagai sarana transportasi yang beroperasi disana.

Selasa, 15 Agustus 2017

Hindari Menanam Pohon Berbatang Keras Ukuran Besar di Lahan Sempit Dekat Jalan atau Selokan


Sekedar saran, bukan memaksa. Tetapi, saran ini berdasarkan pengalaman sendiri dan juga berdasarkan pengamatan terhadap kebiasaan yang dilakukan banyak orang dalam sebuah kompleks perumahan.

Saran itu adalah "hindari menanam pohon berbatang keras ukuran besar di lahan sempit dekat jalan atau selokan".

Biasanya di dalam sebuah komplek perumahan, pengembang akan menyediakan tanah kecil di luar rumah-rumah yang ada untuk dijadikan taman kecil penghias. Posisinya biasanya berdampingan dengan saluran air dan jalan yang dipergunakan untuk lalu lintas penghuni kompleks perumahan itu.

Nah, biasanya pemilik rumah akan menanam pohon berbatang kayu keras untuk menahan sinar matahari langsung agar tidak masuk ke rumah dan sekaligus membuat rumahnya menjadi teduh. Pemikiran logis dan normal karena siapapun ingin agar rumahnya menjadi teduh dan nyaman.

Biasanya yang menjadi pilihan sebagai pohon peneduh adalah jenis-jenis pohon berbatang kayu keras dan tinggi, seperti Bintaro, Mangga, Jambu, hingga Ketapang.

Hasilnya memang bagus, lingkungan menjadi teduh karena ternaungi oleh rindangnya pohonpohon tersebut. Sayangnya TIDAK GRATIS.

Seiring dengan pertumbuhan bagian atas sang pohon yang semakin rimbun, ternyata bagian bawahnya juga mengalami pertumbuhan yang seimbang. Akar pohon berbatang kayu keras ini pun menjalar dan membesar kemana-mana. Sesuatu yang memang sudah kodratnya agar sang pohon tumbuh kokoh.

Sayangnya, dengan lahan sempit yang tersedia, hal itu sangat bertentangan. Akar tersebut tidak bisa lagi dibatasi oleh tembok atau jalan yang membatasi lahan kecil tersebut. Juluran akar mendorong tembok dan lain-lain yang berada di jalur pertumbuhannya.

Akibatnya, tembok beton sekalipun rontok dan rubuh. Jalan pun rusak dan terangkat. Prasarana pun menjadi rusak karenanya. Belum ditambah akarnya pun menjalar masuk ke dalam saluran air dan membentuk bendungan alami yang menghalangi aliran air di selokan.

Padahal biaya untuk perbaikan jalan dan prasarana lumayan besar.

Itulah mengapa sebaiknya tidak menanam pohon kayu berbatang keras di taman kecil dekat jalan. Hal itu akan memberikan dampak yang kurang baik bagi prasarana lingkungan dan harus ditebus dengan biaya perbaikan yang lumayan besar.

Sebaiknya jenis pohon yang ditanam adalah pohon kecil dengan akar yang tidak menjalar dan berukuran besar. Untuk kebaikan bersama.

Jumat, 11 Agustus 2017

Kami Harus Cari Makan Dimana?


Bulan Tertib Trotoar di Jakarta memang membawa berkah bagi para pejalan kaki. Sejak lama hak mereka atas trotoar diabaikan dan dikuasai oleh mereka yang tidak berhak, seperti pemotor dan pedagang kaki lima. Dengan diadakannya penertiban oleh Pemda DKI Jakarta, hak mereka untuk mendapatkan keamanan dan kenyamanan berjalan kaki dikembalikan.

Tetapi, sadar atau tidak disadari, pengembalian "hak" tersebut membuat runyam juga kehidupan beberapa pihak. Ada pihak yang merasa kesusahan akibat penertiban tersebut. Banyak yang mengatakan "Kami harus cari makan dimana?".

Pedagang kaki lima? Sudah pasti. Periuk nasi mereka yang mengandalkan pada berdagang di area yang tidak seharusnya terancam terguling dan tidak bisa terpenuhi. Disebut salah, ya salah karena peraturannya memang tidak diperkenankan berdagang di trotoar. Jadi, memang sudah resikonya.

Tetapi, bukan cuma para PKL yang mengeluarkan kalimat "Kami harus cari makan dimana?". Ada lagi kalangan yang mengeluarkannya, yaitu para karyawan.

Bukan karena mereka kehilangan mata pencaharian. Mereka tetap digaji oleh tempatnya bekerja dan Bulan Tertib Trotoar tidak berpengaruh terhadap penghasilannya. Jauh dari itu.

Mereka mengatakan begitu karena memang mereka mengalami kesulitan "mencari makan". Sudah merupakan hal biasa kalau para karyawan yang bekerja di gedung ber-AC sekalipun akan mencari makan siang di warteg-warteg (warung Tegal) yang banyak bertebaran di trotoar. Belum lagi warung rokok dan warung kopi.

Dengan menghilangnya warung-warung itu, otomatis ketersediaan penjual makanan pun berkurang. Pada akhirnya membuat para karyawan kebingungan karena harus memutar otak mencari penjual makanan. Tidak mudah mengingat di Jakarta kebanyakan penjual makanan beroperasi di area yang tidak semestinya seperti trotoar.

Kabar baik bagi pejalan kaki, kepusingan bagi karyawan, dan tambahan repot bagi para istri karyawan. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus bangun lebih pagi dan menyiapkan bekal makan siang bagi para suaminya.

Untungnya, hal itu sudah saya lakukan sejak pertama kali bekerja, membawa bekal dari rumah. Jadi, bulan tertib trotoar tidak menyebabkan saya harus mengatakan "Kami harus cari makan dimana?". Paling banter, saya hanya bilang "Waduh, susah nyari kopi nih kalo begini"

Tak apalah, demi ketertiban bersama memang harus ada pengorbanan. Enjoy saja.

Perlu Nggak Sih Memasang Gelar Akademis Di Undangan Pernikahan?


Pernah menerima undangan pernikahan dimana calon pengantinnya memajang gelar akademis berderet, atau paling tidak satu? Atau bisa juga si bagian "turut mengundang" yang penuh dengan deretan gelar?

Rasanya setidaknya sekali seumur hidup pernah lah menerima yang seperti ini. Justru akan mengherankan kalau belum pernah, lha ya wong semakin hari rasanya semakin sering saja orang memajang gelar akademis di undangan pernikahan, dan bahkan khitanan.

Pernahkah terpikirkan mengapa gelar-gelar itu harus dicantumkan?

Sebagai orang iseng, saya sering mikir apa alasan di balik kebiasaan seperti ini.

Gelar akademis adalah gelar akademis dan seharusnya dipergunakan dalam lingkungan atau segala sesuatu yang terkait dengan kegiatan akademis. Pernikahan atau khitanan dimana-mana juga jelas bukan kegiatan akademis, lalu mengapa para pengantinnya suka sekali memakai gelar akademis mereka?

Padahal para guru besar sekelas Hakim Mahkamah Konstitusi saja justru menanggalkan gelar Profesor mereka saat bertugas. Lihat beritanya di sini . Mereka menyadari bahwa profesi atau jabatannya sebagai hakim bukanlah kegiatan akademis.

Nah, utak utik sedikit, ditemukanlah bahwa hal itu berkaitan dengan keranjingannya masyarakat Indonesia terhadap yang namanya "status sosial".

Status sosial itu beragam, ada yang dilihat dari segi materi, ketenaran, pendidikan, dan lain sebagainya. Nah, dengan adanya gelar akademis di belakang nama yang tertera pada undangn pernikahan, hal itu diharapkan "menaikkan" derajat sang pengantin atau yang mengundang. Dengan begitu mereka berharap bahwa masyarakat akan memandangnya dengan sedikit berbeda, yaitu sebagai kalangan terpelajar.

Penggunaannya jelas tidak tepat. Mau diutak atik seperti apapun, Sarjana Teknik, Sarjana Pendidikan, Insinyur, dan sejenisnya adalah gelar akademis dan berlaku di bidang akademis. Diluar itu gelar itu sebenarnya tidak memiliki fungsi, selain bikin kagum mata calon mertua.

Salah atau tidak itu masalah relatif, begitu juga perlu atau tidak, tetapi penggunaan gelar akademis di undangan pernikahan, adalah salah satu bentuk perwujudan masyarakat "penggila" status sosial.

Satu kemungkinan lagi kenapa gelar akademis ikut dipajang di undangan adalah soal isi amplop. Memang sih tidak semua, tetapi kadang masyarakat juga terbiasa memberikan amplop yang isinya lebih sedikit pada masyarakat kalangan "bawah" dan memberi yang lebih tebal bagi kalangan "atas". Dengan memakai gelar, tentunya yang mengundang menaikkan levelnya sedikit dan mungkin membuat segan untuk memberikan amplop yang "tipis" kepada yang sedang hajatan.

Padahal mah, tetap saja kalau harus mengisi amplop saat mau kondangan, saya tidak pernah lihat gelar yang tercantum. Saya lebih melihat ke isi dompet sendiri ada berapa lembar yang tersisa.

Kamis, 10 Agustus 2017

Betulkah Hukum di Indonesia Pilih Kasih?

Pertanyaan sulit dan pasti menimbulkan perdebatan panjang, baik di atas kursi empuk Dewan Perwakilan Rakyat, ruang pengadilan, atau juga di warung-warung kopi. Betulkah hukum di Indonesia pilih kasih?

Kalau hasil pandangan sendiri dalam keseharian, ada benarnya juga. Sebelum ini saya pernah menulis bagaimana seorang pria menolak ditilang dan marah-marah kepada polisi yang menilangnya. Kejadiannya terjadi di Jalan Wahid Hasyim dekat dengan statisun Gondangdia.

Fotonya seperti di bawah ini.


Pria itu berjuang keras berusaha agar sang polisi membatalkan tilangnya. Sulit dibantah karena memang terlihat mobilnya parkir di trotoar.

Hanya....

Mungkin ia sempat melihat sebuah hal lain yang lokasinya hanya sekitar 20 meter saja dari tempat dimana perdebatannya dengan polisi terjadi.

Foto ini diambil setelah saya melewati lokasi perdebatan.


Yap. Sebuah bus terparkir dengan nyamannya di atas trotoar. Tentunya sudah pasti menutupi jalan bagi pejalan kaki dan tentunya ukurannya lebih besar dibandingkan sedan si bapak.

Lebih parah lagi, bus tersebut terparkir di dekat tanda dilarang parkir.

Tetapi, sang polisi yang menilang si bapak tidak melakukan penindakan terhadap si bus ini. Entah kenapa alasannya. Yang pasti jelas tidak mungkin tidak terlihat karena lokasinya benar-benar dekat sekali dan juga fisik bongsor si bus pasti mudah terlihat.

Mungkin karena itulah si bapak menolak dan marah-marah kepada sang polisi karena ia merasa diperlakukan berat sebelah.. mungkin ya.

Nah, kalau melihat kasus yang terjadi di depan mata ini, memang tidak salah kalau hukum di Indonesia cenderung pilih kasih. Atau mungkin hukumnya tidak pilih kasih (karena dia bukan manusia), tetapi petugasnya saja yang pilih kasih.

Yang manapun bisa dikata memang si bapak sedang sial dan si bus sedang baik nasibnya.

Penghambat Kegiatan Ngeblog Yang Paling Utama

Tags

Cuma satu yang menjadi penghambat kegiatan ngeblog yang sulit dipecahkan. Terutama jika blogger tersebut adalah blogger part time dan bukan blogger full time.

Penghambat itu bernama "kegiatan rutin sehari-hari". Hal itu termasuk bekerja di kantor, mengantar anak, memasak, berbelanja, hingga menjadi pengurus RT.

Mau tidak mau seorang blogger part time masih akan selalu mendahulukan "kegiatan rutin" tersebut dibandingkan mengelola blognya. Mentalitas seorang blogger part time memang akan memprioritaskan kehidupan di dunia nyata dibandingkan blognya.

Itulah yang terkadang membuat sebuah blog menjadi tidak bisa berkembang dengan baik karena perhatian pemiliknya belum 100% terfokus pada bagaimana membangun, mengembangkan, dan memajukan blognya. Keterikatan antar keduanya belum 100%.

Dengan begitu, laju si blog sendiri tertahan dan tidak bisa mencapai titik maksimum. Penggeraknya masih setengah hati sehingga tidak memberikan daya full kepada sang blog.

Pemecahannya sulit karena butuh keberanian, perhitungan dan banyak kenekatan., yaitu menjadi full time blogger dan menggantungkan kehidupan pada blognya. Dengan begitu, seperti layaknya orang yang kepepet, maka sang blogger akan secara otomatis berjuang sekeras mungkin agar blognya maju dan bisa menghasilkan uang.

Sudah pasti hal itu akan terjadi karena kalau blognya tidak berkembang dan tidak bisa menghasilkan uang, maka kehidupan sang blogger akan terganggu. Ia tidak akan mendapat suplai dana yang cukup untuk menghidupi keluarganya karena itu layaknya makhluk hidup maka ia akan mengeluarkan seluruh daya dan upaya untuk memastikan blognya menjadi penghasil uang.

Beranikah Anda mengambil langkah tersebut dan memeahkan penghambat kegiatan ngeblog Anda?

Kalau saya? Yah, terbitnya artikel di blog Umum Sekali yang sering tersendat sudah menunjukkan sesuatu.. iya kan?

Jumat, 04 Agustus 2017

BULAN TERTIB TROTOAR :Pria Ini Menolak Ditilang Dan Menahan Polisi Agar Membatalkan Surat Tilang

BULAN TERTIB TROTOAR :Pria Ini Menolak Ditilang Dan Menahan Polisi Agar Membatalkan Surat Tilang

Jakarta. Kota metropolitan dan penuh dengan orang pandai dan biasanya orang pandai lebih tahu aturan dan tata tertib. Sayangnya, pada kenyataannya tidak selalu demikian.

Pagi ini Jalan Wahid Hasyim memberikan sebuah contoh bahwa tidak semua orang paham aturan dan lebih parahnya lagi tidak mau menerima konsekuensi atas tindakannya. Sudah biasa kan.

Seorang pria marah-marah dan menolak ditilang karena parkir di trotoar. Itulah kejadiannya dan tidak sengaja terlihat saat saya sedang berjalan menuju ke kantor.

Sudah jelas terlihat bahwa mobilnya (berwarna putih) memang terparkir di atas trotoar, yang merupakan hak pejalan kaki, tetapi pria ini tidak mau menerima surat tilang yang diberikan sang polisi. Pria itu dibantu kawan wanitanya terus berusaha agar sang polisi menarik kembali lembaran berwarna biru yang diserahkannya sebagai tanda tilang.

Sesuatu yang sangat ironis, pastinya. Hampir tidak mungkin sang bapak tidak tahu bahwa di Jakarta sedang dilakukan BULAN TERTIB TROTOAR dimana Pemda DKI Jakarta, dibantu dengan Dinas Perhubungan dan Kepolisian sedang menertibkan penggunaan trotoar.

Mereka bukan hanya menyuruh pergi sepeda motor yang parkir dari trotoar. Bukan pula sekedar memastikan tidak ada pedagang yang berjualan di atas trotoar, tetapi mereka tidak segan untuk emngangkut motor dan menilang siapa saja yang parkir di atas jalan yang seharusnya hanya untuk pejalan kaki.

BULAN TERTIB TROTOAR :Pria Ini Menolak Ditilang Dan Menahan Polisi Agar Membatalkan Surat Tilang


Si bapak entah mengapa tidak merasa bersalah. Mungkin karena ia hanya merasa parkir sebentar saja. Tetapi, ia mungkin lupa bukan masalah sebentar atau lama yang menyebabkan ia ditilang. Masalahnya adalah ia parkir di tempat yang bukan seharusnya dan melanggar hukum, yaitu Undang-Undang Lalu Lintas.

Sebentar atau lama tetap saja melanggar hukum dan merampas hak para pejalan kaki.

Lucunya, ia seperti tidak merasa bersalah. Sesuatu yang tidak mengherankan karena parkir di atas trotoar sudah dianggap biasa oleh banyak orang, meskipun jelas-jelas salah.

BULAN TERTIB TROTOAR :Pria Ini Menolak Ditilang Dan Menahan Polisi Agar Membatalkan Surat Tilang

Lucunya lagi, dan sangat lucu adalah sang pria bertingkah seperti anak kecil yang tidak mau ibunya pergi. Ia memegang setang motor sang polisi dan menahannya sehingga si polisi kerepotan karena sepeda motornya tertahan.

Bahkan saat sang polisi mundur untuk mendapatkan ruang, sang pria terus memegang dan menahan agar sang polisi tidak bisa pergi. Mirip seperti anak kecil yang ngambek karena tidak diajak ke pasar.

Untungnya setelah beberapa saat, sang polisi bisa "mundur" agak jauh dan kemudian berlalu.

Lucu memang. Sudah salah, tidak mau mengaku salah, dan membuat kerepotan. Khas sekali orang Indonesia yang sering sudah salah malah marah-marah.

Sebuah cermin betapa masih jauhnya masyarakat Indonesia untuk menjadi masyarakat beradab yang bisa mematuhi peraturan atau siap menerima konsekuensinya.

Untung, sang Asus T00N selalu siap sedia sehingga momen lucu sekaligus mengenaskan ini bisa terekam, walau dari kejauhan.

Kamis, 03 Agustus 2017

Ojeg Online Sama Saja Dengan Ojeg Pangkalan, Kata Siapa Berbeda?


Saat pertama kali Ojeg Online diperkenalkan di bumi Jakarta, sempat terpikir bahwa perubahan itu akan datang. Salah satu point of interest atau daya tarik yang dipromosikan oleh pengelola taxi beroda dua via aplikasi ini adalah para pengendara mereka sudah mendapatkan pelatihan tentang tata tertib berlalu lintas.

Dengan begitu dikesankan kalau para anggota ojeg online, selain lebih rapih karena berseragam, juga lebih tahu aturan di jalan raya dan mengutamakan keselamatan para penumpangnya.

Setelah beberapa waktu kesan tersebut sirna. Tidak ada bekas sama sekali.

Selain seragamnya yang berwarna-warni cerah, tidak ada yang berbeda antara ojeg online dengan ojeg pangkalan. Mereka sama terutama dalam tingkah laku berkendara.

Melanggar lampu merah, menerobos trotoar, ngebut, parkir sembarangan dan masih banyak lagi tingkah laku buruk yang dilakukan para pengendara ojeg online. Hal itu tidak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para ojeg pangkalan dan para pemotor.

Persis. Tidak berbeda sama sekali.

Jadi, berapapun biaya promosi yang dilkeluarkan oleh Grab, Go, atau jenis-jenis transportasi berbasis aplikasi lainnya, hal itu tidak menjamin apa yang ditemukan di lapangan sesuai. Biaya tersebut hanya untuk menghasilkan citra saja dan bukan menyediakan apa yang dipromosikan di lapangan.

Foto di atas adalah contohnya. Terlihat sekali jaket-jaket berwarna hijau yang biasa dipergunakan pengendara ojeg online sedang menunggu di luar batas yang ditentukan pada saat lampu merah sedang menyala.

Tidak perlulah dijelaskan seharusnya dimana mereka menunggu karena sejak SD hingga dewasa pun sudah diketahui apa gunanya lampu merah.

Ini hanya satu foto saja dari ribuan kejadian yang terlihat hanya di kawasan Jalan Wahid Hasyim di depan Hotel Grand Cemara. Bayangkan berapa banyak kejadian yang terjadi di seluruh Jakarta.

Tidak akan terhitung.

PKL di Trotoar Jakarta Juga Tidak Gratis Lo, Mereka Juga Membayar "Iuran"


NO FREE LUNCH. Tidak ada makan siang gratis. Tidak ada yang tidak perlu membayar. Itu pepatah kaum bule. Kenyataannya memang demikian. Bahkan di dunia perdagangan level bawah alias PKL.

Sudah menjadi sebuah rahasia umum bahwa PKL di trotoar Jakarta, dan banyak trotoar lain di berbagai kota Indonesia membayar "iuran" untuk bisa berdagang di lokasi tersebut. Publik yakin kalau mereka juga memberi setoran kepada seseorang.

Hasil ngobrol-ngobrol dan nongkrong-nongkrong dengan beberapa pedagang dan kenalan di Jalan Wahid Hasyim membenarkan hal itu. Ternyata harga "iuran" yang dikeluarkan para PKL di trotoar sepanjang jalan tersebut membuat tercengang juga.

Sebuah lapak yang hanya cukup untuk etalase kaca beroda ukuran1.5 M X 0.5 M harus ditebus dengan uang 8 juta rupiah pertahun. Woww... Tidak murah. Lebih jauh lagi, ada rumor bahwa sebuah warteg yang posisinya nyempil di sudut sebuah gang di jalan yang sama, harus membayar "iuran" 30 juta rupiah, per tahun.

Iuran kepada siapa?

Ini yang sering menimbulkan prasangka buruk. Banyak dugaan kalau mereka menyetor kepada "petugas" (entah siapa), tetapi hasil ngobrol-ngobrol setoran itu bukan kepada petugas tetapi kepada "preman" yang menguasai wilayah itu.

Entah apa kekuasaan preman itu sehingga mereka bisa memungut iuran seenaknya. Mungkin ada beking? Maybe.. bisa juga tidak.

Tetapi, yang jelas para PKL di trotoar Jakarta adalah sapi perahan juga dari orang-orang lain yang merasa dirinya punya kuasa di suatu daerah.

Padahal ketika ada penertiban, seperti yang dilakukan Pemda DKI Jakarta dalam rangka BULAN TERTIB TROTOAR, Agustus 2017 ini, preman-preman itu tidak bisa membantu apa-apa. Para PKL trotoar terpaksa harus mengungsi dan bersembunyi.

Mungkin, jika memang mau menghentikan kebiasaan berdagang di atas trotoar, Pemda DKI Jakarta harus juga bisa memberantas premanisme disana. Mereka ini adalah biang dari permasalahn yang membuat ibukota menjadi tidak tertib.

Kalau tidak bisa, hasilnya akan tidak maksimal. Para preman ini akan terus memasarkan trotoar agar mereka bisa mengeruk uang dari pedagang yang membutuhkannya. Mereka perlu sapi perah untuk mendapatkan uang dan itu dilakukannya dengan "menjual lahan" yang seharusnya merupakan hak pejalan kaki.

Sebuah budaya yang harus terus diberantas.

Dan, bukan sekedar dengan menertibkan para PKL di trotoar saja karena mereka hanyalah sebagian dari masalah. Bukan keseluruhan masalah.

Butuh Lebih Dari BULAN TERTIB TROTOAR Untuk Mengembalikan Hak Pejalan Kaki Atas Trotoar


Sejak 1 Agustus 2017,  dua hari yang lalu, Pemerintah Daerah DKi Jakarta mulai menggerakkan petugasnya untuk membersihkan trotoar di ibukota. Hal itu sebagai perwujudan dari dicanangkannya BULAN TERTIB TROTOAR di kota berpenduduk lebih dari 10 juta tersebut.

Pencanangan ini merupakan lanjutan dari kasus yang sempat menjadi viral di dunia maya, yaitu para pemotor yang marah-marah ketika mereka dihalangi oleh Koalisi Pejalan Kaki di Jalan Kebon Sirih. Sesuatu yang membuat geram banyak netizen melihat betapa pongahnya para pemotor di Jakarta.

Untuk mencegah hal yang sama terulang Pemda DKI Jakarta pun mencetuskan BULAN TERTIB TROTOAR dan mulai melakukan penertiban di berbagai jalan di ibukota. Bukan hanya pemotor yang melintas, tetapi juga para Pedagang Kaki Lima yang sudah lama menguasai hampir semua trotoar di kota ini.

Sudah tiga hari ini petugas Satpol PP dan juga Dinas Perhubungan DKI Jakarta ditambah satuan kepolisian mulai melakukan penindakan terhadap mereka yang parkir motor di trotoar. Mulai dari pemberian tilang hingga mengangkut sepeda motor yang diparkir.

Sebuah tindakan yang baik. Trotoar adalah hak pejalan kaki dan memang harus dikembalikan kepada yang berhak.

Hanya saja, butuh lebih dari Bulan Tertib Trotoar untuk bisa mengubah budaya buruk masyarakat Indonesia dan merubah kebiasaan yang menempatkan pejalan kaki sebagai kasta terendah dari pengguna jalan.

Buktinya, setelah para petugas pergi berpatroli ke tempat lain, beberapa lokasi di Jalan Wahid Hasyim Jakarta kembali dikuasai para pemotor yang dengan santainya memarkir motor di atas trotoar tanpa rasa bersalah.

Sudah biasa kucing-kucingan seperti ini terjadi. Di kala petugas ada, mereka menghilang dan di kala petugas pergi mereka datang.

Butuh lebih dari itu.

Untuk mengembalikan trotoar ke mereka yang berhak butuh TAHUN TERTIB TROTOAR yang harus dilakukan setiap tahun. Juga penertiban harus dilakukan setiap hari dan tidak boleh putus.

Barulah dengan begitu akan terasa dampaknya pada perubahan kebiasaan dalam masyarakat. Itupun, mungkin setelah melalui 3-4 TAHUN TERTIB TROTOAR ada perubahan signifikan.

Kebebalan para pemotor dan pengendara Indonesia, bukan hanya Jakarta, bukanlah sesuatu yang baru dan masalah yang mudah dipecahkan. Mereka tidak pernah merasa salah dan merasa berhak menguasai trotoar karena sudah sejak lama dibiasakan oleh tumpulnya hukum di Indonesia.

Hal itu sama sekali tidak bisa diurai hanya dalam 30 hari.

Bulan Tertib Trotoar adalah sesuatu yang baik, hanya, untuk menghapus kebodohan tidak cukup hanya 1 bulan saja. Butuh lebih lama, lebih banyak, dan lebih keras lagi untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Percayalah, walau saya bukan ahli, saya setiap hari melihat orang-orang bodoh tak beradab bersliweran dengan sepeda motor mereka.


Rabu, 02 Agustus 2017

Bukan Hanya Merekam Keindahan, Fotografer Harus Juga Bisa Membuat Keindahan Dari Sesuatu Yang Tidak Indah

Tags

Yah, mudah membuat sebuah foto yang indah kalau obyeknya indah. Itulah mengapa banyak orang gemar memotret keindahan pemandangan, baik di pantai atau di pegunungan. Tidak heran juga banyak penggemar fotografi menyukai memotret model atau wanita cantik dengan badan semlohay.

Pada dasarnya obyek-obyek foto seperti itu sejak awal sudah membangkitkan "hasrat" keindahan di dalam hati dan kemudian hanya perlu menterjemahkannya ke dalam sebuah foto.

Tetapi, jempol saya akan teracung kalau melihat foto yang obyeknya sebenarnya biasa saja, seperti nenek peyot atau rumah gubuk, tetapi berhasil menimbulkan rasa "keindahan" di dalam hati.

Tidak mudah dan jelas sangat sulit.

Obyek-obyek seperti ini tidak akan menghadirkan rasa indah dalam diri manusia. Siapa yang akan melirik wanita tua berbadan kurus dan tidak proporsional dengan kulit yang mengeriput mondar mandir seribu kali di depan mata. Hampir pasti tidak, tetapi ribuan mata akan segera melirik kalau cewek seperti Nikita Mirzani lewat meski hanya beberapa detik saja.

Itulah hebatnya para fotografer terkenal seperti Bruce Gilden atau Eric Kim. Dua nama yang kondang di jagad fotografi jalanan.

Keduanya berhasil "melahirkan" keindahan dari kehidupan sehari-hari yang sebenarnya biasa saja. Sesuatu yang umum dilihat setiap hari.

Tentunya sangat tidak mudah.

Selain penguasaan teknik fotografi yang mumpuni, mereka juga berhasil menghidupkan rasa di hati mereka terhadap obyeknya, membangun keterikatan dan kemudian menterjemahkannya ke dalam foto-foto mereka.

Sesuatu yang hingga kini masih sulit saya lakukan. Cangkir kopi dan bungkus rokok ini hanyalah sebuah usaha untuk mencoba membuat keindahan dari sesuatu yang tidak indah. Tidak tahu apakah sudah bisa melahirkan "rasa" itu pada yang melihatnya, tetapi setidaknya bagi saya, benda-benda ini tidak lagi seperti sekedar cangkir kopi, bungkus rokok, dan korek api.