Senin, 17 Juli 2017

[Ngenes] Melihat Nasib Ondel-Ondel di Jakarta


Bagaimana tidak ngenes, ondel-ondel adalah kesenian yang digadang-gadang sebagai ciri khas Jakarta, kota dimana dulu masyarakat Betawi merupakan intinya. Boneka besar setinggi 2 meteran ini juga kerap tertulis pada berbagai buku pelajaran dan teks pidato para pejabat saat berpidato tentang seni budaya di ibukota.

Semua bangga dan membanggakannya.

Cuma, melihat keseharian di lapangan, sepertinya antara kenyataan dan teori bak bumi dan langit.

Teorinya, kalau sesuatu dianggap khas, istimewa, tentunya harus diberikan perhatian khusus dan diperlakukan secara khusus pula. Tujuannya jelas agar kesenian ini tidak punah dan menghilang dari bumi Indonesia. Logikanya seperti itu.

Prakteknya berbeda sekali.

Sosok ondel-ondel sering melintas di Jalan Wahid Hasyim Jakarta hampir setiap hari. Kelihatannya ada dua rombongan berbeda karena jenis ondel-ondelnya berbeda.

Yang sama hanya satu, mereka mengais recehan dari orang-orang di sepanjang jalan itu. Biasanya mereka akan berjoged sementara satu dua orang dengan kaleng bekas cat akan berkeliling mengharapkan orang yang lewat untuk memasukkan uang ke dalamnya.

Sering sama sekali tidak ada yang memberi.

Kesenian yang katanya khas Betawi dan peninggalan budaya lokal yang adiluhung seperti turun derajat menjadi tidak berbeda dengan pengemis untuk bisa bertahan hidup. Seni yang katanya istimewa untuk tetap bertahan hidup saja sulit sekali.

Sudah selayaknya seharusnya para seniman ondel-ondel diperhatikan dan dibina. Bagaimanapun mereka perlu makan untuk hidup dan untuk itu berarti butuh uang, bukan sekedar disebut dalam pidato atau buku pelajaran. Yang seperti itu tidak akan membuat perut orang di dalam ondel-ondel kenyang.

Jika mereka bisa mendapatkan nafkah yang layak tentunya mereka bisa tetap berjuang melestarikan ondel-ondel itu sendiri. Sebaliknya, jika hidup sebagai pemain ondel-ondel dirasa tidak bisa, setidaknya, memberi kehidupan yang layak, sudah pasti mereka akan berpaling dan mencari yang lebih menjanjikan.

Itu hukum alam dan kodrat manusia.

Bila itu terjadi, maka tidak akan ada yang memainkan ondel-ondel lagi. Bonekanya hanya akan terpajang, entah dimana, dan tidak bergerak-gerak lagi untuk , menolak bala seperti saat lahirnya. Ia hanya menjadi boneka kaku yang akan lapuk dimakan rayap dan tidak bermakna apa-apa.

Ondel-ondel bukan hanya bonekanya. Ondel-ondel adalah kesatuan antara pemain dan bonekanya. Ondel-ondel harus bergerak gerak menakuti hantu. Kalau tidak bergerak bukan ondel-ondel namanya.

Dan, kalau tidak ada pemainnya karena mereka memilih jadi tukang parkir atau pekerja bangunan, maka tidak akan ada ondel-ondel.

Pada saat itu terjadi, Indonesia akan kehilangan satu lagi budaya lokal yang memiliki nilai historis tinggi bagi masyarakat Betawi dan Indonesia.

Ataukah memang punahnya sebuah seni budaya asli Indonesia dianggap sebagai sebuah hal yang memang harus terjadi?

Kalau memang para pemangku kepentingan melihat seperti itu, makin ngenes saja melihat nasib ondel-ondel di Jakarta. Mereka jadi seperti orang sakit dan sekarat, tetapi dokternya tidak mau menolong.

Hampir pasti akan mati.

Siapa coba, yang tidak akan merasa sedih, dan tersayat melihat hal seperti itu.

Artikel Terkait