Senin, 23 November 2015

Percayakah Anda Pada Panduan Meningkatkan Trafik Pengunjung?

Tags

Pengunjung mengantri dan berbondong-bondong datang adalah impian semua pengusaha. Entah itu pengusaha makanan, pakaian, dan bahkan jasa.

Impian yang sama juga dimiliki oleh para blogger. Mereka pun sangat memimpikan membludaknya pembaca untuk berseluncur di blog atau website miliknya.

Tidak ada kecuali. Termasuk saya ada diantara mereka yang berkhayal dan mendambakan suatu waktu blog yang saya kelola kesulitan menampung kunjungan pembaca.

Dengan berbekal tekad mengundang sebanyak mungkin pengunjung, berguru kepada yang dianggap sebagai "master" adalah sebuah kewajiban.

Sayangnya, belum ada buku panduan tertulis yang dijual untuk umum untuk ini. Jadi, biasanya para blogger akan mengandalkan pada lagi-lagi internet sebagai sumber untuk mendapatkan referensi cara meningkatkan pengunjung ke sebuah blog.

Lagi-lagi juga, saya melakukan hal itu. (Tentu saja, karena itulah saya bisa bercerita seperti ini)

Masalahnya, terutama di dunia maya, terdapat jutaan orang yang menulis tentang "cara meningkatkan trafik pengunjung". Ya, jutaan orang dalam berbagai bahasa, dalam berbagai gaya menuliskan berbagai tutorial tentang cara menarik pengunjung ke blog.

Hasilnya, ternyata memusingkan. Tentu saja sangat membingungkan aka memusingkan. Bisa diibaratkan usaha mendapatkan pengetahuan tersebut seperti mencari sebuah jarum di tumpukan jerami.

Sangat sulit. Teramat sangat sulit.

Kesulitannya sama persis seperti yang pepatah tersebut katakan. Sulit untuk membedakan sebuah jarum karena jerami juga sama kecil, pipih dan runcing. Apalagi, jarum berukuran lebih kecil dibandingkan lembaran jerami.

Begitu pula mencari sumber informasi terpercaya dan kredibel yang benar-benar bisa memberikan panduan mengenai cara meningkatkan trafik pengunjung.

Memang, banyak sekali yang menuliskan artikel tersebut. Terlalu banyak bahkan. Semuanya menampilkan diri sebagai seorang master dan pakar. Sulit sekali membedakan yang mana yang benar-benar ahli dan yang "berlagak" seperti ahli.

Untuk memilah antara keduanya, ternyata butuh waktu cukup lama. Butuh banyak sekali membaca tulisan-tulisan tersebut sebelum bisa mendapatkan feeling tentang yang mana yang "ahli" dan yang mana yang hanya "berlagak".

Sebuah proses yang melelahkan.

Biasanya, setelah itu para blogger, termasuk saya juga (lagi), akan berusaha mempraktekkan apa yang sudah didapat dari para blogger yang dianggap master. Berbagai panduan standar seperti loading blog harus cepat, posisi ini dan itu , artikel harus begini dan begitu, , semuanya akan coba diterapkan pada blog sendiri.

Hasilnya, ada yang benar terbukti, sangat banyak yang tidak menghasilkan apa-apa.

Apakah Anda mengalaminya juga? Saya cukup yakin Anda pernah mengalami situasi semacam itu.

Nah, dengan pengalaman seperti ini timbul sebuah pertanyaan seperti di bawah ini :

Masih Percayakah Anda Pada Panduan Meningkatkan Trafik Pengunjung?

Bukankah pertanyaan itu akan timbul di hati ketika setelah mempraktekkan tips dan trik yang dianjurkan, tetapi trafik pengunjung tetap saja seperti siput?

Padahal judul artikelnya kebanyakan sangat menjanjikan seperti "Meningkatkan traffik pengunjung hingga 10.000 per hari", "Meningkatkan trafik hingga 4000 Visitor Unik dalam 5 hari" dan lain sebagainya.

Pada kenyataannya jauh dari yang diharapkan. Kebanyakan trafik akan bergerak naik turun setelah mencobanya.

Lalu, apakah yang diajarkan para "master" tersebut adalah salah. Ataukah, mereka bukan master yang sebenarnya?

Bukankah begitu ?

Kelihatannya memang demikian.

Kenyataannya?

Ternyata setelah ditelaah ulang lagi, memang ada yang salah. Benar-benar ada yang tidak beres.

Dimana ketidakberesannya? Pada tulisan-tulisan para "master" atau yang "berlagak master"?

Ternyata tidak. Kesalahn tersebut ada pada cara kita memandang tentang hal itu. Para "master" dan bahkan yang "berlagak sebagai master" sama sekali tidak melakukan kesalahan.

Mereka hanya membagi hal yang menurut mereka akan menghasilkan pengunjung dalam jumlah banyak. Mereka, sama halnya dengan kita sebagai blogger hanyalah mencoba menjadikan diri bermanfaat bagi orang lain.

Bukanlah sebuah kesalahan untuk berbagi, apalagi dalam hal pengetahuan. Tidak ada yang salah dengan semua itu.

Kesalahannya ternyata terletak pada diri kita sendiri sebagai pencari informasi.

Keinginan, agar mendapatkan sesuatu dalam jangka waktu yang kita tetapkan, menutupi penilaian dan pertimbangan kita. Kita tidak lagi bisa memilah dan menelaah informasi dengan baik. Selanjutnya diwujudkan dalam langkah yang salah juga.

Cepat. Cepat. Cepat. Itu yang kita harapkan. Kalau tidak cepat berarti tehnik tersebut salah dan harus dicari tehnik baru.

Itulah yang biasa kita lakukan. Sebalnya, lagi-lagi saya juga mengalami hal tersebut.

Padahal

1) Informasi adalah Informasi


Informasi tersebut haruslah ditelaah lebih lanjut dan bukan hanya sekedar dikopi alias ditiru. Situasi dan kondisi blog dimana sang master memberi petuah, belum tentu sama dengan blog yang kita kelola.

Bisa diibaratkan, saran cara memasak semur jengkol dipakai untuk membuat sambel goreng pete. Hasilnya tentu berbeda

2) Target Waktu Yang Tidak Rasional

Kalau tidak cepat meningkatkan trafik berarti triknya salah. Itu adalah dorongan hati yang membuat kita akhirnya terjebak sendiri.

Kebanyakan para master akan mengajarkan berbagai trik. Beberapa akan memberikan rentang waktu untuk mendapatkan hasil sangat pendek. 

Semuanya ini mendorong kita, para blogger, untuk percaya bahwa ada jalan pintas untuk mendapatkan pengunjung yang mengantri untuk membaca artikel-artikel kita.

Target waktu ditetapkan sangat pendek.

Hasilnya, ketika target tidak tercapai, kita akan kembali sibuk mencari trik yang lebih ampuh. Trik dari master yang dianggap lebih mumpuni dari yang sebelumnya.

Padahal, ngebog itu adalah sebuah proses berkelanjutan. Tidak akan ada jalan pintas untuk mendapatkan hasil. Tidak akan ada cara tercepat untuk mengundang pengunjung.

Kesemuanya bukan tergantung pada trik yang dipakai, tetapi pada seberapa keras dan pintar kerja yang kita lakukan. Semakin keras usaha kita lakukan dengan cara yang cerdas, semakin cepat pengunjung akan datang. 

Bukan sebaliknya.

3) Kredibilitas Para Master Bisa Diukur

Seringkali kita tergoda ketika sebuah blog memberikan daftar peringkat ketenaran para master. Tidak jarang kita terkesima karena gaya bahasa yang meyakinkan oleh seorang "master".

Begitu meyakinkan sehingga kita lupa mengecek kredibilitas sang "master" tersebut.

Oya. Memang begitu adanya.

Begitu mendengar bahwa ada cara menghasilkan 100.000 pengunjung dalam 10 hari, maka kita dengan serta merta langsung mempraktekkan tehniknya. 

Siapa sih yang tidak berharap ada 100.000 orang datang ke blog dalam waktu singkat? Saya sih berharap banget.

Godaan seperti ini membuat kita silap. 

Lupa melakukan cross check apakah sang master sudah mempraktekkan sendiri belum teori yang disarankannya. 

Padahal caranya sederhana. 

Alexa menyediakan tool untuk mengecek peringkat sebuah website atau blog. Memang banyak orang meragukan tetapi fungsinya masih bisa dimanfaatkan.

Kalau peringkat Alexa-nya di atas jutaan, sudah pasti Anda tidak perlu percaya. Bagaimana bisa percaya, kalau ia untuk menaikkan blognya sendiri saja, ia tidak bisa, bagaimana bisa mengajarkan sesuatu yang tidak ia kuasai?

Kalau peringkatnya sama dengan blog kita atau sedikit lebih baik, silakan pikir-pikir lagi. Pantaskah menghabiskan waktu untuk belajar dari seseorang yang kemampuannya sama saja dengan kita?

Intinya, kita harus mencoba mengukur kredibilitas dari seseorang yang memberikan petuah tersebut dan bukan hanya menelan mentah-mentah apa yang diajarkan.


Terlepas dari semua itu, wajar memiliki hasrat dan keinginan agar pengunjung datang berbondong-bondong. Yang menjadikan tidak wajar, adalah ketika keinginan tersebut menutupi penilaian logis kita terhadap situasi.

Kalau itu terjadi, ternyata banyak sekali waktu yang terbuang hanya untuk mencari dan mencari. 
Padahal waktu tersebut bisa dipergunakan untuk menghasilkan lebih banyak artikel pada blog kita. 

Setidaknya itulah yang saya lakukan sekarang. Daripada mengubek-ubek internet mencari berbagai trik, saya lebih suka menghabiskan waktu yang tidak banyak untuk menulis artikel.

Satu dua pengunjung tetap lebih berharga daripada 1.000.000 pengunjung tetapi dalam impian.

Itu menurut saya yah.

Artikel Terkait