Jumat, 15 September 2017

[Pertanyaan] Apakah Bisnis Retail Offilne Mulai Tergerus Bisnis Retail Online

Berita yang sebenarnya menarik, tetapi kecuali pengamat ekonomi atau penggemr diskonan, rasanya berita ini akan terlewat karena berita tentang Raisa-Hamish masih lumayan mendominasi laman detik.com.

Isinya hanya berita kecil bahwa Matahari akan menutup dua buah outletnya di Manggarai dan Blok M dan akan melakukan cuci gudang.

Menariknya bagi pengamat ekonomi dan tentunya pengamat politik biasanya akan melahirkan perdebatan tentang "ekonomi Indonesia yang menurun atau stagnan dan memperlemah daya beli masyarakat". Hal seperti itu akan banyak mengundang perhatian dan perdebatan.

Cuma, sebagai seorang masyarakat umum, seorang blogger saja, dengan pengetahuan tentang ekonomi yang amat sangat teramat sedikit, saya berpendapat sedikit berbeda.

Berita ini sepertinya merupakan sebuah dampak awal dari berkembangnya bisnis retail via online. Kehadirannya yang semakin lama semakin membesar dan diterima oleh masyarakat luas, mulai memberikan efek bagi nama-nama yang sebelumnya merupakan raja bisnis retail offline.

Bagaimanapun, dengan berbagai kemudahan dan kemurahan yang disediakan para penjual di dunia maya, hal itu mendorong orang untuk semakin banyak berbelanja via internet dibandingkan harus datang ke mall atau tempat lainnya.

Apalagi beberapa waktu yang lalu,berita sejenis tentang banyaknya toko elektronik yang tutup di Glodok tersebar di berbagai media online dan cetak.

Hal yang sama persis dan patutlah diduga bahwa bisnis retail offline mulai tergerus bisnis retail online.

Akankah bisnis retail di darat menghilang?

Rasanya, belum. Mungkin 20-30 tahun lagi bisa terjadi, tetapi tidak dalam beberapa tahun ke depan. Masih perlu waktu bagi bisnis online untuk mengambil alih tampuk kekuasaan di dunia bisnis dari tangan retailer offline.

Meskipun demikian, rasanya memang tidak terelakkan dimana suatu waktu mall dan berbagai pusat perbelanjaan akan kosong melompong karena kekurangan pengunjung. Suka atau tidak suka, memang lebih enak berbelanja di rumah, tinggal memencet tombol dan barang datang beberapa hari kemudian.

Bandingkan dengan segala kemacetan dan kesusahan mencari lahan parkir yang biasanya ditemukan saat berkunjung ke mall.

Iya kan?

[Dugaan] Sepertinya Tahun Depan Akan Semakin Banyak Blogger dan Publisher Adsense Yang Menyerah


Cuma dugaan, dan tidak berdasarkan hasil riset yang sahih. Hanya membaca berbagai keluhan yang disampaikan para blogger dan publisher Adsense Indonesia, sepertinya tahun mendatang jumlah blogger dan publisher Adsense akan berkurang.

Bukan tanpa alasan sih.

BPK atau Biaya Per-Klik (CPC - Cost Per Click dalam bahasa Inggrisnya) sepertinya mengecil. Jika tahun lalu dan awal tahun ini masih berkisar antara US$ 0.03 atau 3 cents dollar (sekitar 390 rupiah) per klik, beberapa bulan terakhir sepertinya drop hingga ke angka US$ 0.01 atau 1 cent saja per klik.

Cuma 130 rupiah saja.

Sangat rendah.

Tidak heran beberapa blog yang pernah besar seperti berhenti mengeluarkan artikel baru. Blog-blog tersebut tetap hidup tetapi sejak beberapa bulan lagi tidak ada lagi tulisan baru yang mengisinya. Mungkin karena "biaya produksi" artikel tidak lagi sebanding dengan pendapatan.

Maklum juga beberapa blog tersebut tidak lagi murni blog karena sudah mengundang penulis dari luar. Tentunya para penulis tersebut harus dibayar kan? Dengan pendapatan yang menurun, kekuatan sang pemilik blog juga menurun.

Itu yang sudah tahunan ngeblog. Bagaimana yang pemula? Yah, mereka makin sering misuh-misuh alias marah-marah nggak tentu arah. Khayalan mereka tentang mendapatkan pendapatan berlimpah hanya dengan menulis seperti semakin jauh terbawa angin.

Buyar semua.

Efeknya, semangat mereka pun surut menghadapi situasi yang kecut.

Jadi, kemungkinan besar, tahun depan, jika situasi tetap begini, akan banyak blogger bertumbangan dan mengalihkan perhatian mereka pada sesuatu yang lebih riil. Uang adalah salah satu faktor orang terjun ngeblog belakangan ini, terutama Adsense. Dan dengan outlook yang begitu suram, rasanya hanya sedikit yang masih mau bertahan kalau uang alasannya.

Yang tetap tidak tersentuh oleh situasi ini adalah mereka yang ngeblog demi kesenangan dan memiliki pekerjaan/penghasilan tetap di luar ngeblog. Mau hujan badai turun di dunia Adsense terjadi, mereka akan tetap berjalan dan menikmati kesenangan yang disajikan.

Bagaimana dengan Anda?

Kamis, 14 September 2017

Foto-Foto di Blog Linda IKeji Itu Bagus-Bagus dan Menarik

Banyak blogger Indonesia yang bingung mengapa blog Linda Ikeji bisa mengundang banyak sekali pengunjung (hingga jutaan pagview perhari). Padahal blognya sederhana dan terkadang hanya berisi sebuah foto dan beberapa baris tulisan saja. Tidak ada SEO dan Kata Kunci atau segala sesuatu yang banyak disarankan oleh para master blogger.

Heran.

Kala saya, setelah membaca berulangkali blog tersebut, tidak lagi. Ada beberapa hal yang membuat blog tersebut sangat menarik.

Foto-foto.

Bagi saya yang menggeluti juga dunia fotografi selain blogging, saya melihat foto-foto tersebut sangat eye-catching dan menarik. Pembuatannya juga terlihat tidak sembarangan dan pemotretnya pasti menguasai teknik fotografi yang baik.

Banyak dari foto-foto tersebut yang berasal dari Getty Images atau sumber lainnya yang merupakan sumber image atau foto tingkat dunia. Jadi, tidak heran kalau foto-foto tersebut akan menarik mata yang melihat dan kemudian mengklik artikelnya karena rasa ingin tahu.

Jadi jangan pernah abaikan untuk membuat atau mencari foto yang menarik bagi blog Anda, karena bisa menjadi salah satu kunci untuk mendatangkan pembaca.

Siapkan Tempat Parkir Sebelum Membeli Mobil (di Jepang)


Jakarta hingga hari ini masih heboh dengan wacana pemerintahnya menghadirkan peraturan bahwa setiap pembeli mobil harus memiliki garasi. Banyak pro dan kontra. Biasalah, namanya juga Indonesia.

Banyak yang mengecam karena dianggap hal itu mengganggu kebebasan berbelanja dan hak setiap warga negara memiliki sarana transportasi. Tidak sedikit yang memberi contoh bahwa di luar negeri pun tidak ada aturan seperti itu.

Dan seterusnya.

Saya cuma tertarik pada hal yang terakhir yang mengatakan bahwa di luar negeri tidak ada aturan seperti itu. Memang terlihat sederhana, tetapi kesannya pemerintah DKI Jakarta itu mengada-ada dengan wacana itu.

Tetapi, sebenarnya tidak. Di luar negeri Jepang, peraturan itu sudah ada. Coba saja baca tulisan di sini. Disitu tertulis bahwa seseorang harus menyiapkan tempat parkir sebelum ia membeli mobil.

Tempat parkir, bukan berarti harus garasi. Tempat dimana ia bisa menyimpan mobilnya saat sedang tidak beraktifitas atau di rumah.

Sebuah keharusan untuk dimiliki di negeri Sakura itu.

Alasannya memang sudah jelas sekali. Kalau tidak punya garasi atau tempat menyimpan mobil, maka kendaraan itu harus diparkir dimana? Di pinggir jalan?

Memang jalan merupakan sesuatu yang bisa dipakai publik secara umum, tetapi bukan untuk tempat menaruh mobil. Para pemakai yang lain bisa terganggu haknya.

Nah, dengan sudah memiliki lahan parkir buat mobil yang dibelinya, bisa dipastikan, saat mobil tersebut tidak beroperasi, ia tidak akan menimbulkan gangguan bagi pengguna jalan lainnya.

Terutama di kota-kota besar dimana lahan dan jalanan terbatas. Mobil yang terparkir sembarangan bisa menimbulkan masalah lalu lintas seperti kemacetan. Bahkan di dalam sebuah kompleks perumahan sekalipun kerap terjadi perseteruan antar tetangga karena mobil yang diparkir di depan rumah menghalangi mobil tetangga keluar.

Itulah mengapa wacana itu digulirkan.

Jakarta, yang sudah padat dengan manusia, juga padat dengan jutaan kendaraan, seperti sepeda motor dan mobil. Bisa bayangkan kalau semua mobil tersebut diparkir sembarangan dan tidak di tempat parkir atau garasi.

Berapa banyak masalah yang akan ditimbulkannya? Berapa ongkos atau biaya yang harus dikeluarkan untuk mengatasi masalah tersebut?

Sudah merupakan kewajiban dari seseorang yang hendak membeli mobil untuk memastikan bahwa mobilnya tidak akan menjadi gangguan bagi yang lainnya. Orang lain pun berhak menikmati jalan dan bukan hanya si empunya mobil.

Jadi, tidak benar kalau di luar negeri tidak ada peraturan yang mewajibkan calon pembeli mobil harus sudah memiliki garasi (tempat parkir mobil).



Bagaimana Kalau Blog Anda Membosankan Sekali Seperti Blog Umum Sekali?


Blog Umum Sekali memobsankan. Isinya cuma hal remeh temeh yang tidak bermanfaat dan sangat tidak berkualitas.

Yah, tidak heran kalau ada yang mengatakan demikian dan pastinya akan banyak dari mereka yang pernah kesasar masuk blog ini akan mengatakan demikian.

Sejak awal memang sudah diduga hal itu akan terjadi.

Blog ini tidak pernah diniatkan untuk memikat pembaca. Oleh karena itu dibuat seadanya dan menggunakan platform gratisan saja. Isinya pun beragam, mulai dari sekedar bercerita tentang apa yang admin lihat dalam perjalanan ke kantor sampai ke unek-unek dan celotehan aneh dari seorang karyawan yang bosan.

Tidak ada tujuan tertentu yang ditetapkan bagi blog ini.

Blog Umum Sekali memang diniatkan sebagai wadah bagi pemiliknya untuk berceloteh seenak udelnya saja.

Alasannya karena beberapa blog lain, yang dulunya tempat menuangkan eelotehan nggak penting sang pemilik sudah menemukan takdirnya. Mereka sudah berubah menjadi sebuah blog dengan tema dan niche tertentu dan sudah mulai dikemas dalam bentuk yang diusahakan untuk menarik pengunjung.

Alhasil, sang admin blog ini kehilangan tempat menulis ngalor ngidul dan membahas sesuatu yang tidak penting (walau di blog yang lain juga tidak penting-penting amat). Tidak ada lagi tempat ngomel dan ngedumel karena kalau itu dilakukan "branding" atau "pencitraan" yang dijalankan pada blog-blog tersebut akan musnah dan berarti kehilangan ciri khasnya.

Lahirlah blog Umum Sekali. Namayang dipilih pun menunjukkan bahwa tidak akan ada sesuatu yang spesial disini. Yang ada hanya yang UMUM saja dan biasanya yang umum akan membosankan.

Oleh karena itu, kalau ada yang mengatakan blog ini sangat membosankan, yo wis ben. Tidak akan ditanggapi. Malah pemiliknya akan merasa senang karena tujuannya agar blog ini membosankan tercapai.

Kalau membosankan, pengunjung akan malas mampir, dan hal itu bagus karena kedatangan pengunjung justru menghadirkan tekanan sendiri. Namanya juga manusia, kalau mendapat perhatian orang, biasanya jadi grogi dan salting (salah tingkah).

Dengan tidak adanya pengunjung, malah hal itu baik bagi pemiliknya. Ia bisa bebas menulis apa saja yang dikehendakinya tanpa harus khawatir pengunjungnya akan kabur. Kalau mereka mau kabur, ya silakan saja. Lha ya wong datangnya saja kayak jalangkung, tidak diundang, jadi jangan berharap pulangnya akan diantar.

Jadi no problemo kalau Anda juga mengatakan bahwa blog ini membosankan. Itu hakmu dan tidak akan dibantah.

Tapi jangan ditiru yah, terutama kalau Anda bertujuan ingin terkenal karena ngeblog. Jangan pernah membuat blog Anda membosankan seperti ini. Kecuali Anda memang hanya hendak berceloteh ria seperti saya, bolehlah ditiru.



Mengusir Kebosanan Dengan Memotret Apa Yang Ada di Kantor


Hidup sebagai seorang karyawan itu membosankan. Bagaimana tidak setiap hari melakukan berbagai "ritual" yang sama. Naik kendaraan yang sama. Mengerjakan tugas yang sama. Bertemu teman yang itu itu juga. Duduk di kursi dan mengetik di meja yang tidak berganti kalau belum rusak.

Membosankan. Terutama jika sudah mengalami dan menjalaninya selama puluhan tahun.

Sudah pasti. Kalau ada yang bilang tidak, yah mungkin urat syarafnya sudah mulai kendor sehingga tidak bisa menyampaikan respons "bosan" ke bagian yang lain.

Bolehlah Mario Teguh atau orang-orang yang bergelar motivator atau inspirator mengatakan hal itu bisa diatasi dengan jalan "CINTAI PEKERJAAN ANDA" , tetapi cobalah tanyakan apakah mereka tidak bosan dengan istri-istri yang menemani mereka selama puluhan tahun. Kalau Mario Teguh tetap tidak bilang, tanyakan padanya mengapa dia bisa punya anak dari wanita lain.

Rasanya dia berbohong kalau mengatakan tidak pernah bosan dengan istrinya yang itu-itu juga.

Kalau saya, daripada berfilosofi rumit hanya untuk memecahkan masalah kebosanan, saya lebih memilih berpaling kepada smartphone yang selalu setia menemani (kalau tidak mau diomeli istri karena susah dihubungi).

Bukan untuk menelpon seseorang nan cantik dan sexy, serta masih muda. Ngapain nambah kepusingan dan mencari perkara (tanyakan Mario Teguh kalau tidak percaya kepusingan yang dialaminya).

Ada kamera  di smartphone. Zaman sekarang pasti ada itu, meski kadang hanya beresolusi kecil saja, 5-8 Megapixel saja. Sudah cukup.

Dengan itulah kemudian saya hunting foto di sekitar. Kadang di jendela kaca kantor. Kadang di trotoar depan kantor saat mencari udara segar.

Apapun akan dijadikan sasaran. Mulai dari bajaj yang lalu lalang hingga hiasan yang terpajang di dekat jendela kantor. Saya akan berusaha untuk menjadikannya foto yang menarik untuk dilihat.

Tidak selamanya berhasil. Sembilan puluh persen lebih menjadi foto yang gagal dan tidak bisa ditampilkan. Entah karena kurang cahaya (dan sensor kamera yang jelek) atau karena memang obyeknya membosankan.

Meskipun demikian, kegiatan kecil seperti itu menghadirkan sesuatu dalam kehidupan sebagai karyawan yang membosankan. Sesuatu yang bisa menghadirkan hiburan kecil tanpa menghadirkan masalah.

Dengan begitu, rasa bosan yang ada bisa sedikit dikurangi. Tidak banyak tetapi setidaknya memberikan dinamika dalam kehidupan sebagai orang upahan yang membosankan.

Hasilnya, salah satunya yang ada di atas dimana saya bisa menyajikan Amerika, Belanda, dan Perancis dalam satu foto.

(Foto) Keindahan Pelabuhan Tanjung Benoa Bali


Keindahan itu ada dimana-mana. Selama kita mau membuka mata dan kemudian berusaha mencari sudut pandang yang tepat, maka keindahan itu akan hadir.

Salah satu sudut pelabuhan Tanjung Benoa ini sebagai contoh. Tidak akan terlihat ada sesuatu yang indah dan enak dipandang mata karena pelabuhan itu sibuk dengan mondar-mandirnya para wisatawan yang hendak bepergian dan menggunakan pelabuhan. Juga, tidak ada sesuatu yang istimewa disana selain belasan motorboat dan perahu yang entah menunggu apa atau siapa.

Tetapi, kalau kita menemukan sudut yang "tepat" dan kemudian mengarahkan kamera, keindahan itu akan bisa ditemukan.

Foto di atas adalah buktinya. Kamera tidak berbohong, ia hanya merekam apa yang terlihat melalui jendela bidiknya.

Keindahan itu ada di pelabuhan Tanjung Benoa, Bali. Meskipun bukan pemandangan sekelas satu juta dollar, tetap saja keindahan adalah keindahan yang bisa menenangkan hati dan menyejukkan mata.

Mungkin karena saya adalah seorang penggemar fotografi sehingga terbiasa berusaha menemukan keindahan tersembunyi. Tetapi, rasanya semua orang bisa menemukan hal itu, jika mereka mau berusaha.

Selasa, 12 September 2017

Menjadi Orang Yang Konsisten Itu Susahnya Bukan Main, Ternyata


Bicara mudah, mewujudkannya susahnya bukan main. Kata orang, baik yang pintar atau bodoh, kalau mau maju maka seseorang harus bisa konsisten.

Konsisten dalam artian pantang mundur untuk terus maju walau ribuan hambatan menghadang. Tidak gentar menghadapi hujan badai dan angin untuk mencapai target dan tujuan. Tidak juga berhenti walau ada 10 ribu polisi menghadang.

Mengatakannya.. eh menuliskannya gampang.

Saya bisa menuliskannya 10 ribu kali.

Tetapi hal itu tidak merubah kenyataan bahwa saya belum bisa konsisten di Blog Umum Sekali.

Beberapa waktu yang lalu, saya menetapkan bahwa blog Umum Sekali akan mengandalkan pada kecepatan untuk menerbitkan artikel. Dengan kata lain, saya mentargetkan untuk terus menerus mengeluarkan artikel, baik atau buruk ke dalam blog ini.

Terus menerus yah.

Tetapi kenyataannya, sudah lumayan juga sejak artikel terakhir terbit disini. Adalah hampir sekitar 2 bulanan.

Sesuatu yang menunjukkan sebuah fakta tak terbantahkan, inkonsistensi. Jelas sekali dan pasti.

Memang ada alasannya, seperti saya harus mengelola beberapa blog yang lain, mengurusi RT di lingkungan kompleks, dan masih ada beberapa hal lain yang benar-benar menghambat kegiatan ngeblog saya dan menurunkan produktifitas dalam mengeluarkan tulisan.

Disitulah masalahnya.

Konsistensi lahir bukan karena ada jalan mulus sehingga orang bisa ngebut 200 km perjam. Untuk membangun konsistensi, seseorang sudah pasti akan berhadapan yang namanya masalah.. lha ya wong namanya manusia hidup, masalah itu akan selalu hadir, dicari atau tidak.

Jadi, hambatan itu haruslah dihadapi dan dipecahkan, jika mau konsistensi itu terbangun. Kalau tidak, ya tidak ada yang namanya konsistensi.

Memang, ada banyak hal lain dalam kehidupan kita ini yang terkadang menjadi hambatan, tetapi hal-hal itu seharusnya tidak dijadikan alasan. Kalau dijadikan alasan, maka akan muncul tanpa henti, ribuan alasan lain yang meminta pembenaran dan dianggap lebih penting daripada ngeblog.

Pasti itu.

Tetapi, seharusnya kalau memang berniat untuk konsisten, maka saya harus bisa mengatur waktu agar hambatan itu tidak lagi menjadi hambatan. Hambatan itu harus diatasi. Kalau tidak maka tidak akan lahir yang namanya konsistensi.

Jadi, mau tidak mau harus diakui, di Blog Umum Sekali, saya belum bisa menjadi konsisten. Masih jauh dari itu.

Sebuah masalah yang harus segera diatasi kalau saya mau blog ini hidup dan berkembang.

Rabu, 30 Agustus 2017

Banyak Orang Indonesia Yang Kalah Oleh Kucing Ini

Kata orang, manusia lebih beradab dibandingkan dengan binatang. Kata orang juga hal itu disebabkan karena manusia diberi akal dan pikiran untuk membedakan mana yang salah dan benar.

Sayangnya, entah kenapa setelah melihat video pendek di bawah ini, saya merasa bahwa ribuan, puluhan ribu, atau bahkan jutaan orang Indonesia kalah oleh binatang, seekor kucing.

Coba saja lihat videonya.

 

Coba bandingkan dengan kelakuan orang Indonesia yang seperti foto di bawah ini.


Kucing dalam video tahu kalau warna merah berarti ia dilarang menyeberang dan ia menunggu hingga lampu berwarna hijau. Sesuatu yang diajarkan kepada manusia sejak kecil.

Foto di bawah hanya sebuah cermin bahwa banyak orang Indonesia yang pengetahuannya tentang lalu lintas jauh di bawah kucing dalam video.

Betul kan?

Jumat, 18 Agustus 2017

Jangan Berdiri di Depan Pintu Commuter Line Saat Tiba di Stasiun


Sebuah kebiasaan buruk yang masih dilakukan banyak penumpang Commuter Line adalah berdiri di depan pintu saat kereta memasuki sebuah stasiun padahal mereka tidak berniat turun di stasiun tersebut.

Padahal, tentunya sudah diketahui bersama bahwa fungsi sebuah pintu adalah untuk keluar masuk orang. Dalam hal ini, pintu tersebut akan dipergunakan oleh para penumpang yang hendak naik atau turun di stasiun tersebut.

Dengan berdiri di depan pintu tersebut maka berarti mereka yang hendak naik atau turun akan terhalang. Gerak mereka terhambat.

Memang bisa dimengerti alasan utama banyak yang gemar berdiri di dekat atau bahkan di depan pintu, yaitu agar mudah keluar. Tetapi, hal itu tidak berarti harus membuat susah orang lain.

Bergeserlah ke dalam agar mereka yang naik menjadi lebih leluasa dan yang mau turun juga bisa bergegas menginjak lantai peron.

Kalau tidak, ya resikonya tanggung sendiri. Banyak orang akan menjadikan Anda sebagai target kekesalan mereka yang merasa terhalang. Lebih buruk lagi, Anda bisa terjungkir keluar atau jatuh karena terdesak orang banyak yang sedang terburu-buru, apalagi di saat jam sibuk.

Kebiasaan kecil nan buruk ini haruslah ditiadakan demi kenyamanan bersama dalam menggunakan transportasi umum.

Jangan terlalu khawatir tidak bisa turun dari kereta. Petugas di stasiun tidak akan memberikan tanda berangkat apabila aktifitas di sekitar pintu belum selesai dan pintu belum menutup dengan sempurna.

Beri ruang untuk penumpang yang lain untuk naik atau turun. Dengan begitu pula kita bisa sedikit ebih maju menjadi masyarakat yang lebih beradab.

Iklan Anti Rokok di Bis TransJakarta


Wajar saja kalau banyak pihak di Indonesia khawatir terhadap masalah rokok. Menurut informasi ada sekitar 90 juta orang perokok di negara ini. Sebuah angka yang luar biasa karena disinyalir Indonesia sudah menempati ranking pertama dalam urusan yang satu ini.

Oleh karena itu, wajar juga kalau pemerintah melakukan berbagai daya upaya agar jumlah tersebut tidak terus bertambah. Bagaimanapun, pada akhirnya hal tersebut bisa memberatkan kerja pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang sehat.

Usaha itu nampak karena semakin gencar dilakukan untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya merokok di berbagai tempat. Juga mulai dilakukan aturan yang lebih ketat dalam urusan menghisap asap tembakau ini.

Salah satu upaya yang cukup unik adalah dengan memajang iklan anti rokok pada kaca bis TransJakarta yang bersliweran di ibukota, Jakarta. Kata-kata yang dipilih pun cukup menyentil dan setidaknya bisa mengingatkan orang-orang yang berada di jalan raya.

Unik dan tidak terasa menggurui. Bahkan yang membacanya pun akan tersenyum apalagi diimbangi dengan image atau gambar yang lucu.

Sepertinya Jakarta harus punya lebih banyak iklan seperti ini terpasang di berbagai sarana transportasi yang beroperasi disana.

Selasa, 15 Agustus 2017

Hindari Menanam Pohon Berbatang Keras Ukuran Besar di Lahan Sempit Dekat Jalan atau Selokan


Sekedar saran, bukan memaksa. Tetapi, saran ini berdasarkan pengalaman sendiri dan juga berdasarkan pengamatan terhadap kebiasaan yang dilakukan banyak orang dalam sebuah kompleks perumahan.

Saran itu adalah "hindari menanam pohon berbatang keras ukuran besar di lahan sempit dekat jalan atau selokan".

Biasanya di dalam sebuah komplek perumahan, pengembang akan menyediakan tanah kecil di luar rumah-rumah yang ada untuk dijadikan taman kecil penghias. Posisinya biasanya berdampingan dengan saluran air dan jalan yang dipergunakan untuk lalu lintas penghuni kompleks perumahan itu.

Nah, biasanya pemilik rumah akan menanam pohon berbatang kayu keras untuk menahan sinar matahari langsung agar tidak masuk ke rumah dan sekaligus membuat rumahnya menjadi teduh. Pemikiran logis dan normal karena siapapun ingin agar rumahnya menjadi teduh dan nyaman.

Biasanya yang menjadi pilihan sebagai pohon peneduh adalah jenis-jenis pohon berbatang kayu keras dan tinggi, seperti Bintaro, Mangga, Jambu, hingga Ketapang.

Hasilnya memang bagus, lingkungan menjadi teduh karena ternaungi oleh rindangnya pohonpohon tersebut. Sayangnya TIDAK GRATIS.

Seiring dengan pertumbuhan bagian atas sang pohon yang semakin rimbun, ternyata bagian bawahnya juga mengalami pertumbuhan yang seimbang. Akar pohon berbatang kayu keras ini pun menjalar dan membesar kemana-mana. Sesuatu yang memang sudah kodratnya agar sang pohon tumbuh kokoh.

Sayangnya, dengan lahan sempit yang tersedia, hal itu sangat bertentangan. Akar tersebut tidak bisa lagi dibatasi oleh tembok atau jalan yang membatasi lahan kecil tersebut. Juluran akar mendorong tembok dan lain-lain yang berada di jalur pertumbuhannya.

Akibatnya, tembok beton sekalipun rontok dan rubuh. Jalan pun rusak dan terangkat. Prasarana pun menjadi rusak karenanya. Belum ditambah akarnya pun menjalar masuk ke dalam saluran air dan membentuk bendungan alami yang menghalangi aliran air di selokan.

Padahal biaya untuk perbaikan jalan dan prasarana lumayan besar.

Itulah mengapa sebaiknya tidak menanam pohon kayu berbatang keras di taman kecil dekat jalan. Hal itu akan memberikan dampak yang kurang baik bagi prasarana lingkungan dan harus ditebus dengan biaya perbaikan yang lumayan besar.

Sebaiknya jenis pohon yang ditanam adalah pohon kecil dengan akar yang tidak menjalar dan berukuran besar. Untuk kebaikan bersama.

Jumat, 11 Agustus 2017

Kami Harus Cari Makan Dimana?


Bulan Tertib Trotoar di Jakarta memang membawa berkah bagi para pejalan kaki. Sejak lama hak mereka atas trotoar diabaikan dan dikuasai oleh mereka yang tidak berhak, seperti pemotor dan pedagang kaki lima. Dengan diadakannya penertiban oleh Pemda DKI Jakarta, hak mereka untuk mendapatkan keamanan dan kenyamanan berjalan kaki dikembalikan.

Tetapi, sadar atau tidak disadari, pengembalian "hak" tersebut membuat runyam juga kehidupan beberapa pihak. Ada pihak yang merasa kesusahan akibat penertiban tersebut. Banyak yang mengatakan "Kami harus cari makan dimana?".

Pedagang kaki lima? Sudah pasti. Periuk nasi mereka yang mengandalkan pada berdagang di area yang tidak seharusnya terancam terguling dan tidak bisa terpenuhi. Disebut salah, ya salah karena peraturannya memang tidak diperkenankan berdagang di trotoar. Jadi, memang sudah resikonya.

Tetapi, bukan cuma para PKL yang mengeluarkan kalimat "Kami harus cari makan dimana?". Ada lagi kalangan yang mengeluarkannya, yaitu para karyawan.

Bukan karena mereka kehilangan mata pencaharian. Mereka tetap digaji oleh tempatnya bekerja dan Bulan Tertib Trotoar tidak berpengaruh terhadap penghasilannya. Jauh dari itu.

Mereka mengatakan begitu karena memang mereka mengalami kesulitan "mencari makan". Sudah merupakan hal biasa kalau para karyawan yang bekerja di gedung ber-AC sekalipun akan mencari makan siang di warteg-warteg (warung Tegal) yang banyak bertebaran di trotoar. Belum lagi warung rokok dan warung kopi.

Dengan menghilangnya warung-warung itu, otomatis ketersediaan penjual makanan pun berkurang. Pada akhirnya membuat para karyawan kebingungan karena harus memutar otak mencari penjual makanan. Tidak mudah mengingat di Jakarta kebanyakan penjual makanan beroperasi di area yang tidak semestinya seperti trotoar.

Kabar baik bagi pejalan kaki, kepusingan bagi karyawan, dan tambahan repot bagi para istri karyawan. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus bangun lebih pagi dan menyiapkan bekal makan siang bagi para suaminya.

Untungnya, hal itu sudah saya lakukan sejak pertama kali bekerja, membawa bekal dari rumah. Jadi, bulan tertib trotoar tidak menyebabkan saya harus mengatakan "Kami harus cari makan dimana?". Paling banter, saya hanya bilang "Waduh, susah nyari kopi nih kalo begini"

Tak apalah, demi ketertiban bersama memang harus ada pengorbanan. Enjoy saja.