Rabu, 25 November 2015

Masihkah Saya Seorang Blogger Kalau Membeli Artikel?

Tags

Terus terang. Saya tergoda! Amat sangat!

Bukan karena si penggoda teramat cantik dan sexy, tetapi karena ia dapat menyediakan atau memenuhi salah satu kebutuhan saya saat ini.

Apa? Jangan? Haram hukumnya?

Lho? Jangan berprasangka buruk. Ini bukan tentang "tergoda" oleh wanita cantik nan sexy. Sama sekali bukan.

Godaan ini datang saat berkunjung ke beberapa jasa penulis artikel online.

Sungguh, saya tidak tahu apakah si penjual jasa manis, cantik, berkulit putih atau tidak. Jangankan membahas soal kemolekannya, melihat wujud di belakangnya saja belum dan mungkin tidak akan pernah.

Tergodanya saya adalah pada kata "artikel". Adanya jasa yang ditawarkan untuk membuat artikel lah yang membuat berbagai keinginan dan impian timbul. Karena itulah, saya bilang saya sedang tergoda.

Mengapa Tergoda Untuk Membeli Artikel?

Saya seorang Adsense Publisher.

Beberapa bulan yang lalu, blog yang saya kelola mendapatkan restu dari Google Adsense untuk memajang iklan mereka. 

Singkat kata, saya sudah bisa mulai memonetisasi website atau blog yang saya kelola. 

Sebuah kesempatan bukan? Ya, tentu saja. Ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk mendapatkan hasil materi dari kegiatan atau hobi menulis. Dengan mendapatkan izin tersebut, maka akan ada uang yang dihasilkan.

Kesempatan untuk menjadi kaya!

O ya. Banyak sekali contoh keberhasilan banyak blogger di seantero jagat ini dalam memanfaatkan Google Adsense. Kalau daftarnya dibuat, maka akan sangat panjang sekali, jadi tidak perlu rasanya ditampilkan. 

Cukup bila Anda mencari di Google Search dengan kata Successful Bloggers in The Wolrd atau Blogger Berpenghasilan Terbesar Di Dunia, maka akan ada banyak sekali cerita tentang itu. 

Inipun menjadi impian saya sejak disetujii menjadi seorang Adsenser.

Masalahnya terletak pada salah satu kunci , paling tidak menurut saya, utama dalam meraih jenjang tersebut adalah "KEMAMPUAN MENULIS ARTIKEL DALAM JUMLAH BANYAK".

Yak, betul tidak ada satupun blogger sukses tersebut yang hanya menulis 100-200 artikel dan langsung ngetop.

Selain itu, kebanyakan dari mereka sudah ngeblog lama sekali di atas 4-5 tahun. Waktu yang rasanya lama sekali untuk ditunggu.

Sampai sini, saya rasa Anda sudah cukup mengerti kemana arahnya. Mengapa saya sangat tergoda untuk membeli artikel?

Kemampuan 10 jari saya dalam menorehkan huruf demi huruf untuk sebuah artikel sangat terbatas. Kapasitas produksi apapun, bahkan pabrik besar sekalipun tetap akan ada limitnya. Tidak mungkin tidak.

Jumlah artikel yang bisa dihasilkan oleh mata, tangan, kepala dalam sehari paling banyak 10 saja. Itupun bisa dilakukan hanya di saat hari libur. Bila di hari kerja, dimana saya harus tetap mencari nafkah rutin, jumlahnya akan menyusut hingga 2-3 artikel per hari. 

Itupun kalau tidak kelelahan setelah berjuang di atas Commuter Line / KRL Jabodetabek. Kalau badan sudah tidak sanggup, bisa jadi hanya 1 atau bahkan 0.


Sementara, mulut blog saya akan terus menganga. Pembaca tidak akan mau tahu betapa lelahnya sehabis berdiri di dalam kereta. Yang mereka inginkan hanyalah konten-konten baru yang menghibur atau memenuhi kebutuhan mereka.

Begitulah adanya.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya? 

Mengapa ada penjual jasa penulisan artikel? Jawabannya karena ada demand untuk hal itu. 

Dengan banyaknya blogger yang ingin sukses tetapi menghadapi masalah yang sama, maka tentu saja jasa mereka sangat dibutuhkan. 

Bahkan banyak para pemain Adsense senior yang memanfaatkan jasa tersebut untuk mengeruk dollar atau rupiah. Tidaklah mengherankan.

Berarti, tinggal pesan, bayar dan tunggu kan? Lalu kenapa harus repot dan pusing?

Itulah, kawan. Saya belum sampai ke tahap tersebut. Bukan karena kurangnya uang dan modal. Untuk membeli 300-500 artikel dengan 400-500 kata per artikel sesuai harga yang ditawarkan, saya mampu. 

Bukan sombong. Memang dengan keuangan yang masih rutin mendapat pasokan dari gaji dari kantor tiap bulan, bukanlah sebuah hal yang berat untuk berinvestasi.

Sama sekali bukan itu.

Langkah tersebut masih terhambat pada satu pertanyaan kecil. Mungkin bahkan dianggap pertanyaan liliput bagi para pemain Adsense.

Sayangnya, itu pertanyaan besar buat saya.

Masihkah Saya Seorang Blogger?

Blogger adalah seorang yang menulis di media bernama blog. Blog sendiri adalah media yang diciptakan untuk menyebarkan ide, pandangan atau pengalaman dari seseorang kepada orang lain. Itulah ide dasar Evan Williams ketika menemukannya.

Nah, kalau saya sekarang membeli artikel dari orang lain, maka :

  • Tulisan tersebut bukan tulisan saya
  • Pemikirannya pun bukan keluar dari kepala saya
  • Gaya penulisan pun bukan gaya saya
Ya, memang. Tulisan tersebut akan terbit di blog atau website yang saya miliki. Semua orang yang membacanya akan berpikir bahwa itu adalah tulisan saya. Itu adalah gaya menulis pemilik blog. 

Padahal, bukan. 

Memang, kemungkinan besar uang akan mengalir ke dompet saya tidak peduli tentang hal-hal tersebut. Pembaca pun tidak akan tahu dan tidak perlu tahu.

Tetapi, Saya tahu. 

Bisakah Saya menerima hal tersebut. Bisakah Saya menerima pujian ketika blog tersebut dipuji? Dapatkah Saya menerima cerca ketika ada yang tidak suka dengan kontennya? 

Bisakah, Saya mengatakan pada khalayak pembaca dan menjawab pertanyaan mereka?

Akhirnya, pertanyaannya disingkat "Masihkah Saya Seorang Blogger?". Khalayak pembaca akan bilang masih, tetapi Saya tahu bahwa Saya bukan lagi blogger.

Saya hanyalah seorang kapitalis yang memanfaatkan medium ngeblog untuk mencari keuntungan.

Sanggup kah hal tersebut diterima?

Saat ini Saya tidak tahu dan belum bisa memutuskan. Karena itulah kata yang dipakai masih "godaan". Kalaupun dijalani, maka Anda tidak akan tahu tentang itu.

Setidaknya, saat ini, tulisan ini masih hasil dari kepala, tangan, dan hasrat dari penulis sendiri.

Artikel Terkait