Selasa, 18 Juli 2017

Menjadi Lebih Efisien Dengan Menggunakan KMT atau Kartu Multi Trip


PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek) sepertinya sedang gencar mempromosikan kepada pengguna KRL (Kereta Rel Listrik) Jabodetabek untuk mengunakan KMT atau Kartu Multi Trip dibandingkan THB atau Tiket Harian Berjaminan.

Hal itu terlihat pada banyaknya spanduk atau papan iklan, baik di stasiun atau kabin kereta yang menyarankan agar pengguna jasa Commuter Line segera beralih ke KMT.

Mungkin PT KCJ sudah merasa kewalahan dengan animo masyarakat untuk menggunakan si CL yang begitu besar. Antrian mengular di depan loket atau Automatic Ticket Vending Machine terjadi setiap hari untuk membeli THB, tiket eceran untuk sekali perjalanan.

Mungkin perusahaan itu juga sudah mulai gerah karena banyak keluhan atau komplain disampaikan pengguna jasa yang harus mengantri lama untuk mendapatkan tiket.

Kepopuleran memang terkadang menimbulkan masalah juga.

Oleh karena itu mereka semakin gencar menyarankan penggunaan KMT.

Masalah utamanya adalah KMT harus dibeli seharga Rp. 50,000.- pada awalnya. Kartu ini saat pertama kali dibeli akan berisi saldo 30 ribu rupiah. Jadi harga kartunya sendiri 20 ribu.

Mahal? Tidak sebenarnya, tetapi, masyarakat Indonesia terkenal sangat pelit dalam hal-hal seperti ini dan terkadang berpikir pendek. Contohnya kasus kantung plastik berbayar, yang hanya 200 perak saja membuat banyak orang seperti kebakaran jenggot karena merasa dirugikan, dan tidak bisa melihat hal itu dilakukan untuk membangun kebiasaan menjaga lingkungan karena plastik adalah musuh lingkungan karena susah terurai secara alami.

Begitu juga dalam kasus KMT ini. Angka 50 ribu membuat banyak orang berpikir ulang untuk memilikinya, padahal kartu ini akan memberikan keluwesan dan membuat penggunanya menjadi efektif dan lebih efisien dalam memanfaatkan waktu.

Coba saja perhatikan hal-hal di bawah ini.


  • Hanya perlu mengantri 1 atau 2 kali sebulan untuk melakukan top up atau isi ulang
  • Tidak perlu ikut antrian panjang setiap hari kalau mau naik
  • Tidak perlu bolak-balik ke loket hanya untuk refund atau mendapatkan kembali uang jaminan
  • Tidak perlu terburu-buru karena bisa langsung menuju gate stasiun setiap hari
  • Sekarang bisa diisi ulang di Alfamart dan ATM bersama
  • Tidak ada masa berlaku alias kalai tidak rusak bisa dipergunakan seumur hidup
Sesuatu yang jelas lebih murah untuj sebuah kartu yang hanya 20 ribu saja.

Yang ditakutkan banyak orang bahwa KMT itu akan sia-sia karena mereka jarang naik kereta. Padahal kalau melihat kebiasaan , paling tidak orang di Bogor, bisa menggunakan jasa si CL ini 1 atau 2 kali setiap bulannya. Bahkan ibu-ibu pun sering menggunakannya untuk pergi berbelanja ke Tanah Abang.

KMT juga tanpa nama, alias bisa dipergunakan oleh orang yang berbeda. Jika memang tidak dipergunakan oleh yang membeli bisa digunakan oleh anak, menantu, cucu, bahkan tetangga tanpa masalah, selama saldonya masih ada.

Jadi, memang perlu keluar modal pada awalnya. Tidak besar dan sebenarnya selain untuk membeli kartunya sendiri, yang tentu perlu dicetak, sebenarnya untuk membeli "sesuatu" di mada depan.

Sesuatu itu adalah "waktu" yang dihasilkan dari penghematan karena tidak perlu mengantri. Jumlahnya lebih banyak dibandingkan 20 ribu kalau dihitung secara nominal. Pengguna jasa menjadi orang yang lebih efisien dalam menggunakan waktu.

Artikel Terkait