Selasa, 12 Juli 2016

Guru Mencubit Murid, Bisakah Diterima?

Guru mencubit murid menjadi tren dua bulan terakhir. Dunia maya dan dunia nyata di Indonesia seperti terbelah menjadi dua kubu, pro dan kontra.

Efeknya sempat menyebabkan pemeran Habibie dalam film Rudie Habibie sempat menjadi sasaran bully para netizen. Beritanya di sini.

Walau kasusnya seperti mulai mereda, tetapi sebenarnya sisa atau residu kasus tersebut meninggalkan sebuah pertanyaan cukup besar.

Bolehkah seorang guru mencubit muridnya? Bisakah diterima seorang guru mencubit sebagai hukuman kepada muridnya yang bandel?

Bolehkah seorang guru mencubit murid?

Kalau pertanyaannya dimulai dengan kata "boleh" yang artinya sama dengan "bisa", maka jawabnya tidak boleh.

Disini yang harus dilihat adalah aturan atau hukum yang ada.

Indonesia sudah memiliki panduan jelas dalam hukum berupa Undang Undang no 23 tahun 2002 yang telah mengalami perubahan di UU no 35 tahun 2014 mengenai Perlindungan Anak. Pada UU yang disebutkan terakhir pasal 13 berbunyi :

setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:
a.    diskriminasi;
b.    eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual;
c.    penelantaran;
d.    kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan;
e.    ketidakadilan; dan
f.     perlakuan salah lainnya.


Kata penganiayaan bisa dimaknai perbuatan yang sengaja untuk menimbulkan rasa sakit.

Jadi, meskipun mencubit bisa dianggap hal kecil, tetapi jelas itu menimbulkan rasa sakit pada yang dicubit. Hal itu bisa dikata memenuhi unsur seperti yang tertera pada undang-undang.

Bisakah diterima seorang guru mencubit murid?

Adanya pro dan kontra mengenai hal ini menunjukkan adanya sebagian masyarakat yang "bisa menerima" hukuman seperti itu dilakukan untuk mendisiplinkan.

Tidak aneh sebenarnya.

Kalau diingat pengalaman pada masa sekolah dulu, dijewer, dicubit, bahkan dipukul memakai rotan adalah bagian dari pendisiplinan. Saya sendiri pernah mengalami antara tahun 1970-1990-an.

Bukan sesuatu yang luar biasa mencubit itu. Orangtua pun biasanya memaklumi kalau mendengar anaknya dicubit oleh gurunya di sekolah karena lupa membuat PR. 

Itu sebuah tindakan biasa di masa lalu.


Para orangtua menganggap bahwa dengan menyekolahkan anak, maka ada sebagian kecil wewenang orangtua yang diserahkan kepada pihak sekolah. Termasuk diantaranya adalah dalam hal memberikan hukuman. Orangtua pada masa itu sudah biasa mencubit, menjewer, menampar atau memukul dengan ikat pinggang.

Oleh karena itu, masih banyak masyarakat Indonesia yang masih "bisa" menerima tindakan guru mencubit murid. Berbeda kalau menampar atau memukul, dimana mayoritas pasti akan mengajukan keberatan.

Bagaimana kalau ada orangtua yang tidak bisa menerima guru mencubit murid?

Itupun wajar. Pola didik masa kini sudah bergeser banyak dibandingkan tahun 1970-1990-an. Para orangtua semakin sadar bahwa kekerasan pada anak tidak membawa kebaikan bagi sang anak. Yang ada adalah rasa sakit pada orang yang disayanginya.

Mereka mulai jarang memberikan hukuman fisik kepada anak mereka.

Hal ini ditunjang dan tertuang dalam UU Perlindungan Anak. Jadi, bisa dikata negara mewakili rakyat menghendaki terjadinya perubahan pada masyarakat agar semakin melindungi anak mereka. Apalagi masa kini juga terlalu banyak kasus kekerasan kepada anak yang menyebabkan luka dan bahkan kematian. Itulah hal yang ingin dikurangi di negara ini.

Transisi dan Pergeseran Nilai/Norma


Kasus guru mencubit murid yang jadi heboh ini hanyalah menunjukkan sebuah masa transisi. Transisi dari pola lama yang mengizinkan "kekerasan" terbatas menjadi "tidak mengizinkan" sama sekali. Pergeseran norma dan nilai dalam masyarakat.

Hal ini mungkin harus diwaspadai oleh para guru. Mereka tidak bisa mengeneralisasi bahwa semua orang akan bisa menerima tindakan mencubit atau melakukan kontak fisik kepada peserta didik. Mereka berada pada posisi di tengah arus perubahan nilai dan norma.

Sebuah kesalahan seperti ini bisa menyebabkan masalah bagi diri mereka. Padahal niatnya baik.

Jadi, Ernest Prakasa benar dong? Yap. Secara teoritis dia tidak salah.  Tetapi, dia juga salah! Salah dalam membaca pergeseran norma. Ia menganggap bahwa semua orang sudah berubah cara berpikirnya, tetapi kenyataannya masih banyak orang yang menganggap guru mencubit murid adalah salah satu cara mendisiplinkan anak didik.

Apalagi belakangan banyak sekali anak yang menjadi "liar" dan susah diatur. Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai hasil dari pendidikan yang terlalu "lemah" dan kurang keras. Dengan situasi yang seperti ini, mereka akan mendukung tindakan hukuman dengan "kontak fisik" terbatas pada anak didik.

Sesuatu yang salah dibaca oleh sang pemeran Habibie.

Hal lain yang salah dilakukannya adalah mengatakannya secara terbuka di sos med. Ini mah salah sendiri. Rupanya dia lupa, ketenaran itu justru membutuhkan pertimbangan yang matang kalau mau angin badai tidak menerpa. Media sosial bisa memberi keuntungan tetapi juga bisa merugikan kalau salah mengelolanya.

Salah sendiri eta mah

Gitu aja guys and gals pandangan saya tentang kasus guru mencubit murid.



Artikel Terkait