Minggu, 29 November 2015

Siapa Yang Bersalah Untuk Semua Ini ?



Siapa yang bersalah untuk semua kekotoran ini ?

Masyarakat sering dengan gampangnya mengacungkan telunjuk kepada "pemerintah". Maksudnya, tentu Dinas Keberseihan Kota.

Tidak becus. Payah kerjanya. Mana tempat sampahnya?

Begitulah kira-kira satu dua kalimat cercaan yang ditujukan pada pihak yang berwenang.

Tetapi betulkah "pemerintah" selalu yang harus beratnggung jawab pada semua ini?


Ketika kita membeli sesuatu, baik itu berbungkus atau tidak, pernahkah kita menyadari selain membeli "hak" untuk menikmatinya, kita juga membeli sebuah "tanggung jawab".

Oh ya. Tidak pernah ada "hak" yang bisa lepas dari tanggung jawab. Keduanya adalah dua sisi mata uang yang selalu hadir bersamaan.

Ketika kita membeli sepotong roti, maka roti tersebut menjadi hak kita. Kita bisa memakannya tanpa harus merasa bahwa makanan tersebut bukan milik kita.

Tetapi pada saat bersamaan, sebuah kewajiban juga dibebankan pada pembeli. Kewajiban tersebut berupa sebuah tugas agar memastikan agar apapun bagian dari roti tersebut, baik plastik pembungkus atau sisanya harus dikirimkan ke sebuah TEMPAT tertentu.

Tempat tersebut bernama TONG SAMPAH.


Memang betul, seringkali pemerintah masih lalai menyediakan tong sampah. Seringkali sulit untuk menemukannya.

Sayangnya, kelalaian mereka tidak menggugurkan kewajiban yang kita "beli" tadi. Kewajiban tersebut tetap melekat sampai selesainya tugas tadi.

Kita harus tetap memastikan bahwa sisa roti atau bungkusnya terkirim ke tempat selayaknya. Tidak bisa tidak. Kewajiban yang melekat tadi baru gugur ketika tugas tersebut selesai.

Bagaimana kalau lalai karena pemerintah juga lalai menyediakan tempatnya?

Pelajaran matematika sederhana berlaku tetap 1+1 = 2. Begitu pula dengan 1 KELALAIAN + 1 KELALAIAN tidak menjadi 1 KEBENARAN. Hasilnya menjadi 2 KELALAIAN.

Kalau kita tidak melaksanakan kewajiban membuang sampah pada tempatnya, maka dengan alasan bagaimanapun kita tetap bersalah. Apalagi kita adalah manusia, yang dikaruniai oleh otak untuk berpikir. Sudah pasti akan ada jalan pemecahan yang bisa dilakukan untuk menunaikan kewajiban tadi.


Plastik pembungkus  atau apapun yang tersisa dari roti tadi, bisa dimasukkan ke dalam tas sampai kita menemukan tempat sampah terdekat.

Jadi, untuk menjawab pertanyaan tadi, jawabannya sangat sederhana. Tidak perlu mengacungkan jari kepada pemerintah.

Siapa yang bersalah dalam kasus sampah yang berceceran dimana-mana adalah si pembuang sampah itu. Bukan, sama sekali bukan kesalahan pemerintah.

Itu adalah kesalahan si pembuang sampah. Tidak bisa tidak. No Excuse. Tidak ada alasan yang bisa diterima untuk tingkah seperti itu.

Jangan dikaburkan dengan kelalaian pemerintah menyediakan tempat sampah. Itu adalah masalah terpisah.

Jadi, mari kawan, kita ingat bahwa untuk setiap yang kita beli, berarti kita juga membeli kewajibannya juga. Bukan hanya hak-nya.



Artikel Terkait