Senin, 17 Juli 2017

Jangan Lupa Memakai Kain Saat Berkunjung ke Pura Uluwatu, dan Jangan Lupa Mengembalikannya Juga

Tags


Saat sedang berlibur, sudah biasa kalau orang akan menggunakan pakaian sesantai mungkin. Yang penting nyaman dipakai dan tidak mereportkan. Celana pendek, celana ketat yang menonjolkan lekuk tubuh, atau terbuka sering menjadi pilihan.

Terutama celana pendek dan pakaian terbuka merupakan pilihan favorit untuk menghindarkan rasa gerah, apalagi saat berkunjung ke Bali, Pulau Dewata yang penuh dengan pantai. Hawa udaranya lumayan panas dan menimbulkan rasa gerah yang amat sangat. Pakaian seperti ini sangat membantu.

Sayangnya, banyak tempat wisata di pulau ini berbentuk tempat ibadah, pura. Memang tidak heran karena bangunan ibadah warga Hindu ini banyak terdapat disana dan memiliki kandungan nilai historis yang tinggi. Tentunya, pakaian seperti itu tidak sesuai dan dianggap tidak pantas untuk dikenakan saat berada di dalamnya.

Tentunya akan menjadi masalah tersendiri bagi para wisatawan yang sudah pasti tidak akan membawa perlengkapan seperti itu saat melancong.

Lalu bagaimana?

Tidak perlu khawatir. Masyarakat Bali menyadari sepenuhnya bahwa wisatawan adalah sumber penghidupan bagi banyak orang. Mereka juga mendatangkan biaya yang bisa menutupi pemeliharaan pura-pura disana.

Oleh karena itu, tidak heran, di setiap pintu masuk pura di Bali tersedia sebuah konter khusus yang menyediakan kain atau sarung bagi para wisatawan. Mereka yang hendak masuk tetapi memakai pakaian yang "tidak pantas" menurut adat dan tatacara pura bisa meminjamnya agar mereka menjadi "pantas" berada di dalamnya

Gratis.

Tidak dikenakan biaya sama sekali.

Salah satu pura di Bali yang menyediakan adalah Pura Agung Uluwatu. Sebuah konter di dekat pintu masuk menyediakan kain-kain atau sarung yang bisa dipinjam.

Sebuah usaha dan solusi yang baik sekali. Dengan begitu, wisatawan tetap bisa terpuaskan karena bisa melihat bagian dalam bangunan ibadah bersejarah itu. Kepantasan sesuai tata cara dan adat Bali pun tetap terjaga. Yang pasti, uang pun akan mengalir dari para wisatwan.

Semua hepi, semua gembira, semua untung.

Hanya yang terpikir, semoga tidak ada yang lupa mengembalikannya karena tidak ada yang mengawasi dan tidak ada yang menghitung kain-kain yang disediakan.

Tetapi, kalau melihat kebiasaan yang berkunjung kesana, rupanya kejujuran masih dimiliki banyak orang, buktinya kain-kain itu seperti tidak berkurang. Rupanya para wisatawan pun menyadari bahwa mengambil kain tersebut akan merugikan orang lain, terutama wisatawan yang membutuhkannya.

Artikel Terkait