Rabu, 09 Desember 2015

Blogger Harus Tidak Peduli

Tags
Kenapa sih blog yang itu hanya berisi kurang dari 200 artikel dan setiap artikel tidak lebih dari 300 kata, tetapi kok pengunjungnya bisa lebih dari 1000 UV (Unique Visitor) setiap hari?

Itu pertanyaan yang saya temukan di sebuah forum online beberapa waktu yang lalu.

Heran. Sangat heran.

Kalau mengikuti kata hati, saya akan bilang itu sebuah pertanyaan yang bodoh. Jelas terlihat rasa iri dari yang bertanya terhadap keberhasilan yang dicapai oleh blogger lain.

Apa yang tertangkap dari pertanyaan tersebut adalah mengapa sebuah blog dengan hanya sedikit konten dengan artikel yang pendek-pendek bisa sukses, mengapa yang saya tidak?

Rupanya para blogger Indonesia terindoktrinasi bahwa kualitas adalah sama dengan banyak dan panjang.

Semakin panjang sebuah artikel, berarti semakin bermutu dan berkualitas. Semakin banyak artikel di dalam sebuah blog, semakin hebat dan berkualitas blog tersebut.

Padahal jelas sekali antara banyak dan panjang dengan kualitas tidak memiliki kaitan pasti. Keduanya merupakan suatu ukuran yang berbeda.

Saya tidak akan berargumentasi mengenai perbedaan artikel panjang dan pendek atau banyak dan sedikit. Biarlah itu dibahas di lain waktu.

Yang mengherankan adalah mengapa kita harus begitu peduli pada blog orang lain hingga merasa harus mempermasalahkan dan mencari tahu bagaimana hal itu terjadi.

Dari sudut pandang positif, mungkin sang penanya berniat meniru cara agar blognya bisa meniru kesuksesan blog tersebut. Dari sudut pandang negatif, rasa iri tak bisa terhindarkan.

Sebuah hal yang tidak seharusnya dipedulikan. Ya, memang saya berpendapat blogger itu HARUS TIDAK PEDULI.

Harus tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan blog milik orang lain. Ia harus tetap fokus dan mencurahkan perhatiannya kepada blog miliknya sendiri. Bahkan, bila ia mencari tahu alasan mengapa blog orang lain sukses, itu harus dilakukan demi blognya sendiri.

Memperhatikan terlalu dalam keberhasilan orang lain hanya akan menyita waktu. Lebih baik bila waktu tersebut dipergunakan untuk membuat artikel dan mengisi blog kita dengan lebih banyak konten.

Lagipula , tdak ada gunanya mempertanyakan keberhasilan orang lain. Setiap orang berbeda.

Karena blog sendiri adalah perwujudan dari si blogger, maka harus pula dimengerti bahwa setiap blog itu juga akan berbeda. Tidak akan sama dan tidak boleh sama.

Hal itu merupakan cermin dari blogger sebagai manusia. Tidak ada manusia yang sama berarti tidak akan ada blog yang sama. Itulah mengapa copy paste merupakan sesuatu yang diharamkan di dunia ngeblog karena hal itu bertentangan dengan kodrat manusia.

Jadi, kalau ada sebuah blog yang berhasil, silakan cari latar belakang dan alasan mengapa mereka bisa sukses. Tetapi, jangan ditelan dan ditiru mentah-mentah karena belum tentu cocok dengan kita.

Setelah kita mendapat data-data tersebut, kembalilah pada posisi TIDAK PEDULI pada orang lain. Fokus dan fokus pada blog kita. Pergunakan data yang kita "curi" tadi untuk blog kita dan bukan menjadi sibuk mengurusi mengapa blog orang lain mendapat trafik lebih banyak dari kita.

Blogger harus TIDAK PEDULI pada apa yang terjadi dengan blogger lainnya dalam hal ini.

Kamis, 03 Desember 2015

Tahukah Anda?

Hanya tulisan pembuka untuk seksi "Tahukah Anda" di Blog Umum.

Berisikan berbagai "hal-hal kecil" dalam keseharian.

Bisa berguna. Bisa juga tidak. Karena berguna / bermanfaat atau tidak, bukan berasal dari saya. Andalah yang menentukan.

Kreatifitas Anda lah yang bisa membuat apa yang ada disini bermanfaat bagi Anda atau orang lain. Bukant tulisannya sendiri.

Tulisan, artikel, hanyalah susunan kata-kata dan kalimat berisikan ide atau gagasan. Hanya akan tetap seperti itu hingga seseorang seperti Anda datang untuk mewujudkannya dalam dunia nyata.

Selamat datang di "Tahukah Anda" versi Blog Umum.



Becak, Becak.. Coba Bawa Saya

Tags
Becak Di Solo
Becak Di Solo

Bentuknya beragam dan memiliki banyak variasi. Ada yang pendek kecil tetapi langsing. Ada juga yang besar, rada gemuk. 

Kesamaannya satu, beroda tiga dan pengemudinya duduk di belakang kabin penumpang. Tenaga penggeraknya pun sama, nasi, sayur bercampur tempe dan telur. Daging jarang dimasukkan sebagai sumber energi penggerak karena penghasilan si supir jarang yang besar untuk membelinya.

Itulah becak. 

Kendaraan yang asal usulnya di Indonesia masih simpang siur. Ada yang mengatakan dibawa oleh tentara Jepang untuk mengangkut logistik. Ada pula yang bilang dibawa para imigran dari negeri Cina atau Tiongkok karena bentuknya yang mirip dengan Ricksaw.
Sebenarnya ricksaw dan becak sama sekali tidak mirip. Ricksaw, banyak ditemukan di berbagai negara yang sebelumnya merupakan koloni Inggris, seperti Hongkong, Bangladesh, India dan sebagainya.

Becak, justru ditemukan di berbagai negara dimana dulu pernah dimasuki/diduduki oleh Jepang. 

Yang manapun sekarang bukanlah sebuah masalah. Toh sebentar lagi, kendaraan ini pun akan perlahan menghilang dari bumi Indonesia. Banyak kota besar mulai melarang atau membatasi pergerakannya.
Alasannya, terlalu lamban. Sesuatu yang tidak sesuai dengan kecepatan yang dibutuhkan di masa ini yang menginginkan serba cepat. Tenaga manusia pendorong yang berdasarkan nasi, tentu saja tidak akan bisa mengimbangi motor atau mobil bertenaga bensin.

Hasilnya, ya becak pun tersingkir perlahan tetapi pasti.

Tidak bisa disalahkan. Itu adalah kodrat dunia ini. Yang tidak bisa mengikuti akan tertinggal dan terlindas. Yang dianggap lamban akan digilas yang cepat.

Meskipun, tetap saja ada kerinduan tersendiri melihat kendaraan beroda tiga ini. Ada bagian perjalanan hidup saya dimana becak berperan penting saat itu.


Melihatnya seperti sedang menanti saatnya, tetap saja terasa menyedihkan. Too bad tetapi itulah dunia. Ada pertemuan ada perpisahan.

Masih ada waktu sebelum saat perpisahan itu akan tiba. Mungkin masih tersisa beberapa tahun, atau beberapa belas tahun lagi sebelum sang pengemudi becak harus mulai beralih ke sesuatu yang lebih cepat. 

Sementara itu, mari kita nikmati saja kendaraan, yang dulunya mungkin dipakai mengangkut barang oleh tentara Jepang di Indonesia.




Rabu, 02 Desember 2015

Masih Adakah Guna Lampu Lalu Lintas ?

Tags

Kalau melihat foto-foto ini, tidak urung tersembul sebuah pemikiran. Masih adakah guna lampu lalu lintas di Jakarta.

Toh para pengendara di Jakarta tetap saja melanggarnya setiap hari.

Lampu Merah dianggap berarti jalan terus. Ketika Kuning, berarti tancap gas lebih dalam. Kalau Hijau berarti bertindaklah seperti Valentiono Rossi di sirkuit.

Tidak ada kata berhenti atau lambatkan laju kendaraan. Semuanya berarti "Jalan" dan "Melajulah Dengan Kencang"


Jangan tanyakan apakah mereka tidak pernah mendapatkan pelajaran soal tertib lalu lintas. Sejak TK hingga paling tidak SMA, hal tersebut sudah diajarkan.

Lalu mengapa mereka masih bertingkah seperti itu?

Mungkin jawabannya sangat sederhana. Jawaban tersebut sudah ada di depan mata tetapi kita menolaknya, karena jawabannya akan menyakitkan kita juga sebagai sesama orang Indonesia.

Jawabannya, entah karena mereka buta warna, jadi tidak bisa membedakan antara merah, kuning, hijau. Ataukah memang kita masih belum cukup beradab?

O ya. Seorang yang beradab berarti tahu dan taat pada peraturan. Jadi gelar yang harus diberikan pada orang yang tidak mematuhi aturan adalah orang tak beradab.

Pasti marah deh kalau kita mengatakan hal itu pada seseorang. Bagi saya yang menulisnya saja tetap ada perasaan tidak enak menjuluki sesama manusia Indonesia seperti itu.

Tetapi, bukankah kenyataannya memang demikian?


Mungkinkah Membuat 100 Ribu Artikel - Ngeblog Itu Kerja Keras

Tags

Ide gila! Mission Impossible! Tidak Mungkin terjadi.

Itu tercetus dalam pikiran saya ketika membaca tulisan berjudul Raih 100 Juta Per Bulan Dengan 100-200 Ribu Artikel pada blog Juragan Cipir. Blog ini dikelola seorang ibu rumah tangga bernama Indri Lidiawati, seorang blogger senior.

Gila dan sangat gila.

Bagaimana mungkin seorang blogger bisa membuat sebegitu banyak artikel? Apalagi dalam tulisan tersebut ditargetkan untuk tahun 2016.

Sudah pasti kalau yang membaca tidak mengenal karakter sang pemilik blog, maka ia akan mengerenyitkan dari. Bukan tidak mungkin kata-kata seperti yang disebutkan di atas akan terlontar.

Saya sendiri, harus mengakui bahwa ide tersebut teramat sangat sulit diterima pada awalnya.

Hanya setelah merenungkan sejenak, maka kesimpulan yang diambil adalah IDE TERSEBUT TIDAK GILA.

Bahkan sebenarnya adalah teramat sangat mungkin dilakukan. Sulit tetapi bukan sesuatu yang tidak mungkin.

Mengapa ide membuat 100 ribu artikel tersebut mungkin dilaksanakan?

Yang pasti, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, kecuali orang makan kepalanya sendiri. Karena target 100 ribu artikel ini tidak mengharuskan kita makan kepala sendiri, maka harus dianggap mungkin.

Tentu saja, bila Anda memandang dari sudut seorang blogger yang mengerjakan semuanya sendiri, target tersebut adalah hil yang mustahal. Hampir tidak mungkin direalisasikan. 

Bahkan seorang penulis artikel tercepat sekalipun akan kewalahan. Tenaga dan pikiran tetap ada batasnya, apalagi pasti ada saat dimana seorang blogger jenuh unuk menulis.

Tetapi bila kita sedikit ubah pola pikir menjadi seorang pengusaha penerbitan, dan bukan sebagai blogger, maka hal tersebut sangat mungkin.

Seratus ribu artikel bila penulisannya dibagi kepada 100 orang, maka setiap orang akan memiliki kewajiban menulis 1000 artikel saja. Masih tetap sebuah tugas yang berat sebenarnya. Buuh sebuah ketekunan dan konsistensi yang teramat sangat dari ke 100 orang tersebut.

Bila targetnya hanya 1000 per tahun, maka berarti setiap orang harus memproduksi 3 artikel dalam sehari. Bukan sebuah hal yang tidak mungkin. 

Saya sendiri pernah menulis hampir 10 artikel dalam sehari. Rata-rata tulisan yang saya hasilkan dalam sehari (yang sebenarnya hanya beberapa jam saja) adalah 2-3 artikel. Jadi 3 artikel perhari bukanlah sesuatu yang sulit.

Kemungkinan Hambatan


Yang menjadi hambatan bagi tantangan ini adalah

  • Mencari penulis sebanyak 50-100 orang (kalau 50 target per orang perharinya menjadi 2 kali lipat)
  • Biaya yang harus dikeluarkan akan cukup besar. Bila sebuah tulisan dihargai 10 ribu rupiah/artikel, maka dibutuhkan biaya paling tidak 1 Milyar
  • Server, sama seperti manusia, server untuk hosting pasti akan ada batasnya. Berarti harus dicarikan sebuah server khusus yang mampu menampung begitu banyak artikel dan bisa menghadapi derasnya trafik pengunjung
  • Ide, niche blogging jelas bukan jenis ngeblog yang cocok untuk target ini. Bahkan untuk sebuah blog umum seperti Juragan Cipir, ide akan menjadi sebuah hambatan tersendiri. Apalagi tentunya artikel yang dihasilkan harus memberi manfaat dan enak dibaca
  • Koordinasi, memiliki 100 penulis hampir sama dengan memiliki perusahaan tersendiri. Harus ada manajemen yang kompak dan mendukung pencapaian target
Kalau mau didaftarkan lagi, akan panjang sekali daftar hambatan yang akan dihadapi untuk mencapai target penulisan 100 ribu artikel dalam satu tahun.

Itulah mengapa saya cukup mengerti kalau ada yang menyebutnya ide gila dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak mungkin.

Tetapi saya memutuskan bahwa hal tersebut bukan hal yang mustahil. Sulit. Sangat sulit tetapi bukan tidak mungkin. Beberapa contoh seperti Detik atau Kompas pasti memiliki puluhan ribu artikel dalam database mereka, jadi mengapa membuat 100 ribu artikel tidak mungkin?

Satu hal yang pasti dari tulisan tersebut adalah PESAN yang ingin disampaikan oleh sang blogger senior kepada para sesama blogger.

NGEBLOG ITU KERJA KERAS. JANGAN JADI PEMALAS.

Ya, memang itu kesan yang saya dapatkan ketika membacanya. Tidak ada target yang akan tercapai kalau belum apa-apa kita sudah berkata "TIDAK MUNGKIN". Kalau belum mencoba sudah menyerah, maka kita tidak akan pernah tahu hasil. Kita tidak akan mendapatkan pengalaman dan pelajaran.

Jadi, setidaknya tulisan itu sudah memicu semangat tersendiri bagi saya, sesama blogger untuk terus bekerja keras dan menghasilkan artikel-artikel yang bermanfaat bagi orang lain. 

Kerja. Kerja. Kerja. Jangan malas.


Selasa, 01 Desember 2015

Bisakah Blogger Membuat Artikel Berkualitas? SAMA SEKALI TIDAK!

Tags
"Dua Puluh Tips Membuat Artikel Berkualitas".

"Panduan Lengkap Membuat Artikel Berkualitas"

"Bagaimana Meningkatkan Kualitas Artikel Anda?"

Itu adalah judul-judul artikel yang bertebaran di blogosphere alias dunia ngeblog. Ribuan jumlahnya. Ditulis dalam berbagai bahasa.

Semua mengusung ide yang sama tentang menghasilkan yang namanya artikel "BERKUALITAS". Mayoritas dari tulisan-tulisan tersebut seakan diri mereka ahli dalam membuat artikel berkualitas tinggi tentunya

Betulkah dengan mengikuti semua panduan, penjelasan, tip dan trik dari para blogger tersebut maka kita akan bisa menghasilkan artikel-artikel berkualitas, alias bermutu tinggi?

Sayang sekali mengecewakan Anda. Jawabnya, TIDAK, SAMA SEKALI TIDAK. Blogger tidak akan pernah bisa menghasilkan artikel-artikel berkualitas. Sama sekali tidak akan pernah.

Menyakitkan? Sangat. Hanya, itulah kenyataan yang harus diterima oleh setiap blogger.

Mengapa blogger TIDAK AKAN PERNAH menghasilkan artikel berkualitas?

1. Blogger adalah individu dan bukan sistem


Anda tahu sebuah merek mobil terkenal asal Inggris, Rolls Royce? 

Selain karena mahalnya dan juga gengsinya, mobil ini terkenal memiliki kualitas tinggi. Setiap pembelinya yakin akan mutu yang diberikan oleh perusahaan pembuatnya.

Kepercayaan masyarakat pembeli tidak didapat begitu saja. Kepercayaan tersebut dibangun oleh sebuah tim.

Tim tersebut paling tidak terdiri dari

  • Tim Produksi
  • Tim Manajemen
  • Tim Keuangan 
  • Tim Quality Control
  • dan tim lainnya

Rolls Royce tidak diproduksi oleh perorangan. Sebuah mobil yang diterima pembeli sudah menempuh berbagai proses dari meja desain hingga keluar dari jalur produksi.

Kesemua tim berperan dalam menghasilkan sebuah mobil yang memiliki daya tahan, keindahan, keamanan, dan kenyamanan. Setiap tim memiliki tugas khusus yang memiliki peran dalam hasil akhir.

Tanpa pembelian bahan yang tepat oleh tim pembelian tidak akan lahir sebuah mobil yang tahan banting. Tiadanya tim desain akan sulit untuk mewujudkan apa yang dikehendaki oleh khalayak pembeli. Absennya Tim Quality Control membuat sulit untuk memastikan standar minimum yang diberikan pada pembeli.

Kesemua bak ban berjalan memberikan sumbangsih kecil terhadap kelahiran sebuah mobil Rolls Royce.

Sekarang, kita coba ambil dua bagian utama yang paling berhubungan saja, tim produksi dan tim Quality Control

Dalam sebuah sistem produksi , tim produksi hanya menghasilkan berdasarkan panduan-panduan yang diberikan padanya. Kewenangan tim produksi akan berakhir ketika  produk yang dimau sudah selesai dan keluar dari jalur produksi.

Sekeluar dari jalur produksi, maka kewenangan berpindah kepada tim Quality Control. Tim produksi tidak akan diperkenankan lagi untuk ikut serta karena panduan dan standar antara kedua tim berbeda. 

Penilaian akhir apakah sebuah produk bisa lolos kualitas yang dimau akan berada di tangan tim ini. Bukan tim produksi.

Bandingkan dengan seorang blogger.

Ia menulis sendiri berdasarkan ide, nilai-nilai dan standarnya sendiri. Kesemuanya digali sendirian. Pada akhirnya setelah tulisan selesai, kemudian sang blogger melakukan "penilaian" sendiri terhadap hasil karyanya.

Bias. Itu satu kata yang mewakili.

Tidak mungkin seorang dapat menilai secara fair dan adil terhadap karyanya sendiri. Terdapat vested interest yang tidak bisa dipisahkan secara jelas. Keinginan agar tulisan tersebut segera terbit akan menjadi bayangan yang menutupi penilaian.

Itulah mengapa dalam proses produksi, tim Qualit Control tidak diperkenankan di bawah kendali yang sama dengan manajemen produksi. Jawabnya, untuk memastikan bahwa penilaian terhadap kualitas tidak dicampuri oleh keinginan agar sebuah hasil produksi diterima.

Kalau digabungkan dalam satu manajemen, kemungkinan besar adalah penilaian terhadap mutu akan dicampuri oleh keinginan untuk berproduksi sebanyak mungkin. Tidak akan lagi ada "kualitas" pada barang yang dikirim ke pelanggan.

Blogger tidak bisa mengatakan karyanya sendiri sebagai berkualitas ketika ia sendiri yang memproduksi dan kemudian melakukan penilaian. 

2. Masyarakat Pembaca Adalah Jurinya

Bahkan dengan adanya sistem produksi dengan berbagai tim tersebut, sebuah produk masih belum terbukti sebagai barang berkualitas atau bermutu.

Anda tahu kenapa?

Karena kualitas butuh pengakuan. Sebuah pabrikan bisa mengklaim bahwa barang yang diproduksinya adalah bermutu tinggi. Kecap akan selalu no 1, tidak akan ada yang mau disebut no 2.

Tetapi, ketika masyarakat tidak mengakui hal tersebut, maka klaim tersebut akan runtuh dengan sendirinya. Tidak akan ada kualitas tanpa pengakuan dari khalayak pembeli.

Anda mengaku ganteng, tetapi warga dimana Anda tinggal bilang bahwa wajah Anda jelek. Maka yang dipegang adalah suara mayoritas. Anda jelek.

Itu hak masyarakat dan bukan hak Anda.

Begitu juga dalam kasus blogger. Berkualitas atau tidaknya sebuah blog bukan ditentukan oleh bloggernya sendiri tetapi oleh masyarakat pembaca.

Sayangnya, sulit untuk mengukur kepuasan para pembaca di zaman internet ini. Mereka datang dan pergi sekehendak hatinya. Tidak ada yang bisa melarang.

Satu-satunya indikasi yang bisa menjadi patokan bahwa sebuah blog diakui "berkualitas" adalah jumlah pengunjung. Semakin banyak yang datang, semakin tinggi kualitasnya.

Ini pun berdasarkan asumsi bahwa banyak dari mereka yang kembali karena "menyukai" artikel berkualitas.

Ya, mereka adalah jurinya. Bukan Anda sebagai blogger. Anda tidak berhak untuk itu dan kalaupun Anda merasa berhak, masyarakat tidak peduli. Mereka memiliki hak mutlak untuk menilai.

Kalaupun Anda bilang tulisan Anda berkualitas no 1 di dunia, kalau masyarakat tidak mengakuinya, maka Anda harus menelan kata-kata sendiri. Tidak akan ada gunanya.

3. Kualitas Butuh Standar

Sebuah panci tidak akan bisa dibandingkan dengan mobil. Sepotong steak tidak akan bisa dibandingkan dengan ayam goreng. Tidak "apple to apple".

Sebuah panci harus dibandingkan dengan panci yang terbuat dari bahan sejenis, dengan fungsi dan harga yang sama/mirip. Sepotong steak harus dibandingkan dengan steak lainnya dengan ketebalan dan ukuran yang sama, serta dimasak dengan cara yang sama.

Standar. Itulah kata kuncinya.

Untuk menilai berkualitas atau tidaknya sesuatu diperlukan sebuah standar untuk dibandingkan. Tidak akan bisa sebuah panci disebut berkualitas ketika tidak ada panci lain di sekitarnya.

Nah, bagaimana seorang blogger bisa mengatakan artikel yang dibuatnya berkualitas ketika standar tersebut tidak ada. Pernah dengar adanya standar dalam dunia blogging?

Jawabnya tidak. Tidak ada standar karena dunia blogging atau blogosphere bukanlah sistem. Dunia ini mengandalkan pada kebebasan berpendapat dan bukan terkekang dalam sistem.

Nah, sekarang kalau dibuat singkat

  1. Tidak memiliki sistem Quality Control
  2. Tidak memiliki hak untuk menilai dan bergantung pada masyarakat/khalayak pembaca
  3. Tidak memiliki standar
Jadi, bagaimana seorang blogger bisa menghasilkan karya "berkualitas"? Jawabnya TIDAK BISA dan TIDAK AKAN PERNAH BISA. 

KECUALI, masyarakat/khalayak pembaca mengakuinya. Sebelum pengakuan itu "ADA" maka semua tulisan atau artikel yang seorang blogger buat adalah nol kualitas. Tidak berkualitas.

O ya, Anda boleh mengklaim tetapi jangan lupakan poin ke 2, bukan Anda yang menilai. Penilaian akhir berada di tangan pembaca dan bukan di tangan Anda, atau saya, sesama blogger. Ini mutlak dan Anda tidak bisa merebut hal tersebut dan tidak seharusnya.

Nah pertanyaannya, lalu, ketika tulisan-tulisan Anda belum diberi label "BERKUALITAS" oleh pembaca, bagaimana bisa Anda mengajarkan dan memberi panduan kepada orang lain tentang cara membuat artikel berkualitas?

LUCU bukan? 

Jadi, ketika Anda menulis, sisihkan pemikiran bahwa Anda sedang membuat sebuah artikel "berkualitas". Yang perlu Anda pastikan adalah membuat pembaca Anda senang, bahkan kalau bisa dapat mengambil manfaat darinya.

Biarlah urusan kualitas ada di tangan pembaca. Toh, kita, sebagai blogger tidak akan pernah bisa mengatur mereka dalam hal ini. Jadi, lupakanlah urusan membuat artikel berkualitas. 

Tulislah dengan semua kemampuan terbaik yang Anda miliki. Itulah tugas dan fungsi seorang blogger.

Apakah tulisan ini berkualitas? Don't worry, kata orang bule. Saya tidak akan merebut hak itu dari Anda sebagai pembaca.







Borobudur Itu Indah Dan Unik, Tetapi.......

Tags
Tidak diragukan lagi. Borobudur itu adalah sebuah maha karya dari manusia.

Bentuk bangunannya luar biasa unik. Tidak terhindarkan pertanyaan bagaimana orang-orang di abad ke-9 bisa membangun sebuah bangunan raksasa penuh dengan berbagai ornamen tersebut.

Sulit dibayangkan mengingat pada masa itu belum ada traktor, buldoser, dan berbagai peralatan berat lainnya. Toh, bangunan tersebut ada.

Besa, luas dan penuh dengan pahatan.


Berapa ribu orang yang terlibat dalam pengerjaan? Berapa nyawa yang melayang.?

Pertanyaan-pertanyaan timbul saat melihatnya.

Stupanya. patungnya. Ukiran-ukirannya.

Membuat takjub yang memandangnya.


Pantaslah kalau Candi Borobudur ini dijadikan salah satu warisan Dunia dan bukan hanya Indonesia. Sangat wajar pula bila haus terus dijaga dan dilindungi.

Bangunan yang merupakan cermin kebudayaan Hindu 12 abad yang lalu ini memang memberikan kesan dan nuansa tersendiri.

Hanya satu "sayang" yang tercetus dalam hati. Sebuah pelajaran penting terkait dengna Candi Borobudur ini.

Tidak 100% terkait bangunan bersejarah ini. Pelajaran yang saya dapat dari berkunjung ke Candi Borobudur adalah


Jangan berkunjung kesana pada saat liburan.

Meskipun takjub dan memukau mata. Terlalu banyak orang di lokasinya menyulitkan kita untuk menikmati.

Pastinya, menyulitkan bagi seorang fotografer amatir mengambil gambar-gambar indah dari candi ini. Tidak ada lokasi yang bebas dari manusia.

Benar-benar sebuah pelajaran penting bagi saya.