Jumat, 21 Juli 2017

Menghindari Membuat Foto Yang Sepi dan Kosong


Foto sepi dan kosong, itu istilah yang saya pergunakan untuk jenis foto seperti di atas. Foto tipe seperti ini banyak dibuat oleh mereka-mereka yang sedang berwisata.

Terkagum pada keindahan alam yang ada di hadapannya, biasanya orang akan cenderung menekan tombol shutter release secara refleks. Mereka ingin mengabadikan apa yang idrasa dan dilihat serta ingin orang ikut merasakan apa yang dirasakannya saat melihat pemandangan seperti ini.

Sayangnya, kebanyakan setelah kembali ke "alam nyata" dan lepas dari biusan keindahan yang dilihatnya, barulah mereka kecewa dan menyadari bahwa hasil fotonya tidak mencerminkan apa yang dilihat dan dirasanya.

Mereka lupa satu hal.

Perasaan keindahan itu lahir karena manusia punya rasa, sedangkan kamera tidak. Kamera tidak bisa menampilkan rasa.

Itulah kenapa seorang fotografer biasanya akan berdiam diri saat melihat hal seperti ini. Jari telunjuk mereka akan lepaskan dari tombol shutter dan kemudian menikmati saja pemandangan indah yang disajikan alam di hadapannya.

Barulah setelah perasaan itu mereda, mereka akan mengangkat kembali kameranya, dan kemudian melakukan satu hal.

BERPIKIR.

Yap. Fotografi juga perlu berpikir. Tidak bisa dilakukan tanpa memutar otak karena disana ada ide, fokus, obyek, dan banyak hal lainnya.

Salah satu yang dipikirkannya adalah apakah pemandangan indah yang dilihatnya harus dijadikan subyek utama atau latar belakang saja. Seorang landscaper akan menjadikannya subye, tetapi fotografer jalanan, seperti saya akan menjadikannya latar belakang. Keduanya akan memerlukan teknik yang berbeda.

Nah, foto sepi dan kosong seperti di atas, tidak menyenangkan untuk dilihat, bahkan bagi saya sendiri. Tidak ada jiwa. Saya merasa bahwa pemandangan itu bagus, kalau ada sedikit tambahan pelengkap sehingga memberikan sedikit "jiwa" di dalam fotonya.

Untuk itulah, saya memanfaatkan beberapa orang pekerja yang akan menuju lokasi tempat kerjanya sebagai tambahan dalam foto. Hasilnya :


Tidak lagi kosong. Ada jiwa dalam siluet sosok manusia di dalamnya.

Yang perlu dilakukan hanya menunggu pada satu titik dimana latar belakang dianggap yang terbaik dan kemudian membiarkan obyek pelengkapnya lewat dengan sendirinya. Menunda beberapa detik hingga sang pekerja berada pada tempat sesuai teori rule of thirds.

Menunggu, bersabar, dan jeli melihat situasi. Hal itu akan membantu menghindari foto yang sepi dan kosong.

Artikel Terkait