Selasa, 05 Juli 2016

Kesusahan Bagi Seseorang Keuntungan Bagi Yang Lain - Homo Homini Lupus! Kasus Mudik Brexit 2016

Membaca berita terkait dengan petaka mudik 2016 di kawasan Brebes menimbulkan rasa trenyuh sendiri dalam hati. Sebegitu parah kah kepedulian masyarakat Indonesia terhadap sesamanya?

Silakan bacanya di sini.

Dalam berita dari detik.com tersebut diceritakan bahwa di tengah kemacetan panjang dan ratusan mobil terancam mogok karena kehabisan bahan bakar, ternyata ada warga yang menawarkan bensin Pertamax seharga Rp. 50.000/liter.

Wow.

Harga Pertamax saat ini adalah Rp. 7,650/liter. Bahkan di masa minyak dunia mencapai titik tertinggi, harga bahan bakar Pertamina beroktan 92 itu paling tinggi berkisar antara Rp. 10.000-11.000 saja.

Berarti harga yang ditawarkan oleh sang warga hampir 8 kali lipat harga berlaku dan 5 kali harga tertinggi yang pernah tercapai.

Kepedulian Yang Menipis - Homo Homini Lupus (Manusia adalah Serigala Bagi Manusia Lainnya)

Wajar kah hal itu? Menurut hukum ekonomi, wajar! Kelangkaan sesuatu akan berimbas pada tingginya harga. Demikian juga dalam kasus kali ini, terjebak di dalam kemacetan panjang dan tidak jelas kapan berakhir membuat bahan bakar akan terus menipis dan lama-lama akan habis. Bisa dipastikan kendaraan akan mogok kalau tidak segera mendapat suplai.

Mau tidak mau, para pemudik yang tidak ingin kendaraannya mogok harus berpikir cara mendapatkan bensin sebelum habis.

Jadi, dengan pilihan yang sangat terbatas, mau tidak mau mereka tidak memiliki pilihan lain.

Sayangnya, di sisi yang lain, hal itu menunjukkan satu hal. Semakin menipisnya kepedulian orang Indonesia terhadap sesama yang sedang berada dalam kesulitan.

Bayangkan saja, berada dalam kemacetan mudik yang mencapai puluhan kilometer, terancam masalah lebih besar , kendaraan mogok sudah jelas menunjukkan kesulitan yang mereka hadapi. Ternyata hal tersebut tidak menyurutkan orang lain untuk terus mengeruk keuntungan dari kesulitan yang mereka hadapi.

Too bad.

Sesuatu yang sangat mengenaskan ketika seseorang mengeruk keuntungan dari bencana atau musibah yang orang lain sedang hadapi. Meskipun hal itu secara teori ekonomi pasar sesuatu yang wajar, tetapi mengeruk keuntungan dari musibah orang lain adalah sesuatu yang secara etika sangat TIDAK PANTAS.

Bahkan di negara maju, usaha seperti itu dapat dikenakan sanksi hukum. Seorang yang berada dalam kesulitan bukanlah obyek untuk diperas tetapi harus ditolong. Manusia diatur agar tidak mengail di air keruh dan memanfaatkan kesengsaraan orang lain.

Tentu saja, para pemudik yang sedang terjebak tersebut akan mengerti bahwa harganya akan di atas normal. Kondisinya sangat luar biasa mendesak. Juga mereka menyadari bahwa ada ongkos lebih yang harus dibayar.

Tetapi, menaikkan harga 8 kali lipat adalah tindakan di luar kewajaran. Bisa dikategorikan sebagai pemerasan.

Sayangnya, di negara ini belum ada hukum yang mengatur hal seperti itu. Jadi, banyak orang tak berperasaan dapat terus mengeruk keuntungan dari kesusahan orang lain.

pepatah Homo Homini Lupus atau Manusia adalah serigala bagi manusia yang lain. Bencana Bagi Seseorang merupakan keuntungan bagi orang lain.

Pathetic. Menyedihkan. Mengenaskan.

Artikel Terkait