Minggu, 29 November 2015

Siapa Yang Bersalah Untuk Semua Ini ?



Siapa yang bersalah untuk semua kekotoran ini ?

Masyarakat sering dengan gampangnya mengacungkan telunjuk kepada "pemerintah". Maksudnya, tentu Dinas Keberseihan Kota.

Tidak becus. Payah kerjanya. Mana tempat sampahnya?

Begitulah kira-kira satu dua kalimat cercaan yang ditujukan pada pihak yang berwenang.

Tetapi betulkah "pemerintah" selalu yang harus beratnggung jawab pada semua ini?


Ketika kita membeli sesuatu, baik itu berbungkus atau tidak, pernahkah kita menyadari selain membeli "hak" untuk menikmatinya, kita juga membeli sebuah "tanggung jawab".

Oh ya. Tidak pernah ada "hak" yang bisa lepas dari tanggung jawab. Keduanya adalah dua sisi mata uang yang selalu hadir bersamaan.

Ketika kita membeli sepotong roti, maka roti tersebut menjadi hak kita. Kita bisa memakannya tanpa harus merasa bahwa makanan tersebut bukan milik kita.

Tetapi pada saat bersamaan, sebuah kewajiban juga dibebankan pada pembeli. Kewajiban tersebut berupa sebuah tugas agar memastikan agar apapun bagian dari roti tersebut, baik plastik pembungkus atau sisanya harus dikirimkan ke sebuah TEMPAT tertentu.

Tempat tersebut bernama TONG SAMPAH.


Memang betul, seringkali pemerintah masih lalai menyediakan tong sampah. Seringkali sulit untuk menemukannya.

Sayangnya, kelalaian mereka tidak menggugurkan kewajiban yang kita "beli" tadi. Kewajiban tersebut tetap melekat sampai selesainya tugas tadi.

Kita harus tetap memastikan bahwa sisa roti atau bungkusnya terkirim ke tempat selayaknya. Tidak bisa tidak. Kewajiban yang melekat tadi baru gugur ketika tugas tersebut selesai.

Bagaimana kalau lalai karena pemerintah juga lalai menyediakan tempatnya?

Pelajaran matematika sederhana berlaku tetap 1+1 = 2. Begitu pula dengan 1 KELALAIAN + 1 KELALAIAN tidak menjadi 1 KEBENARAN. Hasilnya menjadi 2 KELALAIAN.

Kalau kita tidak melaksanakan kewajiban membuang sampah pada tempatnya, maka dengan alasan bagaimanapun kita tetap bersalah. Apalagi kita adalah manusia, yang dikaruniai oleh otak untuk berpikir. Sudah pasti akan ada jalan pemecahan yang bisa dilakukan untuk menunaikan kewajiban tadi.


Plastik pembungkus  atau apapun yang tersisa dari roti tadi, bisa dimasukkan ke dalam tas sampai kita menemukan tempat sampah terdekat.

Jadi, untuk menjawab pertanyaan tadi, jawabannya sangat sederhana. Tidak perlu mengacungkan jari kepada pemerintah.

Siapa yang bersalah dalam kasus sampah yang berceceran dimana-mana adalah si pembuang sampah itu. Bukan, sama sekali bukan kesalahan pemerintah.

Itu adalah kesalahan si pembuang sampah. Tidak bisa tidak. No Excuse. Tidak ada alasan yang bisa diterima untuk tingkah seperti itu.

Jangan dikaburkan dengan kelalaian pemerintah menyediakan tempat sampah. Itu adalah masalah terpisah.

Jadi, mari kawan, kita ingat bahwa untuk setiap yang kita beli, berarti kita juga membeli kewajibannya juga. Bukan hanya hak-nya.



Kapan Harus Menulis Artikel Untuk Mengisi Blog ?

Tags
Kapan harus menulis artikel untuk mengisi blog kita ?

Berapa kali dalam sehari atau seminggu atau sebulan artikel harus diterbitkan?

Pertanyaan yang selalu menghantui para blogger.

Dulu, sayapun bertanya hal yang sama. Berulangkali bahkan. Mencari referensi kesana-kesini untuk menemukan jawaban terhadap dua pertanyaan tersebut.

Nah, akhirnya saya menemukan jawabannya.

Jawabannya :
"TIDAK USAH DIPIKIRKAN. TERBITKAN ARTIKEL SEMAU ANDA!"
O ya. Anda rasanya sulit menerima tentang hal tersebut. Hanya saja, itulah kesimpulan dari perjalanan ngeblog saya selama lebih dari setahun.

Ok Bisa dimengerti bila Anda mengatakan bahwa semakin banyak artikel yang terbit akan semakin baik. Mesin pencari Google akan mendapat umpan lebih banyak kata kunci untuk disimpan dalam databasenya. Hasilnya, pengunjung akan berdatangan ke blog. Jadi menulis tiap hari atau sehari 10 kali lebih baik.

OK juga, bila yang ditekankan adalah kualitas, kemudian panjang artikel, atau interaksi dengan pengunjung juga harus mendapatkan porsi. Jadi mempublish artikel sekali dalam seminggu akan memberikan kesempatan lebih banyak untuk menghasilkan artikel "berkualitas" dan juga mempromosikan blog.

Keduanya sama-sama memilik pendukung yang tidak kalah banyaknya. Kedua kubu berargumen dengan landasan-landasan pemikiran yang sangat masuk akal.

Jawaban saya berbeda dari keduanya, saya pilih tidak memilih kedua jalan tersebut. Toh, keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Hasilnya saya menghabiskan waktu banyak hanya memikirkan langkah dan strategi apa yang cocok dan baik untuk blog Anda.

Sampai akhirnya saya menemukan apa yang terbaik, bukan untuk blog yang dikelola. Yang terbaik untuk saya sebagai seorang blogger.

Sebuah blog adalah perpanjangan dari diri seorang blogger. Jadi yang harus menjadi fokus dalam ngeblog bukanlah si blog sendiri tetapi si blogger di belakangnya. Jangan sampai si blog menyusahkan Anda sebagai blogger.

Kalau seorang blogger berpikir bahwa kemampuannya ada , waktunya tersedia dan hasrat menghasilkan tulisan berlimpah, mengapa tidak? Tulis saja 25 artikel dalam sehari atau sampai berapa banyak kemampuannya.

Sebaliknya, kalau waktu terbatas, ide tidak cukup dan lelah, langkah tidak ngeblog setiap hari juga tidak masalah.

Toh, sebenarnya itu memang terserah blogger dan bukan terserah pembaca. Memang akan ada efek atau konsekuensinya. Tapi hal itu lagi-lagi tidak perlu dipikirkan terlalu dalam.

Jangan buang waktu Anda untuk mencari data atau fakta untuk menentukan langkah Anda. Jumlah yang pro dan kontra akan sama banyaknya. Lakukan saja apa yang Anda mau.

Jadilah seorang blogger yang bebas dengan teori-teori ngeblog. Tidak ada keharusan Anda harus mengikuti ini dan itu dari blogger lainnya.

Selama Anda menyukainya, selama Anda menikmatinya. Just Do it ! Or Just Don't Do It!


Bajaj : Tidak Selalu Merah Warnanya

Tags

Bajaj Merah Warnanya


Banyak anekdot menyebutkan bahwa BMW itu adalah singkatan dari Bajaj (Baca : Bajay) Merah Warnanya.

Padahal tidak selamanya demikian lho. Di Jakarta ada juga Bajaj berwarna Biru. Lagipula, warna kendaraan ini adalah orange dan bukan merah.

Bajaj Biru

Hanya Tuhan Dan Supir Bajaj Yang Tahu

Begitu katanya kalau Bajaj mau berbelok. Memang betul sih, kebiasaan buruk pengendara Bajaj adalah lupa menyalakan lampu sein ketika mau berbelok.

Seringkali juga mereka berbelok mendadak membuat mobil atau motor di belakangnya harus mengerem mendadak.

Tapi, bukankah di Indonesia bukan hanya supir Bajaj yang melakukan itu. Supir Mercedes, Toyota, Honda, dan merk-merk lainnya juga berbuat hal yang sama.

Mengapa tidak ada anekdot untuk mereka yah?


Bajaj Akan Membuat Duniamu Berguncang

Bukan peribahasa, bukan pepatah, tapi memang kenyataannya begitu. Getaran mesin Bajaj terasa sekali sampai ke dalam kabin penumpang.

Jadi, selama perjalanan rasanya seperti digoyang-goyang. Belum ditambah gaya nyetir sang supir yang biasanya seperti bak di dalam arena balap.

Bisa dipastikan duniamu akan terguncang selama beberapa menit dan setelah turun Anda akan masih merasakan getaran itu.


Yah, dengan segala kekurangan dan kelebihannya (kalau memang ada), Bajaj sudah menjadi bagian dari kehidupan warga Jakarta.

Mereka sudah mengantar jutaaan orang pulang pergi ke kantor. Jadi, kita tetap harus mengucapkan terima kasih pada mereka.


Sampai suatu waktu, kendaraan yang lebih baik darinya datang dan Bajaj bisa beristirahat dengan tenang.

Sabtu, 28 November 2015

Berapa Detik Yang Kau Hemat Dengan Merusak Sistem - Kasus Melawan Arus

Tags
Saya cukup bingung dengan kebiasaan pemotor Indonesia. Mereka lebih suka berkendara melawan arus lalu lintas.

Memang, semua orang, termasuk saya, tentunya mau cepat sampai tujuan. Siapa sih yang tidak mau?

Masalahnya dengan melawan arus, berarti ada sistem, dalam hal ini aturan, yang tidak berjalan. Sistem tersebut menjadi rusak.


Padahal, dengan rusaknya sebuah sistem, maka yang ada adalah kekacauan.

Apalagi kalau tidak segera dilakukan koreksi berupa penindakan terhadap si pelanggar sistem. Semua akan cenderung meniru dan melakukan hal yang sama.

Semakin banyak hal itu dilakukan, semakin rusaklah sebuah sistem.

Padahal kalau dipikir ulang, hal tersebut dilakukan hanya untuk menghemat beberapa menit saja, bahkan tidak jarang hanya beberapa detik saja.

Sementara sebuah sistem yang sudah rusak, maka diperlukan waktu lama dan bertahun untuk membetulkannya.


Apakah beberapa menit tersebut begitu berharga dibandingkan dengan kerusakan yang ditimbulkannya?

Bisakah Anda bantu menjawabnya?

I Am Coming Home, Blogger.

Tags
I am coming home, Blogger.

Saya pulang.

Lucu ya? Tetapi memang itu perasaan yang muncul di hati ketika kembali membuat tulisan lagi di sebuah blog baru di Blogger.

Sebelumnya sudah berulangkali, saya coba membuat berbagai macam blog di layanan gratis yang disediakan Google ini. Hasilnya, zero, nol, nil, nada.

Tidak ada sama sekali hasilnya. Kebanyakan blog-blog tersebut dibuang ke tempat sampah setelah beberapa waktu.

Pandangan saya saat itu tertuju kepada website self hosted dirintis hampir satu tahun yang lalu. Blog berbasiskan Wordpress yang penuh dengan berbagai fitur dan wdiget untuk membantu dalam menulis.

Selama hampir setahun saya menikmati kemudahan dari CMS Wordpress dan belasan widgetnya yang luar biasa.

Hasilnya, memang tidak sia-sia. Pengunjung, saat ini sudah lebih dari 1200 orang perhari datang berkunjung. Berbagai tulisan muncul di halaman pertama SERP Google , banyak lainnya menanti giliran untuk menggeser pemilik lahan sebelumnya.

Angka dari Adsense terus menerus menunjukkan arah yang membaik sesuai dengan kemauan.

Everything is perfect  Semua berjalan seperti yang diinginkan.

Sayangnya, manusia itu serakah dan saya adalah manusia. Dengan semua hal yang menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, ada sisi dalam diri sendiri yang berkata "I am missing something".

Yah, kenyataannya memang itu yang saya sebenarnya sudah rasakan beberapa bulan terakhir.

Entahlah, apa yang hilang itu. Tetapi, yang hadir dalam hati adalah sejenis rasa capek ketika menulis harus sambil memperhatikan berapa "Keywords" atau "Kata Kunci" yang sudah dimasukkan dalam artikel. Rasa bete ketika harus melihat apakah kata kunci sudah ada di URL . Rasa males untuk melihat apakah sudah ada Sub Heading dalam artikel atau belum.

Ada rasa tidak bebas dalam menulis. Ternyata, perasaan seperti itu sangat menyebalkan.

Saya rasa, memang kebebasan itulah yang hilang selama setahun ini.Tidak lagi bebas menulis apa saja, dengan gaya sebebas-bebasnya, dengan tema yang dipungut dari sana sini dan tidak saling berkaitan.

Sebenarnya cukup disadari bahwa itu adalah konsekuensi ketika saya ingin blog tersebut berkembang. Berkembang dalam artian dibaca orang, sebanyak-banyaknya. Ditambah dengan sebuah pemikiran, suatu waktu blog tersebut akan menghasilkan materi alias uang.

Cukup sadar. Itu adalah konsekuensinya.

Tetapi tetap saja, karena saya adalah manusia dan manusia cenderung tidak puas akan apa yang dia punya, saya menginginkan lebih.

Lebih dari semua yang sudah dicapai.

Saya juga ingin memiliki "KEBEBASAN". Ingin agar tetap bisa menulis sebebasnya, tanpa niche, tanpa topik jelas, tanpa gaya yang memukau, tanpa perlu menjadi seorang yang serba tahu.

Bebas. Sebebas-bebasnya dalam hal menulis.

Untuk itulah, ada rasa kangen kepada Blogger. Tempat dimana tulisan pertama saya ditulis dan diterbitkan.

Tempat dimana pada awalnya yang ada hanyalah sebuah keinginan untuk bercerita. Tidak peduli apakah akan ada yang membaca atau tidak. Tempat dimana saya bebas berekspresi dan mengutarakan pandangan tanpa harus memikirkan apakah akan bermanfaat atau tidak untuk pembaca.

Sebuah tempat dimana saya bisa menjadi diri sendiri tanpa memikirkan orang lain.

Itulah mengapa, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Blogger. Membuat lagi sebuah rumah kecil dengan nama Blog Umum. Tujuannya, sebagai sebuah "hideaway" dari keriuhan di dunia blogging yang saya tekuni.

Kembalinya saya karena saya tahu, tidak akan ada Yoast SEO yang akan memperingatkan saya untuk meletakkan kata kunci di bawah 2.5% dan di atas 0.5%. Tidak ada lagi tanda merah, kuning, hijau bahwa tulisan tersebut sudah memenuhi kriteria SEO friendly.

Blogger tidak memiliki hal itu.

Saya juga tidak peduli bahwa judulnya akan menarik perhatian pengunjung atau tidak.Kalau ada yang mau membaca syukur, apalagi bisa dimanfaatkan. Kalaupun tidak, No Problem.

Disini saya bisa menjadi diri sendiri dan ternyata itu menyenangkan. Sangat menyenangkan.

Jadi, memang Blogger sangat sederhana dengan berbagai fitur yang terbatas. Tetapi, tempat ini sangat menyenangkan bagi seseorang yang hanya butuh tempat untuk menulis.

Itulah mengapa saya kembali. Saya pulang ke Blogger. Home Sweet Home.

Tentu saja, saya akan kembali ke "kantor" alias mengurus blog dimana target dan tujuan sudah ditetapkan, tetapi setidaknya sekarang ada sebuah rumah tempat saya pulang ketika kelelahan dan rasa bosan mulai melanda.

Disinilah "rumah" saya itu.

I am Coming Home, Blogger.


Jumat, 27 November 2015

Te Buitenzorg Yang Cantik - Istana Bogor

Tags
Istana Bogor
Istana Bogor Dari Kebun Raya Bogor

Cantik bukan?

Salah satu bangunan bersejarah di Indonesia ini memang terlihat mengagumkan dari sisi manapun.

Memang cukup sulit untuk bisa memasukinya, tetapi pemandangan bahkan dari jarak jauh dan hanya bermodalkan kamera, kita bisa menikmati keindahan bangunan yang dibangun pertama kali tahun 1745.

Foto-foto ini diambil dengan menggunakan dua jenis kamera. Yang pertama Smartphone Xperia M dan Fuji Finepix HS 35 EXR saja.

Tetapi, karena obyeknya sendiri sudah sangat luar biasa, maka kamera jenis apapun akan menghasilkan sebuah hasil yang membuat kita terpesona.

Istana Bogor
Istana Bogor Dari Sisi Danau Gunting

Dibangun karena sang pendiri awal, Baron Von Imhoff begitu terpesona akan keindahan alam Bogor, bangunan ini pertama kali diberi nama Buitenzorg.

Kata ini berarti "Tempat Tanpa Kecemasan"

Istana Bogor
Istana Bogor Dari Sisi Danau Gunting

Meskipun demikian, tempat ini dalam perjalanannya menyaksikan berbagai hal yang terkait dengan kecemasan. Mulai dari Belanda yang khawatir karena berada dalam kepungan Inggris abad ke-19 hingga peralihan kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru disaksikan oleh bangunan ini.



Nah, bagaimana pendapat Anda. Tidak kah Anda menyukainya.

Saya terus terang sangat menyukai foto-foto ini. Tidak glamour tetapi mempesona.

Semoga Anda juga


Partisipasi Kecil Dalam Memperbaiki Lingkungan


Lingkungan rusak kebanyakan karena tingkah polah manusia. Tidak ada keraguan untuk itu.

Keserakahan bertopengkan pemenuhan kebutuhan hidup acap kali mengabaikan makhluk lain, flora, fauna dan alam. Alhasil, kerusakan terlihat dimana-mana di penjuru bumi.

Untuk itulah membangkitkan kesadaran manusia untuk menyeimbangkan antara kebutuhan mereka untuk bertahan hidup dan lingkungan haruslah terus dilakukan oleh siapapun. Tidak perlu menunggu agar yang berwenang meminta, menghimbau atau memaksa.

Oleh karena itulah, dalam setiap blog yang saya kelola, selalu ada sebuah menu berjudul LINGKUNGAN.

Tujuannya tidak muluk hanya sekedar mengajak atau mengingatkan kepada pembaca yang kebetulan mampir tentang betapa pentingnya sebuah lingkungan alam bagi manusia.

Tidak muluk targetnya. Isu lingkungan masih menjadi hal yang aneh di negara ini. Isu yang masih tenggelam di dasar tumpukan isu-isu lain yang dianggap lebih "penting".

Jadi akan disadari bahwa topik ini tidak akan mengundang banyak pembaca Tetapi, yang saya harapkan bukan ribuan atau puluhan ribu yang membacanya.

Beberapa gelintir yang membacanya dan kemudian tergerak untuk menjaga lingkungannya sendiri akan lebih baik daripada 10000 orang pembaca tapi tak satupun melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Ini adalah tulisan pembuka bagian lingkingan dari Blog Umum. Sesuatu yang diharapkan dapat menjadi sebuah partisipasi kecil dari seorang blogger kampung dalam menjaga lingkungan.

Salam

Rabu, 25 November 2015

Menjadi Fotografer Amatir Untuk Merekam Kehidupan Dan Berbagi

Tags
Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat


Saya selain seorang blogger adalah seorang fotografer amatir. Sangat amatir bahkan seringkali lupa bagaimana memanfaatkan fitur-fitur yang ada pada kamera.

Aperture tertukar dengan shutter speed. Shutter speed dengan ISO dan lain sebagainya.

Senjata andalannya pun hanya sebuah Fuji Finepix HS 35EXR yang mungkin para fotografer kawakan tidak akan menoleh. Tidak jarang pula memanfaatkan fasilitas kamera pada smartphone.

Apapun yang tersedia, itulah yang saya manfaatkan untuk merekam gambar.

Obyek apapun yang menjadi target kebanyakan berkaitan dengan kehidupan. Hampir tidak pernah ada yang fantastis dan spektakuler, hanya yang biasa-biasa saja.

Hasilnya, biasanya hanya tersimpan dalam hard disk komputer kalau sudah selesai dilihat.

Bunga Teratai

Kadang dibagikan di Facebook. Sekedar untuk berbagi dan memperlihatkan kepada pembaca yang mampir, inilah dunia dari mataku. Inilah dunia yang terekam oleh kameraku.

Jarang mengundang decak kagum tapi cukup sering mendapatkan "Like" adi Facebook atau "Plus" di Google.

Bukan sebuah masalah. Karena inti niatnya adalah berbagi.

Bagian dari Blog Umum yang berjudul My Lens pun didasari dengan niatan tersebut. Untuk berbagi apa yang saya lihat dan nikmati.

Foto-foto ini adalah pembuka My Lens.Ke depannya, setiap gambar akan diberikan keterangan agak detail mengenai foto tersebut dan mungkin sedikit informasi.

Salam


Masihkah Saya Seorang Blogger Kalau Membeli Artikel?

Tags
Terus terang. Saya tergoda! Amat sangat!

Bukan karena si penggoda teramat cantik dan sexy, tetapi karena ia dapat menyediakan atau memenuhi salah satu kebutuhan saya saat ini.

Apa? Jangan? Haram hukumnya?

Lho? Jangan berprasangka buruk. Ini bukan tentang "tergoda" oleh wanita cantik nan sexy. Sama sekali bukan.

Godaan ini datang saat berkunjung ke beberapa jasa penulis artikel online.

Sungguh, saya tidak tahu apakah si penjual jasa manis, cantik, berkulit putih atau tidak. Jangankan membahas soal kemolekannya, melihat wujud di belakangnya saja belum dan mungkin tidak akan pernah.

Tergodanya saya adalah pada kata "artikel". Adanya jasa yang ditawarkan untuk membuat artikel lah yang membuat berbagai keinginan dan impian timbul. Karena itulah, saya bilang saya sedang tergoda.

Mengapa Tergoda Untuk Membeli Artikel?

Saya seorang Adsense Publisher.

Beberapa bulan yang lalu, blog yang saya kelola mendapatkan restu dari Google Adsense untuk memajang iklan mereka. 

Singkat kata, saya sudah bisa mulai memonetisasi website atau blog yang saya kelola. 

Sebuah kesempatan bukan? Ya, tentu saja. Ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk mendapatkan hasil materi dari kegiatan atau hobi menulis. Dengan mendapatkan izin tersebut, maka akan ada uang yang dihasilkan.

Kesempatan untuk menjadi kaya!

O ya. Banyak sekali contoh keberhasilan banyak blogger di seantero jagat ini dalam memanfaatkan Google Adsense. Kalau daftarnya dibuat, maka akan sangat panjang sekali, jadi tidak perlu rasanya ditampilkan. 

Cukup bila Anda mencari di Google Search dengan kata Successful Bloggers in The Wolrd atau Blogger Berpenghasilan Terbesar Di Dunia, maka akan ada banyak sekali cerita tentang itu. 

Inipun menjadi impian saya sejak disetujii menjadi seorang Adsenser.

Masalahnya terletak pada salah satu kunci , paling tidak menurut saya, utama dalam meraih jenjang tersebut adalah "KEMAMPUAN MENULIS ARTIKEL DALAM JUMLAH BANYAK".

Yak, betul tidak ada satupun blogger sukses tersebut yang hanya menulis 100-200 artikel dan langsung ngetop.

Selain itu, kebanyakan dari mereka sudah ngeblog lama sekali di atas 4-5 tahun. Waktu yang rasanya lama sekali untuk ditunggu.

Sampai sini, saya rasa Anda sudah cukup mengerti kemana arahnya. Mengapa saya sangat tergoda untuk membeli artikel?

Kemampuan 10 jari saya dalam menorehkan huruf demi huruf untuk sebuah artikel sangat terbatas. Kapasitas produksi apapun, bahkan pabrik besar sekalipun tetap akan ada limitnya. Tidak mungkin tidak.

Jumlah artikel yang bisa dihasilkan oleh mata, tangan, kepala dalam sehari paling banyak 10 saja. Itupun bisa dilakukan hanya di saat hari libur. Bila di hari kerja, dimana saya harus tetap mencari nafkah rutin, jumlahnya akan menyusut hingga 2-3 artikel per hari. 

Itupun kalau tidak kelelahan setelah berjuang di atas Commuter Line / KRL Jabodetabek. Kalau badan sudah tidak sanggup, bisa jadi hanya 1 atau bahkan 0.


Sementara, mulut blog saya akan terus menganga. Pembaca tidak akan mau tahu betapa lelahnya sehabis berdiri di dalam kereta. Yang mereka inginkan hanyalah konten-konten baru yang menghibur atau memenuhi kebutuhan mereka.

Begitulah adanya.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya? 

Mengapa ada penjual jasa penulisan artikel? Jawabannya karena ada demand untuk hal itu. 

Dengan banyaknya blogger yang ingin sukses tetapi menghadapi masalah yang sama, maka tentu saja jasa mereka sangat dibutuhkan. 

Bahkan banyak para pemain Adsense senior yang memanfaatkan jasa tersebut untuk mengeruk dollar atau rupiah. Tidaklah mengherankan.

Berarti, tinggal pesan, bayar dan tunggu kan? Lalu kenapa harus repot dan pusing?

Itulah, kawan. Saya belum sampai ke tahap tersebut. Bukan karena kurangnya uang dan modal. Untuk membeli 300-500 artikel dengan 400-500 kata per artikel sesuai harga yang ditawarkan, saya mampu. 

Bukan sombong. Memang dengan keuangan yang masih rutin mendapat pasokan dari gaji dari kantor tiap bulan, bukanlah sebuah hal yang berat untuk berinvestasi.

Sama sekali bukan itu.

Langkah tersebut masih terhambat pada satu pertanyaan kecil. Mungkin bahkan dianggap pertanyaan liliput bagi para pemain Adsense.

Sayangnya, itu pertanyaan besar buat saya.

Masihkah Saya Seorang Blogger?

Blogger adalah seorang yang menulis di media bernama blog. Blog sendiri adalah media yang diciptakan untuk menyebarkan ide, pandangan atau pengalaman dari seseorang kepada orang lain. Itulah ide dasar Evan Williams ketika menemukannya.

Nah, kalau saya sekarang membeli artikel dari orang lain, maka :

  • Tulisan tersebut bukan tulisan saya
  • Pemikirannya pun bukan keluar dari kepala saya
  • Gaya penulisan pun bukan gaya saya
Ya, memang. Tulisan tersebut akan terbit di blog atau website yang saya miliki. Semua orang yang membacanya akan berpikir bahwa itu adalah tulisan saya. Itu adalah gaya menulis pemilik blog. 

Padahal, bukan. 

Memang, kemungkinan besar uang akan mengalir ke dompet saya tidak peduli tentang hal-hal tersebut. Pembaca pun tidak akan tahu dan tidak perlu tahu.

Tetapi, Saya tahu. 

Bisakah Saya menerima hal tersebut. Bisakah Saya menerima pujian ketika blog tersebut dipuji? Dapatkah Saya menerima cerca ketika ada yang tidak suka dengan kontennya? 

Bisakah, Saya mengatakan pada khalayak pembaca dan menjawab pertanyaan mereka?

Akhirnya, pertanyaannya disingkat "Masihkah Saya Seorang Blogger?". Khalayak pembaca akan bilang masih, tetapi Saya tahu bahwa Saya bukan lagi blogger.

Saya hanyalah seorang kapitalis yang memanfaatkan medium ngeblog untuk mencari keuntungan.

Sanggup kah hal tersebut diterima?

Saat ini Saya tidak tahu dan belum bisa memutuskan. Karena itulah kata yang dipakai masih "godaan". Kalaupun dijalani, maka Anda tidak akan tahu tentang itu.

Setidaknya, saat ini, tulisan ini masih hasil dari kepala, tangan, dan hasrat dari penulis sendiri.

Senin, 23 November 2015

Percayakah Anda Pada Panduan Meningkatkan Trafik Pengunjung?

Tags
Pengunjung mengantri dan berbondong-bondong datang adalah impian semua pengusaha. Entah itu pengusaha makanan, pakaian, dan bahkan jasa.

Impian yang sama juga dimiliki oleh para blogger. Mereka pun sangat memimpikan membludaknya pembaca untuk berseluncur di blog atau website miliknya.

Tidak ada kecuali. Termasuk saya ada diantara mereka yang berkhayal dan mendambakan suatu waktu blog yang saya kelola kesulitan menampung kunjungan pembaca.

Dengan berbekal tekad mengundang sebanyak mungkin pengunjung, berguru kepada yang dianggap sebagai "master" adalah sebuah kewajiban.

Sayangnya, belum ada buku panduan tertulis yang dijual untuk umum untuk ini. Jadi, biasanya para blogger akan mengandalkan pada lagi-lagi internet sebagai sumber untuk mendapatkan referensi cara meningkatkan pengunjung ke sebuah blog.

Lagi-lagi juga, saya melakukan hal itu. (Tentu saja, karena itulah saya bisa bercerita seperti ini)

Masalahnya, terutama di dunia maya, terdapat jutaan orang yang menulis tentang "cara meningkatkan trafik pengunjung". Ya, jutaan orang dalam berbagai bahasa, dalam berbagai gaya menuliskan berbagai tutorial tentang cara menarik pengunjung ke blog.

Hasilnya, ternyata memusingkan. Tentu saja sangat membingungkan aka memusingkan. Bisa diibaratkan usaha mendapatkan pengetahuan tersebut seperti mencari sebuah jarum di tumpukan jerami.

Sangat sulit. Teramat sangat sulit.

Kesulitannya sama persis seperti yang pepatah tersebut katakan. Sulit untuk membedakan sebuah jarum karena jerami juga sama kecil, pipih dan runcing. Apalagi, jarum berukuran lebih kecil dibandingkan lembaran jerami.

Begitu pula mencari sumber informasi terpercaya dan kredibel yang benar-benar bisa memberikan panduan mengenai cara meningkatkan trafik pengunjung.

Memang, banyak sekali yang menuliskan artikel tersebut. Terlalu banyak bahkan. Semuanya menampilkan diri sebagai seorang master dan pakar. Sulit sekali membedakan yang mana yang benar-benar ahli dan yang "berlagak" seperti ahli.

Untuk memilah antara keduanya, ternyata butuh waktu cukup lama. Butuh banyak sekali membaca tulisan-tulisan tersebut sebelum bisa mendapatkan feeling tentang yang mana yang "ahli" dan yang mana yang hanya "berlagak".

Sebuah proses yang melelahkan.

Biasanya, setelah itu para blogger, termasuk saya juga (lagi), akan berusaha mempraktekkan apa yang sudah didapat dari para blogger yang dianggap master. Berbagai panduan standar seperti loading blog harus cepat, posisi ini dan itu , artikel harus begini dan begitu, , semuanya akan coba diterapkan pada blog sendiri.

Hasilnya, ada yang benar terbukti, sangat banyak yang tidak menghasilkan apa-apa.

Apakah Anda mengalaminya juga? Saya cukup yakin Anda pernah mengalami situasi semacam itu.

Nah, dengan pengalaman seperti ini timbul sebuah pertanyaan seperti di bawah ini :

Masih Percayakah Anda Pada Panduan Meningkatkan Trafik Pengunjung?

Bukankah pertanyaan itu akan timbul di hati ketika setelah mempraktekkan tips dan trik yang dianjurkan, tetapi trafik pengunjung tetap saja seperti siput?

Padahal judul artikelnya kebanyakan sangat menjanjikan seperti "Meningkatkan traffik pengunjung hingga 10.000 per hari", "Meningkatkan trafik hingga 4000 Visitor Unik dalam 5 hari" dan lain sebagainya.

Pada kenyataannya jauh dari yang diharapkan. Kebanyakan trafik akan bergerak naik turun setelah mencobanya.

Lalu, apakah yang diajarkan para "master" tersebut adalah salah. Ataukah, mereka bukan master yang sebenarnya?

Bukankah begitu ?

Kelihatannya memang demikian.

Kenyataannya?

Ternyata setelah ditelaah ulang lagi, memang ada yang salah. Benar-benar ada yang tidak beres.

Dimana ketidakberesannya? Pada tulisan-tulisan para "master" atau yang "berlagak master"?

Ternyata tidak. Kesalahn tersebut ada pada cara kita memandang tentang hal itu. Para "master" dan bahkan yang "berlagak sebagai master" sama sekali tidak melakukan kesalahan.

Mereka hanya membagi hal yang menurut mereka akan menghasilkan pengunjung dalam jumlah banyak. Mereka, sama halnya dengan kita sebagai blogger hanyalah mencoba menjadikan diri bermanfaat bagi orang lain.

Bukanlah sebuah kesalahan untuk berbagi, apalagi dalam hal pengetahuan. Tidak ada yang salah dengan semua itu.

Kesalahannya ternyata terletak pada diri kita sendiri sebagai pencari informasi.

Keinginan, agar mendapatkan sesuatu dalam jangka waktu yang kita tetapkan, menutupi penilaian dan pertimbangan kita. Kita tidak lagi bisa memilah dan menelaah informasi dengan baik. Selanjutnya diwujudkan dalam langkah yang salah juga.

Cepat. Cepat. Cepat. Itu yang kita harapkan. Kalau tidak cepat berarti tehnik tersebut salah dan harus dicari tehnik baru.

Itulah yang biasa kita lakukan. Sebalnya, lagi-lagi saya juga mengalami hal tersebut.

Padahal

1) Informasi adalah Informasi


Informasi tersebut haruslah ditelaah lebih lanjut dan bukan hanya sekedar dikopi alias ditiru. Situasi dan kondisi blog dimana sang master memberi petuah, belum tentu sama dengan blog yang kita kelola.

Bisa diibaratkan, saran cara memasak semur jengkol dipakai untuk membuat sambel goreng pete. Hasilnya tentu berbeda

2) Target Waktu Yang Tidak Rasional

Kalau tidak cepat meningkatkan trafik berarti triknya salah. Itu adalah dorongan hati yang membuat kita akhirnya terjebak sendiri.

Kebanyakan para master akan mengajarkan berbagai trik. Beberapa akan memberikan rentang waktu untuk mendapatkan hasil sangat pendek. 

Semuanya ini mendorong kita, para blogger, untuk percaya bahwa ada jalan pintas untuk mendapatkan pengunjung yang mengantri untuk membaca artikel-artikel kita.

Target waktu ditetapkan sangat pendek.

Hasilnya, ketika target tidak tercapai, kita akan kembali sibuk mencari trik yang lebih ampuh. Trik dari master yang dianggap lebih mumpuni dari yang sebelumnya.

Padahal, ngebog itu adalah sebuah proses berkelanjutan. Tidak akan ada jalan pintas untuk mendapatkan hasil. Tidak akan ada cara tercepat untuk mengundang pengunjung.

Kesemuanya bukan tergantung pada trik yang dipakai, tetapi pada seberapa keras dan pintar kerja yang kita lakukan. Semakin keras usaha kita lakukan dengan cara yang cerdas, semakin cepat pengunjung akan datang. 

Bukan sebaliknya.

3) Kredibilitas Para Master Bisa Diukur

Seringkali kita tergoda ketika sebuah blog memberikan daftar peringkat ketenaran para master. Tidak jarang kita terkesima karena gaya bahasa yang meyakinkan oleh seorang "master".

Begitu meyakinkan sehingga kita lupa mengecek kredibilitas sang "master" tersebut.

Oya. Memang begitu adanya.

Begitu mendengar bahwa ada cara menghasilkan 100.000 pengunjung dalam 10 hari, maka kita dengan serta merta langsung mempraktekkan tehniknya. 

Siapa sih yang tidak berharap ada 100.000 orang datang ke blog dalam waktu singkat? Saya sih berharap banget.

Godaan seperti ini membuat kita silap. 

Lupa melakukan cross check apakah sang master sudah mempraktekkan sendiri belum teori yang disarankannya. 

Padahal caranya sederhana. 

Alexa menyediakan tool untuk mengecek peringkat sebuah website atau blog. Memang banyak orang meragukan tetapi fungsinya masih bisa dimanfaatkan.

Kalau peringkat Alexa-nya di atas jutaan, sudah pasti Anda tidak perlu percaya. Bagaimana bisa percaya, kalau ia untuk menaikkan blognya sendiri saja, ia tidak bisa, bagaimana bisa mengajarkan sesuatu yang tidak ia kuasai?

Kalau peringkatnya sama dengan blog kita atau sedikit lebih baik, silakan pikir-pikir lagi. Pantaskah menghabiskan waktu untuk belajar dari seseorang yang kemampuannya sama saja dengan kita?

Intinya, kita harus mencoba mengukur kredibilitas dari seseorang yang memberikan petuah tersebut dan bukan hanya menelan mentah-mentah apa yang diajarkan.


Terlepas dari semua itu, wajar memiliki hasrat dan keinginan agar pengunjung datang berbondong-bondong. Yang menjadikan tidak wajar, adalah ketika keinginan tersebut menutupi penilaian logis kita terhadap situasi.

Kalau itu terjadi, ternyata banyak sekali waktu yang terbuang hanya untuk mencari dan mencari. 
Padahal waktu tersebut bisa dipergunakan untuk menghasilkan lebih banyak artikel pada blog kita. 

Setidaknya itulah yang saya lakukan sekarang. Daripada mengubek-ubek internet mencari berbagai trik, saya lebih suka menghabiskan waktu yang tidak banyak untuk menulis artikel.

Satu dua pengunjung tetap lebih berharga daripada 1.000.000 pengunjung tetapi dalam impian.

Itu menurut saya yah.

Minggu, 22 November 2015

Ngeblog Itu Proses , Bercerminlah Pada Tulisan Pertama Anda

Tags

Pernahkah Anda membaca tulisan-tulisan yang pertama kali Anda terbitkan pada blog yang Anda kelola?

Saya berulangkali. Bagaimana dengan Anda?

Beberapa kesan yang tertangkap setiap membaca artikel-artikel pertama yang terbit di awal langkah menjadi blogger adalah

* Lucu
* Naif
* Banyak kesalahan, baik kesalahan ketik ataupun tata kalimat
* Panjang-panjang kalimatnya
* Kadang tidak nyambung antara ide satu paragraf dengan paragraf yang lain

Dan masih banyak lagi hal yang bila dilihat sekarang bisa disingkat dalam satu kata "PAYAH". Tidak jarang membuat saya malu membacanya.

Ngeblog Itu Proses

Lalu, apa yang saya lakukan dengan tulisan-tulisan tersebut? 

Menghapusnya? Mengedit ulang dengan gaya sekarang? 

Ternyata, saya lebih memutuskan untuk membiarkannya seperti apa adanya. Hanya perbaikan kecil saja yang diberikan, seperti memperbaiki gambar yang buram, tata letak yang berantakan, ejaan yang kurang benar.

Selebihnya, tetap apa adanya seperti pertama kali diterbitkan.

Hal ini saya lakukan karena saya berpandangan bahwa ngeblog itu PROSES. Ya, blogging atau ngeblog itu memang sebuah proses dan akan selalu menjadi. Bahkan kalaupun nanti blog yang saya kelola sukses, proses itu akan terus berlanjut.

Tidak akan pernah berhenti.

Mengapa bisa demikian? Jawabannya, karena blogger adalah manusia. Si penulis adalah manusia. Yang ditulisnya adalah tentang manusia. Tujuan akhirnya pun akan selalu terkait dengan manusia.

Tidak akan pernah lepas.

Sementara seorang manusia untuk tetap hidup, maka ia harus terus belajar. Terus menggali berbagai hal demi dirinya. Manusia hanya berhenti ketika ia harus menghadap Yang Maha Kuasa.

Nah, jadi ngeblog itu memang sebuah proses berkelanjutan.

Tulisan-tulisan pertama kita adalah wujud ketika kita lahir. Dimana kita masih sangat "hijau" alias mentah. Ketika, kita masih meraba apa, kemana, dan bagaimana yang terbaik untuk diri kita sebagai seorang blogger.

Oleh karena itu tidak akan mengherankan ketika tulisan-tulisan pertama kita terkesan sangat kacau balau bila dilihat dari kacamata masa kini.

Itu adalah sebuah hal yang lumrah. Seorang blogger yang sudah sukses sekalipun, pada awalnya ia akan memiliki pandangan yang sama ketika berkaca pada artikel-artikel awal mereka.

Tidak ada blogger yang langsung sukses begitu ia mengeluarkan tulisan pertama mereka. Bahkan untuk seorang selebriti yang sudah terkenal sekalipun dan kemudian membuat blog tentang dirinya, ia akan tetap mengalami masa-masa seperti ini.

Hanya saja, perbedaan dari blogger yang berhasil dan yang gagal adalah bagaimana ia memanfaatkan berbagai kesalahan di awal sebagai landasan ke arah perbaikan. Artikel yang naif dan lucu itu adalah batu pijakan untuk ke arah yang lebih baik.

Dari sanalah kita bisa mendapatkan data dan informasi tentang kelemahan diri kita sebagai blogger. Data tersebut kemudian diolah menjadi sebuah tindakan koreksi yang akan membuat seorang penulis atau blogger menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Itulah alasan mengapa, saya memutuskan untuk tetap tidak merubah satu artikel pun (kecuali pada hal-hal kecil yang sudah disebutkan di atas). Semua dibiarkan tetap apa adanya.

Memang, kadang terasa menyebalkan melihat kebodohan sendiri. Sangat tidak enak mengetahui kita pernah begitu "PAYAH". Rasanya ingin menghilangkan tulisan-tulisan itu agar tidak terbaca oleh orang lain.

Saya merasa dengan mengubah banyak bagian dari artikel-artikel tersebut dengan mengikuti prinsip SEO (Search Engine Optimization), maka tulisan-tulisan itu bisa tampil lebih baik di SERP (Search Engine Result Page).

Tetapi, kalau tulisan-tulisan tersebut dihilangkan atau dirubah terlalu banyak, maka ada sebagian dari proses yang hilang. Sebagian yang merupakan bagian tak terpisahkan dari sebuah perjalanan yang sedang dijalani. Sebuah sejarah yang masih bisa terus digali.

Sesuatu yang menjadi titik tolak kita menuju ke sesuatu yang lebih baik lagi.

Itulah mengapa, saya merasa artikel-artikel pertama tersebut terlalu berharga untuk dihilangkan atau diubah terlalu banyak dari awalnya. 

Bagaimana dengan Anda, Kawan? Apa yang Anda lakukan dengan tulisan-tulisan pertama Anda?


Sabtu, 21 November 2015

Ngeblog Itu Sebuah Usaha Yang Bisa Menghasilkan

Tags
Saya seorang blogger. Paling tidak demikianlah saya memandang diri sendiri. Ada rasa bangga terbersit di dalam hati ketika memperkenalkan diri dengan sebutan itu. 

Padahal, dari banyak orang yang mendengar kegiatan baru yang saya lakukan sejak satu tahun lalu, hanya sebagian kecil saja yang mengerti dan memahami. Tidak jarang yang tertawa kecil saat diberitahu tentang hal tersebut.

Jelas sekali bahwa hingga saat ini, kegiatan tulis menulis di media yang ditemukan oleh Evan Williams tersebut masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

Walaupun demikian, sebagian dari mereka terdiam ketika saya menyebutkan bahwa sudah ada pemasukan, meskipun masih sangat sedikit, dari kegiatan ngeblog.

Rupanya kata "uang" memang ampuh memicu suatu tombol dalam pikiran banyak orang. Maklum.

Memang tidak ada orang yang tidak akan tertarik untuk mendapatkan pendapatan lebih. Sangat jarang ada manusia yang tidak memikirkan cara untuk mengeruk uang lebih banyak dari yang sudah mereka miliki saat ini.

Begitu pula saat kata uang dikaitkan dengan ngeblog. Terbayang bahwa otak secara otomatis bekerja untuk mempertimbangkan kemungkinan menemukan sebuah tambang baru untuk menambah isi dompet.

Sebuah pikiran yang sama yang timbul dalam benak saya sendiri beberapa waktu lalu.

-------
Kira-kira satu tahun yang lalu, pemikiran tersebut timbul ketika sedang berselancar di dunia maya untuk mencari kemungkinan alternatif meningkatkan kesejahteraan keluarga, beberapa tulisan terkait dengan ngeblog dan uang tertangkap oleh mata.

Beberapa kisah sukses dari para blogger yang sudah menikmati jerih payah mereka dalam dunia blogging memicu tombol yang sama di kepala. 

Hasilnya, sebuah blog baru lahir tidak lama kemudian. Disusul dengan beberapa lagi yang lain dari tangan seseorang yang melihat potensi adanya sumber untuk menghasilkan lembaran-lembaran dollar atau rupiah.

Itulah ide awal kegiatan blogging yang saya lakukan.

Apakah saya begitu yakin bahwa ngeblog bisa menjadi sumber penghasilan?

Tidak 100%. Bahkan mungkin pada awalnya hanya 20-30 persen saja. 

Mengapa langkah ini dicoba?

Ada banyak alasan. Hanya, yang paling utama adalah kegiatan ini bisa dimulai tanpa modal berupa uang.

Biasanya memulai sebuah usaha untuk menghasilkan uang memerlukan dana. Kebutuhan dana untuk ditanamkan dalam usaha inilah yang tidak mampu disediakan oleh gaji seorang karyawan. Kebutuhan sehari-hari sudah menyita hampir seluruh upah yang diterima.
O ya. Tentu saja berbagai ahli dalam pengaturan keuangan akan menganjurkan untuk membuat bdget ini dan itu. Pasti juga mereka akan menasihati untuk disiplin terhadap anggaran keuangan yang dibuat. Mereka pasti benar dengan teori mereka.

Sayangnya, seringkali memang realita berkata lain. Terlalu banyak variabel kehidupan yang membuat teori para ahli tersebut sering tidak mencerminkan realita. 

Hasilnya memang kebutuhan keluarga tercukupi tetapi tidak menyisakan sesuatu untuk menjadi langkah awal melakukan usaha.

Itulah yang membuat ngeblog untuk mencari penghasilan sangat menarik.

Kegiatan ngeblog saya dilakukan setelah menemukan bahwa terdapat media gratis yang bisa dipergunakan. 

Tentu saja, sudah diketahui pula bahwa ngeblog untuk menghasilkan uang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Akan butuh banyak kerja keras dan kreatifitas untuk sampai akhirnya ke tujuan awal, uang.

Hal ini sangat dipahami bahkan sebelum blog pertama lahir dari tangan saya.

------

Sekarang, setahun lebih sudah ngeblog saya lakukan.

Sudahkah ada hasilnya?

Kalau hasil berupa uang cash yang masuk ke dalam anggaran rumah tangga, jawabnya BELUM !

Belum sepeserpun yang diterima oleh istri di rumah.

Bahkan, sebenarnya sudah cukup banyak uang yang dikeluarkan untuk menunjang hobi baru saya, ngeblog.

Kalau waktu, jangan ditanyakan lagi. Sudah ratusan jam, bahkan ribuan dicurahkan untuk mengurus blog, baik berupa membuat tulisan, mengatur layout, melakukan promosi dan segala sesuatu yang berhubungan dengan ngeblog.

Apakah merasa sia-sia?

TIDAK. Justru tingkat keyakinan bahwa ini jalan yang tepat terus naik, 

Jangan tanyakan sudah mencapai berapa persen atau level berapa, tetapi tingkat keyakinan bahwa memang ngeblog bisa menjadi sumber penghasilan semakin meninggi.

Ada dua alasan 

1) satu blog yang dikelola sudah terdaftar sebagai Google Adsense Publisher. Tentang apa itu Google Adsense Publisher, akan saya jelaskan dalam tulisan terpisah di kemudian hari.

2) setelah hampir 6 bulan terdaftar, angka penghasilan yang diterima dari iklan yang terpasang sudah mendekati angka pay out alias angka minimum untuk menerima pembayaran. 
Itulah alasannya.

Memang betul sekali nilai nominal yang diterima masih sangat jauh sekali dari jumlah upah dari kantor setiap bulannya.

Meskipun demikian, saya melihatnya dari sisi yang lain. 

Usaha atau bisnis tulis menulis di blog tersebut "SUDAH MENGHASILKAN". Itu adalah hal yang penting dalam perjalanan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Bahkan sebuah usaha dagang sekalipun tidak akan bisa meraup untung dalam periode tertentu. Itulah pikiran yang ada. Tidak ada usaha yang langsung sukses dan memberikan keuntungan. Akan selalu ada waktu dimana yang modal yang dikeluarkan tidak menghasilkan sepeserpun bagi si penanam.

Nah, dengan sudah adanya tanda bahwa akan ada penghasilan menunjukkan arah ngeblog yang saya harapkan sudah terlihat.

Sudah jelas sekali angka tersebut masih harus terus diperjuangkan agar terus bertambah, bertambah dan bertambah. Sama seperti usaha lainnya, kerja keras masih akan diperlukan.

Hanya setidaknya melihat arah perkembangan seperti ini sangat membesarkan hati,

Mungkin, perasaan yang sama dirasakan seorang pemilik usaha kuliner melihat bahwa nama restorannya mulai dikenal dan keuntungan walau hanya sedikit sudah mulai mengalir. 

Setidaknya, dengan angka kecil dalam account Google Adsense saya, sudah menunjukkan langkah yang saya ambil dengan menjalani ngeblog tidak salah. 

Berbagai tulisan mengenai bahwa ngeblog itu bisa menghasilkan memang betul adanya. Kali ini, saya bisa mengatakan bukan karena membaca berbagai tulisan, tetapi berdasarkan dari pengalaman diri sendiri.

Sesuatu yang jelas menambah keyakinan untuk meneruskan jalan yang sudah ditempuh.

Satu bonus , cukup menyenangkan juga melihat wajah-wajah yang terdiam mendengar sebuah kegiatan yang masih banyak dianggap sebagai buang-buang waktu ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang juga mereka inginkan. Sebuah tambahan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Itu saja sebagai tulisan pembuka dari Blog Umum.

Selamat malam. Selamat beristirahat.