Rabu, 28 Juni 2017

Membakar Sampah : Memecahkan Masalah Menambah Masalah

Slogan acara Indonesia Lawak's Club yang unik itu ternyata ada benarnya. Kalimat "Memecahkan masalah tanpa solusi" tepat sekali untuk disematkan juga pada kebiasaan masyarakat Indonesia yang tidak juga hilang, yaitu membakar sampah.

Banyak yang berpikir kalau cara itu membantu lingkungan, tetapi sebenarnya tidak. Bahkan, bisa dikata bukan memecahkan masalah, tetapi justru menambah masalah yang berkaitan dengan lingkungan.


Tidak percaya? Perhatikan saja hal-hal yang diakibatkan oleh pembakaran sampah, terutama sampah rumah tangga.

1. Polusi udara

Sudah pasti membakar sesuatu pasti akan menghasilkan yang namanya asap. Dalam asap terkandung banyak sekali gas seperti karbondioksida, karbonmonoksida, dan karbon. Tergantung benda yang dibakar, akan banyak sekali polutan yang terkandung di dalamnya.

Apalagi kalau yang dibakar adalah plastik yang terbuat dari bahan kimia, atau baterai bekas. Sudah pasti akan bertambah unsur pencemar lingkungan di dalamnya.

Asap pembakaran sampah kelihatannya sedikit, tetapi bayangkan jika 1 juta rumah membakar sampah setiap harinya. Jumlahnya akan sangat membesar dan volume pencemaran udara akan meningkat dan terjadi setiap hari.

2. Sampah tetap ada

Sampah rumah tangga kebanyakan terdiri dari sampah basah, yaitu sampah organik yang tidak mudah terbakar karena mengandung air, seperti sisa sayuran, sisa makanan, dan berbagai sisa lainnya. Benda-benda tak terpakai ini tidak akan terbakar dengan mudah dan menjadi abu.

Pembakaran sampah tetap akan menyisakan sampah-sampah basah seperti ini. Hal ini berarti tujuan membakar sampah tidak tercapai. Sampah akan tetap ada. Belum lagi beling, kaca, baterai bekas tidak akan terbakar sepenuhnya.

Tambahkan dengan abu pembakaran yang juga perlu ditangani.

3. Bisa berbahaya

Percikan api sudah adalah hal yang berbahaya. Salah-salah, api yang semula kecil bisa membesar jika pembakaran dilakukan di tempat yang kurang tepat.

Sudah terlalu banyak contoh tentang hal ini.

Berarti, paling tidak ada 2 masalah tambahan bagi lingkungan yang mengiringi proses pembakaran sampah yang biasa dilakukan

Lalu, bagaimana seharusnya sampah ditangani agar tidak menambah masalah bagi lingkungan? Butuh sedikit kerja ekstra, tetapi hasilnya bisa benar-benar membantu lingkungan.

1. Membuat sampah organik menjadi kompos

Gali lubang dan masukkan semua sampah organik ke dalam lubang tersebut. Tutup kembali dengan tanah dan tunggu sampai 6 bulan.

Hasilnya berupa kompos yang kalaupun tidak dipergunakan dan tetap berada di dalam tanah akan menyuburkan tanah.

2. Menjual sampah

Kertas koran, kardus bekar, dan banyak hal lain yang bisa diloakkan alias dijual. Biasanya setelah itu sang pembeli akan menjualnya lagi ke pengepul atau mereka yang bisa memanfaatkan sampah-sampah tersebut.

3. Mendaur Ulang

Memakai kembali berbagai benda yang bisa dimanfaatkan, seperti botol plastik bekas air mineral yang sebenarnya bisa dipergunakan sebagai pot untuk taman vertikal.

Butuh sedikit kreatifitas dan kemauan untuk repot untuk benar-benar membantu lingkungan. Membakar sampah sepertinya sederhana dan menjadi pemecahan efektif, tetapi sebenarnya tidak. Proses ini hanya menambah masalah pada masalah yang sudah ada.

Kalau tidak mau repot, sederhana saja. Bungkus sampah-sampah tersebut dengan plastik dan buang ke tempat sampah atau biarkan petugas kebersihan mengangkutnya. Setidaknya kita memastikan sampah itu akan dikirim ke lokasi tertentu dimana sampah ditangani.

Hal itu lebih baik daripada sampah itu dibakar.


Artikel Terkait