Minggu, 22 November 2015

Ngeblog Itu Proses , Bercerminlah Pada Tulisan Pertama Anda

Tags


Pernahkah Anda membaca tulisan-tulisan yang pertama kali Anda terbitkan pada blog yang Anda kelola?

Saya berulangkali. Bagaimana dengan Anda?

Beberapa kesan yang tertangkap setiap membaca artikel-artikel pertama yang terbit di awal langkah menjadi blogger adalah

* Lucu
* Naif
* Banyak kesalahan, baik kesalahan ketik ataupun tata kalimat
* Panjang-panjang kalimatnya
* Kadang tidak nyambung antara ide satu paragraf dengan paragraf yang lain

Dan masih banyak lagi hal yang bila dilihat sekarang bisa disingkat dalam satu kata "PAYAH". Tidak jarang membuat saya malu membacanya.

Ngeblog Itu Proses

Lalu, apa yang saya lakukan dengan tulisan-tulisan tersebut? 

Menghapusnya? Mengedit ulang dengan gaya sekarang? 

Ternyata, saya lebih memutuskan untuk membiarkannya seperti apa adanya. Hanya perbaikan kecil saja yang diberikan, seperti memperbaiki gambar yang buram, tata letak yang berantakan, ejaan yang kurang benar.

Selebihnya, tetap apa adanya seperti pertama kali diterbitkan.

Hal ini saya lakukan karena saya berpandangan bahwa ngeblog itu PROSES. Ya, blogging atau ngeblog itu memang sebuah proses dan akan selalu menjadi. Bahkan kalaupun nanti blog yang saya kelola sukses, proses itu akan terus berlanjut.

Tidak akan pernah berhenti.

Mengapa bisa demikian? Jawabannya, karena blogger adalah manusia. Si penulis adalah manusia. Yang ditulisnya adalah tentang manusia. Tujuan akhirnya pun akan selalu terkait dengan manusia.

Tidak akan pernah lepas.

Sementara seorang manusia untuk tetap hidup, maka ia harus terus belajar. Terus menggali berbagai hal demi dirinya. Manusia hanya berhenti ketika ia harus menghadap Yang Maha Kuasa.

Nah, jadi ngeblog itu memang sebuah proses berkelanjutan.

Tulisan-tulisan pertama kita adalah wujud ketika kita lahir. Dimana kita masih sangat "hijau" alias mentah. Ketika, kita masih meraba apa, kemana, dan bagaimana yang terbaik untuk diri kita sebagai seorang blogger.

Oleh karena itu tidak akan mengherankan ketika tulisan-tulisan pertama kita terkesan sangat kacau balau bila dilihat dari kacamata masa kini.

Itu adalah sebuah hal yang lumrah. Seorang blogger yang sudah sukses sekalipun, pada awalnya ia akan memiliki pandangan yang sama ketika berkaca pada artikel-artikel awal mereka.

Tidak ada blogger yang langsung sukses begitu ia mengeluarkan tulisan pertama mereka. Bahkan untuk seorang selebriti yang sudah terkenal sekalipun dan kemudian membuat blog tentang dirinya, ia akan tetap mengalami masa-masa seperti ini.

Hanya saja, perbedaan dari blogger yang berhasil dan yang gagal adalah bagaimana ia memanfaatkan berbagai kesalahan di awal sebagai landasan ke arah perbaikan. Artikel yang naif dan lucu itu adalah batu pijakan untuk ke arah yang lebih baik.

Dari sanalah kita bisa mendapatkan data dan informasi tentang kelemahan diri kita sebagai blogger. Data tersebut kemudian diolah menjadi sebuah tindakan koreksi yang akan membuat seorang penulis atau blogger menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Itulah alasan mengapa, saya memutuskan untuk tetap tidak merubah satu artikel pun (kecuali pada hal-hal kecil yang sudah disebutkan di atas). Semua dibiarkan tetap apa adanya.

Memang, kadang terasa menyebalkan melihat kebodohan sendiri. Sangat tidak enak mengetahui kita pernah begitu "PAYAH". Rasanya ingin menghilangkan tulisan-tulisan itu agar tidak terbaca oleh orang lain.

Saya merasa dengan mengubah banyak bagian dari artikel-artikel tersebut dengan mengikuti prinsip SEO (Search Engine Optimization), maka tulisan-tulisan itu bisa tampil lebih baik di SERP (Search Engine Result Page).

Tetapi, kalau tulisan-tulisan tersebut dihilangkan atau dirubah terlalu banyak, maka ada sebagian dari proses yang hilang. Sebagian yang merupakan bagian tak terpisahkan dari sebuah perjalanan yang sedang dijalani. Sebuah sejarah yang masih bisa terus digali.

Sesuatu yang menjadi titik tolak kita menuju ke sesuatu yang lebih baik lagi.

Itulah mengapa, saya merasa artikel-artikel pertama tersebut terlalu berharga untuk dihilangkan atau diubah terlalu banyak dari awalnya. 

Bagaimana dengan Anda, Kawan? Apa yang Anda lakukan dengan tulisan-tulisan pertama Anda?


Artikel Terkait