Sabtu, 09 Juli 2016

Jangan Pedulikan Pembaca Ketika Menulis Kalau Ingin Memiliki Tulisan Berkarakter

Tags

Pembaca adalah segalanya. Paling tidak itu adalah paradigma yang tertanam dalam pikiran mayoritas blogger. Kecuali seseorang menulis hanya untuk kesenangan pribadi, semua usaha dan daya upaya akan dicurahkan untuk menghasilkan artikel yang bisa "memuaskan" pembaca.

Meskipun demikian, pengalaman singkat menjadi seorang blogger telah mengajarkan sesuatu yang sangat bertentangan dengan paradigma tersebut. Saya justru berpikir yang terbaik pada saat menulis adalah dengan tidak mempedulikan pembaca.

Sindrom Anti Mainstream? Mungkin, tetapi pengalaman menulis dengan tujuan memuaskan dan membahagiakan orang lain memberikan tekanan tersendiri. Ada perasaan terkungkung dan terikat pada hal itu.

Cobalah kita bayangkan saja.

Apa yang harus kita lakukan untuk menyenangkan boss atau atasan di kantor? Sudah pasti haruslah dengan menunaikan pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan secara tuntas dan baik. Kalau kita gagal melaksanakannya, sudah pasti muka cemberut nan asem akan ditunjukkan. Tidak jarang, kita sudah merasa melakukannya dengan sepenuh hati tetap saja dianggap kurang.

Begitu pula, bila kita sebagai seorang customer service. Semanis apapun senyum kita dan panjang penjelasan yang diberikan kepada pelanggan, tidak pernah menjamin sang pelanggan akan langsung merasa puas. Tetap saja ada kemungkinan mereka menganggap kita tidak memberikan APA YANG MEREKA MAU.

That's the fact.

Karena pada dasarnya, kita, manusia tidak akan pernah bisa membaca apa yang ada di pikiran orang lain. Seorang karyawan tidak mungkin secara tepat bisa menjabarkan kemauan sang bos. Seorang customer service juga demikian, ia tidak bisa secara tepat mendapatkan gambaran yang tepat tentang yang dikehendaki sang pelanggan.

Mereka hanya bisa menduga berdasarkan pengalaman, data, kebiasaan, serta standar operasi yang ada. Hal itu hanya memperbesar kemungkinan untuk mendapatkan kepuasan bagi orang lain. Sama sekali tidak bisa menjamin, meskipun banyak slogan tentang jaminan kepuasan pelanggan.

Lalu bagaimana dengan seorang blogger?

Seorang karyawan akan mendapatkan penjelasan dan arahan serta buku panduan dalam melaksanakan tugas. Apalagi kalau perusahaannya sudah disertifiasi ISO. Begitu pula seorang yang berada di belakang meja customer service, mereka pasti sudah menerima berbagai pelatihan dan tentu saja manual dalam menghadapi pelanggan.

Sementara blogger tidak memiliki data dan pelatihan seperti itu. Tidak mungkin seorang blogger bisa mengetahui secara tepat dan pasti apa yang dikehendaki pelanggan. Mission Impossible, walaupun banyak blogger senior mengatakan hal tersebut bisa dilakukan dengan mengamati.

Tidak mungkin.

Itulah yang menimbulkan tekanan tersendiri pada saat menulis. Akankah tulisan saya dibaca orang lain? Akan kah artikel ini menarik dan bisa membuat pengunjung membuka halaman lainnya? Akankah pembaca tersebut akan kembali untuk membaca tulisan lainnya?

Semua itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang timbul ketika menulis.

Pertanyaan-ertanyaan yang tidak jarang menyurutkan dan menghilangkan mood menulis. Sebuah tekanan.

Padahal, kalau kita kembali ke awal blog atau weblog dilahirkan, media ini dipergunakan untuk menyampaikan ide si blogger. Ya, blog awalnya adalah media untuk menuangkan ide. Tidak sama sekali ditujukan untuk "MEMUASKAN PEMBACA".

Dalam perkembangannya ternyata blog berkembang sedemikian pesat. Blog menjadi lebih mirip sebuah bisnis media dimana semua hal harus diperhitungkan untuk memuaskan orang lain. Ide yang disampaikannya pun seringkali tidak orisinal dan datang bukan dari diri sang penulis.

Kebanyakan blogger juga sudah tidak lagi berorientasi pada penyampaian ide, tetapi lebih pada sisi pencapaian target. Blog "harus" dikunjungi ribuan pembaca.

Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan yang justru akhirnya menjadi hambatan psikologis dalam diri seorang blogger. Tekanan yang selalu dihadapi ketika sebuah blog ditargetkan untuk "sukses". Tekanan yang pada akhirnya menjadi hambatan tersendiri dalam melahirkan artikel-artikel yang enak dibaca.

Dengan tekanan seperti itu, seorang blogger tidak lagi bebas dalam pemikiran. Tidak lagi bebas menetapkan gaya yang dimau. Tidak lagi berada dalam mood yang membuatnya nyaman berekspresi.

Hasilnya, sebuah tulisan yang tidak memiliki ciri khas. Tidak memiliki karakter. Tidak mencerminkan diri sang blogger.

Bagaimana bisa melahirkan tulisan berkarakter, jika yang mereka tulis hanyalah dibuat untuk memenuhi dan memuaskan keinginan orang lain?

Oleh karena itu, jangan pernah pedulikan pembaca jika ingin tulisan Anda memiliki ciri khas yang mencerminkan diri Anda. Berbuat saja yang terbaik sesuai yang Anda bisa dan sesuai dengan ide di kepala Anda. Bukan dengan menebak ide yang ada di kepala "calon" pembaca yang kita sama sekali tidak bisa menebak dengan tepat.

Artikel Terkait